SPPG Karangharjo Rembang Disetop Sementara Buntut Dugaan Keracunan MBG

SPPG Karangharjo Rembang Disetop Sementara Buntut Dugaan Keracunan MBG

Mukhammad Fadlil - detikJateng
Rabu, 22 Apr 2026 15:15 WIB
22 Siswa SD Balongmulyo, Kragan, Rembang diduga keracunan usai santap MBG, Selasa (21/4/2025).
22 Siswa SD Balongmulyo, Kragan, Rembang diduga keracunan usai santap MBG, Selasa (21/4/2025). (Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng)
Rembang -

Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangharjo, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, dihentikan sementara menyusul dugaan kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Penghentian tersebut tertuang dalam surat Badan Gizi Nasional (BGN) bernomor 1845/D.TWS/04/2026 tertanggal 22 April 2026. Keputusan diambil setelah muncul laporan dugaan gangguan pencernaan pada penerima manfaat MBG di wilayah Kragan.

Surat tersebut menerangkan dari hasil tinjauan lapangan, SPPG Karangharjo diduga belum memenuhi standar kelayakan. Temuan itu meliputi aspek infrastruktur, sarana prasarana, hingga tata letak (layout) yang belum sesuai petunjuk teknis BGN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pertimbangannya, BGN menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap kualitas produksi, mutu gizi, dan keamanan pangan. Karena itu, operasional SPPG dihentikan sementara sejak surat diterbitkan. Penyaluran dana bantuan pemerintah untuk SPPG tersebut juga direkomendasikan dihentikan sementara.

ADVERTISEMENT

BGN menyatakan, penghentian operasional hanya dapat dicabut setelah pihak SPPG memenuhi seluruh persyaratan dan lolos verifikasi dari otoritas terkait.

Sementara itu, Camat Kragan Nasaton Rofiq membenarkan penghentian sementara operasional SPPG Karangharjo. Ia menyebut pihak pengelola membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk memperbaiki sejumlah kekurangan.

"Iya benar, berhenti operasional sementara. Sampai 2 mingguan. Ada standar kelayakan dalam SPPG itu yang kurang pas. Apakah itu syarat kelayakan higienis atau IPAL-nya. Saya komunikasi sama SPPG tadi bilang butuh waktu dua minggu untuk memperbaiki apa yang dipersyratkan oleh BGN itu," terang Rofiq saat dimintai konfirmasi detikJateng hari ini.

Ia menambahkan, penghentian operasional kemungkinan berdampak pada penerima manfaat MBG di wilayah tersebut.

"Iya kemungkinan penerima manfaat juga ikut berhenti. Karena masing-masing SPPG tidak boleh melayani lebih dari tiga ribu. Dan rata-rata SPPG di Kragan sudah melayani hampir tiga ribu," sambungnya.

Di sisi lain, kondisi para siswa yang diduga terdampak keracunan mulai membaik. Kepala Puskesmas Kragan II dr. Arif Rahman Hakim mengatakan saat ini hanya tersisa satu pasien yang masih menjalani perawatan.

"Masih ada satu pasien yang dirawat karena demam, namanya Adhifa. Kondisinya sudah stabil, tanda-tanda vitalnya baik, hanya suhu tubuh yang masih kami pantau," jawab Arif saat ditanya detikJateng hari ini.

Ia menambahkan, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium.

"Hasil pemeriksaan sampel sisa makanan MBG dan muntahan pasien masih kami tunggu dari laboratorium. Perkiraan dua sampai tiga hari hasilnya keluar," pungkasnya.




(aku/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads