Warga Antusias Saksikan Kirab Waisak dari Candi Mendut ke Candi Borobudur

Warga Antusias Saksikan Kirab Waisak dari Candi Mendut ke Candi Borobudur

Eko Susanto - detikJateng
Minggu, 31 Mei 2026 12:59 WIB
Suasana prosesi kirab Waisak yang berlangsung dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (31/5/2026).
Suasana prosesi kirab Waisak yang berlangsung dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (31/5/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng
Magelang -

Ribuan umat Buddha mengikuti kirab dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Sepanjang rute kirab yang dilalui warga menonton jalannya kirab.

Pantauan detikJateng sekitar pukul 10.45 WIB, rombongan kirab mulai melewati kawasan kolam renang Mendut. Urutan paling depan drumband, kemudian diiringi Bendera Merah Putih.

Kemudian mobil yang dinaiki para biksu. Para biksu ini memberikan air berkat (blessing) kepada umat maupun warga yang melihatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kirab ini juga dibawa api dharma dan air suci. Yang nantinya dibawa menuju altar di Candi Borobudur.

ADVERTISEMENT

Terus ada juga rombongan mobil hias. Berikutnya, barisan para biksu yang dan di belakang sendiri ribuan umat.

Suasana prosesi kirab Waisak yang berlangsung dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (31/5/2026).Suasana prosesi kirab Waisak yang berlangsung dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (31/5/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng

Para umat mayoritas memakai baju warna putih. Selain itu, membawa bunga sedap malam.

Sepanjang rute yang dilalui kirab meliputi Jalan Mayor Kusen, Jalan Balaputradewa hingga Candi Borobudur, warga antusias menyaksikan. Warga melihat jalannya kirab di pinggir baik sisi kanan dan kiri.

"Kami kebetulan sedang liburan di rumah mbah di Muntilan. Terus dikasih tahu kalau ada kirab, sekalian menonton," kata Arif Dwi Nugroho (34), warga Kota Semarang kepada wartawan di Simpang Karet Mendut, Minggu (31/5/2026).

"Ini sekalian momong. Anak-anak senang," ujarnya.

Ungkapan senada disampaikan Wiwik Winarti (37), warga Kota Magelang. "Tadi kebetulan lewat mau ke Palbapang, tapi macet. Sekalian nonton," kata Wiwik.

Ia sendiri dulu pernah melihat jalannya kirab Waisak dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

"Ini momong, ya suka (ada kirab)," kata dia.

Sementara itu, Biksu Dwiwiya Savhira dari Majelis Mahayana Tanah Suci Indonesia mengatakan, api abadi dan air suci setelah disemayamkan di Candi Mendut dibawa ke Candi Borobudur.

"Dibawa ke Borobudur sebagai bentuk persembahan. Kirab menuju Candi Borobudur," katanya.

"Kirab melambangkan sebagai proses perjalanan hidup (makna kirab). Jadi dalam perjalanan hidup, kita harus penuh mengalami liku-liku kehidupan. Karena itulah persembahan-persembahan yang ada di altar sebagai simbol bekal kita," lanjutnya.

Sedangkan Ketua DPD Walubi Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, menambahkan dalam kirab iring-iringan yang pertama drumband, pembawa Bendera Merah Putih, bendera Buddhis, bendera Walubi terus bendera masing-masing majelis.

"Yang pertama drumband, pembawa Bendera Merah Putih, bendera Buddhis, bendera Walubi. Terus diiringi mobil hias dan barisan dari umat-umat," kata Tanto.

Umat Buddha setelah sampai Candi Borobudur masuk melalui pintu 7. Kemudian, api dharma dan air suci dibawa menuju altar untuk perayaan Tri Suci Waisak. Adapun untuk detik-detik Waisak jatuh pada pukul 15.44.44 WIB.



(apu/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads