Panasnya suhu udara di GOR Jatidiri menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain yang tampil dalam putaran ketiga Final Four Proliga 2026 seri Semarang. Mereka tak hanya diuji kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan fisik menghadapi kondisi lapangan yang terasa gerah.
Suhu tinggi di dalam arena bahkan dikeluhkan langsung oleh para pelaku pertandingan. Pemain Jakarta Bhayangkara Presisi, Nizar Julfikar, secara blak-blakan menggambarkan kondisi tersebut usai laga kontra Surabaya Samator.
"GOR-nya panas pol," ujarnya dalam keterangan yang diterima detikJateng, Sabtu (18/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluhan serupa datang dari pelatih Jakarta Pertamina Enduro, Bulent Karslioglu. Ia menilai sistem pendingin di GOR Jatidiri belum optimal, sehingga berdampak pada ritme permainan tim.
"Panas sekali, pendinginnya kurang maksimal. Di tempat lain biasanya tersebar di banyak sisi, tapi di sini hanya beberapa titik saja," ungkapnya.
Menurut Bulent, kondisi tersebut membuat tempo pertandingan cenderung melambat. Pemain kerap harus berhenti sejenak untuk mengelap keringat, sehingga mengganggu alur permainan.
Ia pun menyayangkan situasi ini karena beberapa pemain tidak bisa menunjukkan performa terbaiknya di lapangan.
"Ada pemain kelas dunia yang harus terus mengelap keringat karena kepanasan. Itu jelas mempengaruhi permainan. Harusnya mereka bisa tampil maksimal," tambahnya.
Harapan pun disampaikan agar kondisi serupa tidak terulang pada laga puncak di Jogja. Bulent berharap fasilitas venue berikutnya dapat mendukung performa pemain secara optimal.
"Semoga di Jogja nanti kondisinya lebih baik," pungkasnya.
