Supardi (43) warga Dukuh Tandan RT 02 RW 07, Desa Kopen, Jatipurno, Wonogiri, membangun rumah impiannya dengan desain unik mirip bus double decker atau bus tingkat. Mantan kuli bangunan ini mengaku ingin tampil beda.
Supardi mengatakan, dia terinspirasi oleh bus jenis Scania K-410 seperti milik Perusahaan Otobus (PO) Agramas. Bermodal mainan atau miniatur bus skala 1:20, dia bertekad membangun rumahnya semirip mungkin dengan bus itu, dengan ukuran yang telah disesuaikan.
"Di depan ada tulisan BG, itu saya Supardi yang biasa dipanggil Bangong. Tulisan BG 02 itu artinya RT 02, kalau BG 07 itu RW 07. Pelat nomornya ada tulisan B490NG, itu bisa diartikan Bagong atau bisa juga nomor seri," kata Supardi saat ditemui detikJateng di rumahnya, Selasa (21/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Supardi awalnya tinggal bersama mertuanya. Rumah mertuanya berada di belakang rumah baru Supardi, hanya berselang beberapa rumah saja. Singkat cerita, ia membeli lahan milik saudaranya dan memutuskan untuk membangun rumah sendiri.
Rumah berbentuk bus di Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Selasa (21/4/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng |
Ide membuat rumah berbentuk bus itu muncul sekira satu tahun lalu. Alasannya, ia sering naik bus ketika berangkat merantau ke Jakarta. Sering naik bus membuatnya jatuh hati pada moda transportasi publik tersebut.
"Belum ada setahun ini (ide membuat rumah berbentuk bus). Saya beli tanah dan coba saya sesuaikan. Kalau saya bikin yang biasa-biasa saja kok nggak ada sensasinya. Jadi saya ingin tampil beda," ucapnya.
Supardi dulu merantau ke Jakarta menjadi pemborong. Awalnya, dia bekerja sebagai kuli bangunan setelah lulus SMP. Berkat kegigihan kerja dan kemauan kuatnya untuk belajar, dia kemudian beranjak menjadi tukang, lalu jadi mandor, hingga puncaknya menjadi pemborong.
"Saya di Jakarta jadi pemborong, sejak tahun 2004. Seringnya di Jakarta mengerjakan proyek pribadi, seperti rumah," ungkapnya.
Saat pandemi COVID-19, dia memutuskan pulang ke kampung halaman dan mencoba usaha lain. Dia sempat membuka warung mi ayam dan bakso di desanya, namun hanya bertahan 2 tahun.
"Sebelum Corona itu saya murni perantauan. Saat Corona saya di rumah usaha mi ayam dan bakso di rumah saya. Bakso dan mi ayam cuma dua tahun, sekarang sudah tutup. Setelah Corona kalau ada panggilan (kerja) di proyek saya merantau lagi," jelasnya.
Di kampung, Supardi dipercaya sebagai ketua RT. Sekarang dia bekerja lebih fleksibel alias tidak hanya mengerjakan proyek di Jakarta.
Latar belakangnya di bidang pertukangan membuat Supardi berani membuat konsep rumah yang unik. Rumah itu ia bangun selama 6 minggu dengan dibantu 6 tukang. Sebelum lebaran, dia sudah menempati rumah barunya yang belakangan ini jadi viral di media sosial.
(dil/dil)

