Ada yang berbeda pada momen rangkaian Perayaan Tri Suci Waisak 2570/2026. Pasalnya, tidak ada momen Thudong, atau para bhikkhu (biksu) berjalan dari Thailand menuju Candi Borobudur.
Sebagai gantinya, panitia Waisak 2026 menghelat Indonesia Walk For Peace, di mana 50 biksu akan berjalan dari Bali menuju Candi Borobudur.
Indonesia Walk For Peace 2026 ini bakal mengambil start di Brahmavihara Arama Buleleng, Bali. Yang direncanakan start dimulai pada tanggal 9 Mei 2026. Kemudian direncanakan sampai di Candi Borobudur pada 28 Mei 2026.
Pembina Acara Indonesia Walk For Peace 2026, Romo Wawan, mengungkap alasannya. Ia menjelaskan komunitas Buddha di Malaysia tidak bisa membantu dalam pelaksanaan Thudong tahun ini.
"(Bukan Thudong) Untuk tahun ini karena di Malaysia itu rajanya kan sekarang melirik perkembangan agama Buddha di Malaysia. Dia mengikuti kegiatan Waisak selama satu bulan. Jadi teman-teman saya yang di Malaysia itu, Young Buddhist Association of Malaysia, itu tidak bisa membantu untuk mengawal atau intinya tidak bisa membantu untuk acara tahun ini. Tapi untuk tahun 2027, teman-teman bisa membantu (thudong)," kata Romo Wawan saat dihubungi detikJateng, Jumat (24/4/2026).
"(Biasanya Thudong) Iya, nggih. Jadi untuk tahun ini, tidak lewat Thailand, Malaysia, Singapura. Untuk tahun depan mungkin kita akan adakan kembali, tapi lewat Malaysia juga," sambung Wawan.
Wawan melanjutkan, pihaknya sengaja memilih tema 'Walk For Peace' karena terinspirasi dari para bhante di Amerika Serikat.
"Thudong ini kan berasal dari Bahasa Thailand artinya jalan. Kalau di bahasa Inggrisnya kan Walk for Peace. Karena sekarang lagi viral Bhante melakukan perjalanan di Amerika dengan pakai nama Walk for Peace. Nah kita di Indonesia juga, kita sama-sama memakai Bahasa Inggris. Jadi Indonesia Walk for Peace 2026. Temanya semua sama untuk perdamaian," jelas Wawan.
Ia menerangkan, para bhante yang berjumlah 50 orang ditambah satu umat Buddha dari Thailand bakal berkumpul di Bali pada 7 Mei. Kemudian, mereka akan memulai perjalanan pada Sabtu (9/5).
"Tanggal 9 Mei, pagi-pagi kita akan melakukan makan pagi setelah itu baru pelepasan. Ya kemungkinan akan dilepas oleh Pak Dirjen Bimas Agama Buddha, Pak Supriyadi sama Bupati Buleleng dan bupati daerah Singaraja kalau nggak salah," ucap Wawan.
Setelah itu, perjalanan dengan finis di Vihara Empu Astapaka, pada Minggu (10/5). Di Vihara tersebut para bhante bakal istirahat, kemudian paginya perjalanan dari vihara menuju pelabuhan untuk melakukan penyeberangan dengan kapal feri, Senin (11/5).
"Di kapal itu nanti pas waktu di Selat Bali, kita akan melakukan pembacaan paritta untuk para korban tragedi yang meninggal di Selat Bali. Jadi kita akan tabur bunga dan baca paritta," bebernya.
(apu/alg)