Mengenang Lagi Tragedi Bintaro Pengubah Nasib Masinis Mbah Slamet

Mengenang Lagi Tragedi Bintaro Pengubah Nasib Masinis Mbah Slamet

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 04 Jun 2026 06:30 WIB
Slamet Suradio (87), masinis kereta api (KA) dalam tragedi Bintaro, berpulang dini hari tadi.
Slamet Suradio (87), masinis kereta api (KA) dalam tragedi Bintaro, berpulang dini hari tadi. Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng
Solo -

Slamet Suradio (87), masinis kereta api (KA) dalam tragedi Bintaro, berpulang kemarin. Jenazah Mbah Slamet yag meninggal di Bekasi lantas dimakamkan di kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah.

Kabar duka tersebut dibenarkan oleh anak bungsunya, Safitri (26). Safitri menyebut, Mbah Slamet meninggal di Cengkareng, Bekasi, pada Rabu (3/6) dini hari tadi. Jenazahnya bakal dibawa pulang ke kampung halamannya di Dusun Krajan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo.

"Ya sakit karena sudah sepuh. Meninggal tadi dini hari sekitar jam 01.00 WIB. Meninggalnya di tempatnya kakak. Saya tahunya dikabari ini tetangga. Nanti dimakamkan di sini," kata Safitri saat ditemui detikJateng di rumah duka, Rabu (3/6/2026) siang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai seorang masinis, kehidupan Mbah Slamet pada masa lalu cukup lumayan. Namun kehidupannya akhirnya berubah saat kereta yang dikemudikan mengalami tabrakan dalam Tragedi Bintaro yang memilukan. Sekadar catatan, kecelakaan itu membawa banyak korban jiwa.

Slamet dinyatakan bersalah dalam kecelakaan itu. Dia dipecat dari pekerjaannya. Tak hanya itu, dia harus dibui selama 5 tahun.

ADVERTISEMENT

Saat keluar dari penjara dia harus kehilangan istrinya yang memilih pergi meninggalkannya. Dia menyambung hidupnya sebagai penjual rokok. Sungguh, tragedi itu telah mengubah hidupnya.

Film Tragedi Bintaro IFilm Tragedi Bintaro I Foto: Istimewa

Tragedi Bintaro

Jauh sebelumnya, tepatnya 39 tahun yang lalu sebuah tragedi mengerikan mengubah jalan hidup seorang Slamet Sudiro. Pria kelahiran 18 Agustus 1939 yang kala itu menjadi masinis KA harus menangung pahitnya tragedi yang menewaskan 156 orang itu.

Dikutip dari detikNews, tragedi itu terjadi pada Senin 19 Oktober 1987 antara dua kereta api KK 225 dan KK 220 yang datang dari berlawanan arah. Kecelakaan mengerikan itu terjadi di antara stasiun Pondok Ranji dan pemakaman Tanah Kusir, dekat SMUN 86 Bintaro Β± Km 18.75. Jaraknya 200 meter setelah perlintasan Pondok Betung, tempat tragedi Bintaro kedua terjadi.

Kala itu, KK 225 dengan masinis Slamet berangkat dari stasiun Sudimara bertabrakan dengan KK 220 Patas yang datang dari stasiun Kebayoran. KA 225 berjalan dengan kecepatan 25km/jam karena baru melewati perlintasan, sedangkan KA 220 berjalan dengan kecepatan 30km/jam.

Dua kereta itu berisi banyak penumpang. Bahkan ada yang berdiri di bagian luar kereta. Kedua kereta hancur, terguling dan ringsek. Posisi kereta bertumbukan 'saling memakan'.

Akibat kejadian ini, tercatat korban jiwa mencapai 156 orang. Sedangkan, ratusan lainnya mengalami luka-luka. Dalam catatan medis kala itu, 70 orang dilaporkan meninggal dunia di tempat kejadian, sebagian lagi tewas dalam perjalanan dan setelah berada di rumah sakit.

Dugaan Penyebab

Berdasarkan hasil penyelidikan usai kecelakaan, terungkap sejumlah fakta-fakta soal tragedi tersebut. Semua berawal dari komunikasi dan koordinasi antar stasiun yang kurang maksimal.

Kesalahan berawal dari Stasiun Serpong yang memberangkatkan KA 225 ke Stasiun Sudimara tanpa mengecek kepenuhan jalur di Sudimara. Di Sudimara, semua jalur sudah penuh.

Lalu, setibanya di Stasiun Sudimara, kepala stasiun memerintahkan juru langsir untuk melangsir KA 225 masuk ke jalur 3. Namun masinis tidak dapat melihat semboyan, kemudian dia bertanya pada penumpang "berangkat?" kata penumpang "berangkat!". Sang masinis pun melaju.

Juru langsir kaget dan sempat mengejar kereta hingga naik ke gerbong belakang. Beberapa lainnya bahkan ada yang mengejar kereta naik sepeda motor. Namun tak berhasil. Semboyan gentar darurat sempat dinyalakan untuk penjaga perlintasan Pondok Betung, tapi kereta tetap melaju.

Sementara KA 220 dari Kebayoran juga diberangkatkan. Masing-masing memiliki kecepatan 25 km/jam dan 30 km/jam. Tabrakan pun tak terhindarkan.

Slamet Divonis 5 Tahun Penjara

Akibat kejadian ini, masinis KA 225 Slamet Suradio diganjar 5 tahun bui. Ia juga harus kehilangan pekerjaan dan uang pensiun. Akhirnya ia memilih pulang ke kampung dan menjadi petani. Kabar terakhir, dia kini berjualan rokok. Padahal sebelumnya dia sudah bekerja 20 tahun.

Lalu, kondektur KA 225 Adung Syafei mendapat hukuman penjara 2,5 tahun. Sementara Umrihadi, PPKA Kebayoran Lama dipenjara 10 bulan.

Setelah insiden ini, semua media massa menyoroti perkeretaapian Indonesia. Termasuk dari pihak luar negeri. Lagu-lagu diciptakan untuk mengenang para korban.

Hingga akhirnya dibangunlah jalur ganda antara stasiun Tanah Abang hingga Serpong untuk menghindari benturan adu banteng. Pembangunan baru terlaksana tahun 2007.

Untuk kelancaran komunikasi, pihak PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api, kini PT KAI, red) kemudian melakukan instalasi dan perluasan sistem radio.




(apl/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads