Amerika Serikat (AS) mengawali proyek kebebasan atau project freedom di Selat Hormuz dengan menyerang tujuh kapal cepat Iran di Selat Hormuz menggunakan helikopter.
Dilansir detikNews dari BBC, Selasa (5/5), project freedom ini adalah upaya Washington memandu kapal-kapal dari Teluk melalui Selat Hormuz.
"Kami telah menembak tujuh kapal kecil atau, seperti yang mereka sebut, 'kapal cepat'. Itu saja yang mereka miliki," kata Presiden AS, Donald Trump.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, media pemerintah Iran membantah serangan ini. Kantor berita Tasnim yang mengutip sumber militer melaporkan bahwa dua kapal kargo kecil yang terkena serangan. Lima warga sipil tewas dalam serangan itu.
Diketahui, beberapa waktu lalu Trump sudah membocorkan soal proyek ini. Saat itu Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal-kapal yang terdampar di perairan Teluk agar bisa keluar dengan melintasi Selat Hormuz pada Senin (4/5). Kapal-kapal itu terdampar sejak Iran memblokir jalur perairan itu pada awal konflik pada Februari lalu.
Senin (4/5) kemarin, perusahaan pelayaran Maersk mengatakan kapal berbendera AS, Alliance Fairfax, yang terdampar di Teluk sejak akhir Februari, telah keluar dari Selat Hormuz. Perusahaan itu mengatakan telah dihubungi pihak AS yang "menawarkan kesempatan bagi kapal tersebut untuk keluar dari Teluk dengan perlindungan militer AS".
"Kapal tersebut kemudian keluar dari Teluk Persia ditemani oleh aset militer AS tanpa insiden, dan semua awak kapal selamat serta tidak terluka", sebut Maersk.
Tapi tidak semua kapal di perairan Teluk aman dari ancaman. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab melaporkan satu kapal tanker milik Adnoc, perusahaan minyak negara itu, terkena serangan di Selat Hormuz. Korea Selatan juga melaporkan ledakan di salah satu kapal mereka yang berlabuh di dekat UEA.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa peristiwa di selat tersebut "menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik".
"Proyek kebebasan adalah proyek kebuntuan," sambung Araghchi. Militer Iran juga mengatakan akan menyerang pasukan AS jika mereka memasuki Selat Hormuz.
Operasi Libatkan 15 Ribu Personel
Menurut Centcom, operasi AS ini akan melibatkan 15.000 personel, kapal perusak bersenjata rudal kendali dan lebih dari 100 pesawat.
Trump dalam unggahannya di media sosial mengatakan "negara-negara dari seluruh dunia" telah meminta AS apakah mereka dapat membantu membebaskan kapal-kapal tersebut, yang ia gambarkan sebagai "sekadar pihak netral yang tidak bersalah".
Dia juga mengatakan bahwa perwakilan AS tengah mengadakan pembicaraan yang "sangat positif" dengan Iran, dan bahwa pembicaraan tersebut "dapat mengarah pada sesuatu yang sangat positif bagi semua pihak".
Diketahui, blokade Iran terhadap selat tersebut telah menyebabkan harga bahan bakar naik secara global karena sebagian besar minyak dunia tidak lagi dapat melewati rute tersebut. Sekitar 20% dari minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati Selat Hormuz.
Diperkirakan 20.000 pelaut telah terjebak di Teluk sejak dimulainya perang dengan Iran. Pasokan logistik mereka semakin tipis. Dampak perang dikhawatirkan akan berakibat buruk terhadap kesehatan fisik dan mental para pelaut.
United Kingdom Maritime Transportation Operation (UKMTO) pada Minggu (3/5) melaporkan bahwa sebuah tanker telah terkena "proyektil yang tidak diketahui" di selat tersebut. Awak tanker itu dalam keadaan selamat.
Iran Ancam Serang Tentara AS
Kepala komando pusat Iran menyatakan pihaknya akan menyerang "setiap kekuatan bersenjata asing" yang mencoba mendekati atau memasuki selat itu, "terutama tentara AS yang agresif".
Mayor Jenderal Ali Abdollahi mengatakan Iran telah "berulang kali" menegaskan bahwa selat tersebut "berada di bawah kendali" angkatan bersenjata Iran. Sedangkan pelayaran melalui Selat Hormuz harus dikoordinasikan dengan Iran "dalam segala keadaan".
Operasi "Projet Freedom" diambil ketika kedua negara masih berada di bawah gencatan senjata sementara, yang dimulai pada 8 April, dan saat mereka berupaya menyepakati rencana perdamaian permanen.
Anggota parlemen senior Iran Ebrahim Azizi, mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, menulis di media sosial bahwa "setiap campur tangan Amerika" akan "dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata".
Sebelumnya, Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata karena memblokade pelabuhannya. Pada akhir April, juru runding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa blokade tersebut sama dengan menyandera perekonomian global.
Baca juga: AS Mulai Project Freedom Selat Hormuz |
(dil/apu)
