Masinis Mbah Slamet Jualan Rokok Usai Dibui Terkait Tragedi Bintaro 1987

Masinis Mbah Slamet Jualan Rokok Usai Dibui Terkait Tragedi Bintaro 1987

Rinto Heksantoro - detikJateng
Rabu, 03 Jun 2026 16:16 WIB
Jenazah masinis KA di Tragedi Bintaro, Slamet Suradio (87), tiba di rumah duka, Rabu (3/6/2026) siang.
Rumah duka masinis KA Tragedi Bintaro, Slamet Suradio (87), Rabu (3/6/2026) siang.Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng
Purworejo -

Masinis penyintas tragedi Bintaro, Slamet Suradio (87) meninggal dunia dini hari tadi di Bekasi. Jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya di Purworejo. Semasa hidupnya, ia pernah dibui 5 tahun karena dianggap bersalah dalam tragedi itu. Usai dibui, ia sempat jualan rokok eceran di Stasiun Kutoarjo.

Kisah pilu pria kelahiran 18 Agustus 1939 itu diceritakan oleh tetangga dekatnya, Basori (72). Ia tinggal di sebelah barat rumah Mbah Slamet di Dusun Krajan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo.

Diketahui, Slamet Suradio adalah masinis KA 225 rute Rangkasbitung-Tanah Abang yang bertabrakan dengan KA 220 Patas Merak di daerah Pondok Betung, Bintaro, pada 19 Oktober 1987. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan Tragedi Bintaro 1987. Insiden tragis akibat salah komunikasi persilangan antarstasiun tersebut menewaskan lebih dari 130 orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski Slamet selalu menegaskan dirinya tidak bersalah dan telah menjalankan kereta sesuai prosedur, namun pengadilan memvonis ia bersalah. Slamet kemudian dijebloskan ke penjara selama 5 tahun hingga dipecat dari PJKA atau sekarang PT KAI, tanpa menerima uang pensiun atau pesangon.

"Setelah kejadian dihukum 5 tahun. Jadi setelah halangan itu (Tragedi Bintaro), Mbah Slamet itu dirawat di rumah sakit. Setelah boleh pulang dari rumah sakit itu ada yang jemput dan katanya mau dianterin pulang tapi ternyata dimasukkan penjara, dipecat dari kereta api. Itu ceritanya Mbah Slamet," kata Basori kepada detikJateng, Rabu (3/6/2026) siang.

ADVERTISEMENT

Setelah bebas dari penjara, kehidupan Slamet berubah drastis termasuk ditinggal oleh sang istri. Namun, ia akhirnya menikah lagi dengan wanita pilihannya.

"Waktu itu dihukum sudah punya istri. Pas keluar penjara pulang selesai hukuman, pulang kampung ke Purworejo itu istrinya sudah dibawa orang. Terus Mbah Slamet juga sudah menikah lagi dengan Tuginem (63) sampai sekarang," imbuhnya.

Untuk menyambung hidup di kampung halaman, ia bahkan sampai berjualan rokok eceran di Stasiun Kutoarjo selama bertahun-tahun. Ia berhenti berjualan rokok semenjak mendapatkan bantuan warung dari salah satu komunitas sehingga cukup berjualan di rumah.

"Setelah pulang, terus Mbah Slamet jualan rokok di Stasiun Kutoarjo, rokok eceran. Baru berhenti jualan rokok itu sekitar 5 tahun lalu karena sudah ada warung di rumah, bantuan dari komunitas," sebutnya.

Kini, Mbah Slamet telah tutup usia pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 01.00 WIB di Bekasi. Ia meninggalkan istri, empat anak dan empat cucu. Setelah diantar melalui perjalanan darat, jenazah Mbah Slamet akhirnya tiba di rumah duka sekitar pukul 13.30 WIB.

Isak tangis keluarga dan kerabat korban pun pecah menyambut kedatangan Mbah Slamet. Jenazahnya kemudian dimakamkan di kampung halamannya di Dusun Krajan, Desa Giintungan, Purworejo, siang tadi.

"Ya sakit karena sudah sepuh. Meninggal tadi dini hari sekitar jam 01.00 WIB. Meninggalnya di tempatnya kakak. Terus dimakamkan di sini (Desa Gintungan Purworejo)," kata anak bungsunya, Safitri (26) yang sebelumnya sempat pingsan saat tak kuasa menahan kesedihan.




(alg/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads