Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak sapi kembali ditemukan di Boyolali. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, mencatat ada 51 kasus mulai Januari hingga Mei 2026 ini. Lonjakan lalu lintas ternak jelang Idul Adha disebut menjadi pemicu meningkatnya kasus ini.
"Nggih (Iya), ada peningkatan," kata Plt Kepala Disnakan Boyolali, Ahmad Gojali, membenarkan adanya peningkatan kasus PMK, dikonfirmasi wartawan Senin (25/5/2026).
Dikemukakan Gojali, tingginya perdagangan hewan ternak jelang perayaan Idul Adha atau Hari Raya Kurban, baik di pasar hewan maupun secara online, membuat lalu lintas ternak yang keluar-masuk Boyolali, meningkat tajam. Awal tahun 2026, merupakan peak season bagi peternak menyiapkan hewan ternak yang akan dijual untuk kurban jelang Idul Adha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, tingginya lalu lintas ternak terjadi pada 3-4 bulan menjelang Idul Kurban. Peningkatan lalu lintas ternak itu diduga menjadi penyebab meningkatnya kasus PMK di Boyolali.
"Tingginya lalu lintas ternak 3-4 bulan menjelang Hari Raya Kurban dapat menyebabkan peningkatan kejadian kasus PMK," katanya.
Dijelaskan dia, sejauh ini kasus PMK pada hewan ternak khususnya sapi itu ditemukan di 7 wilayah kecamatan. Hanya saja dia tak menyebutkan 7 kecamatan tersebut.
"Sudah langsung ditangani petugas. Peternak yang melapor melalui hotline servis Keswan akan segera ditangani dan dipantau perkembangannya," ujar Gojali.
Agar PMK tak semakin merebak, lanjut dia, Disnakan Boyolali telah melakukan upaya pencegahan yakni dengan vaksinasi bai hewan ternak yang masih sehat. Per tanggal 19 mei 2026, Disnakan telah melakukan vaksinasi PMK ke hewan ternak masyarakat sebanyak 13.500 dosis.
"Kegiatan vaksinasi ini masih tetap berlanjut sampai hari ini," jelas Gojali.
Vaksinasi PMK rutin dilakukan setahun dua kali untuk revaksinasi dan booster. Tahun ini ditargetkan 35 dosis vaksin PMK dapat isuntikkan ke ternak milik masyarakat Boyolali.
Tak hanya itu, ditambahkan dia, pengawasan lalu lintas ternak di pasar hewan juga diperketat dengan melibatkan petugas Disnakkan dan UPT Puskeswan di masing-masing wilayah.
Petugas memeriksa kesehatan fisik, uji laboratorium, dan riwayat vaksinasi. Hewan yang lolos akan mendapat SKKH yang diterbitkan Dokter Hewan Berwenang dan diketahui Pejabat Otoritas Veteriner, keduanya memiliki SK dari Bupati Boyolali.
Sosialisasi dan KIE juga terus dilakukan melalui leaflet di pasar hewan serta media sosial Disnakan Boyolali. Menurut dia, jika dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi tahun ini lebih terkendali. Saat itu terjadi serangan PMK kedua setelah 2022 dengan 452 kasus di 16 kecamatan dan 151 ekor ternak mati.
"Insyaallah untuk tahun ini lebih terkendali, karena kebanyakan ternak kita sudah divaksin sampai dengan booster," tutupnya.
(aku/ahr)
