Pilu Martini Lapaknya di Pasar Kanjengan Semarang Ludes Terbakar

Pilu Martini Lapaknya di Pasar Kanjengan Semarang Ludes Terbakar

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Kamis, 30 Apr 2026 14:44 WIB
Murtini salah satu pedagang di Pasar Kanjengan Semarang yang terbakar, Kamis (30/4/2026).
Murtini salah satu pedagang di Pasar Kanjengan Semarang yang terbakar, Kamis (30/4/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Pedagang bernama Murtini di Pasar Kanjengan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, hanya terpaku melihat lapaknya di Pasar Kanjengan hangus tak bersisa. Selama tujuh tahun dia menggantungkan hidup dengan membuka lapak perlengkapan salat di pasar tersebut.

Murtini pun hanya termangu melihat kiosnya yang hangus dengan barang dagangan yang sudah menjadi arang. Di kompleks pasar ini, tercium bau kayu maupun dagangan yang terbakar. Tampak asap tipis masih mengepul dari tumpukan barang yang masih menyala.

Area di dalam Pasar Kanjengan pun masih terasa sedikit hangat. Pada Rabu (29/4) malam, api menyala tak terkendali menghanguskan seisi Pasar Kanjengan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Murtini hanya menumpukan kedua tangannya di atas sebuah bekas gantungan pakaian. Sesekali Murtini mengobrol dengan pedagang lainnya.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, pandangannya menyapu bekas kompleks pasar yang kini hangus terbakar. Matanya berkaca-kaca kehilangan sumber pendapatannya.

"Saya itu pindahan dari Berok (ke Pasar Kanjengan). Total yen (kalau) 30 tahun ada (berjualan). Di sini baru 7 tahun (melapak)," ungkap Murtini saat ditemui detikJateng di kiosnya yang terbakar, Kamis (3/4/2026).

Murtini mengaku tak menyangka Rabu (29/4) menjadi kenangan pahit baginya. Dia mengaku tak punya firasat apapun soal bakal kehilangan lapaknya.

"Hari Minggu kula (saya) jual ke Masjid Agung. Kulo nggih mboten nanten (tidak ada) firasat nopo-nopo (apa-apa)," katanya lirih.

"Terus malem itu kan hari Rabu malam itu, saya dibel (ditelepon) teman. Tak kirain, yo, cuma iseng, wong masih jam 23.00 WIB, tidak saya angkat. Terus yang kedua Mak Iyah, orang tua di rumah sana, (telepon) terus saya angkat, 'Nduk, nganu tangi o Nduk. Nganu pasarmu kobong' (bangun, pasarmu kebakaran)," ungkap Murtini.

Mendengar kabar kiosnya kebakaran, wanita tersebut langsung menuju Pasar Kanjengan. Berbekal sebuah karung, ibu satu anak ini menaruh harapan bisa menyelamatkan barang dagangannya.

"Langsung saya ngoplok itu Mas. Saya diantar mantu sama anak saya yang pertama. Sini sudah saya bawa karung dari rumah batin 'tak selamatke'," katanya.

Dia sempat dihadang polisi yang berjaga. Namun, saat polisi tahu dia merupakan pedagang Pasar Kanjengan, Murtini pun disilakan menuju lokasi kebakaran. Namun, takdir berkata lain. Api sudah membakar seisi pasar.

"Tapi ini sudah dipenggak (dihalangi) sama polisi di situ banyak. Wah, sudah, api sudah semua (membakar seisi pasar). Saya lemas duduk di situ," ucapnya lemas.

Usaha yang dibangunnya selama 7 tahun di Pasar Kanjengan itu hangus dalam semalam. Lapak perlengkapan salat tersebut merupakan penghasilan satu-satunya bagi Murtini, meski dia hidup satu atap dengan anaknya yang telah berkeluarga.

"Cuma ini punya saya," sebutnya sembari menahan tangis.

Murtini tidak bisa mengkalkulasi total kerugiannya. Dia hanya menghitung biaya pembangunan kios.

"Yo yen sak plok (semua kerugian bangunan) Rp 10 juta," ucapnya.

Murtini pun tak bisa berkata-kata ketika ditanya soal harapannya. Dia pun mengiyakan saat ditanya soal peluang relokasi, namun dia berharap tidak dipungut bayaran.

"(Mau direlokasi?) Mudah-mudahan, saya kan bisanya jualan. Kalau masih dapat saya terima kasih tapi jangan bayar kalau bisa. Masalahnya sudah tidak ada buat bayar," ujar dia sembari terisak.

"Kalau bisa ya kasih tempat itu pasti. Kemudian kalau mendapat bantuan bisa buat kulakan lagi," lanjutnya dengan penuh harap.




(ams/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads