7 Contoh Khutbah Idul Fitri 2026 Menyentuh Hati dan Membuat Jemaah Menangis

7 Contoh Khutbah Idul Fitri 2026 Menyentuh Hati dan Membuat Jemaah Menangis

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Selasa, 17 Mar 2026 17:41 WIB
Ilustrasi Khutbah Idul Fitri
Ilustrasi Khutbah Idul Fitri (Foto: Imam Hassan/Unsplash)
Solo -

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, momen khutbah menjadi salah satu bagian penting yang dinantikan oleh umat Islam. Tidak hanya sebagai rangkaian ibadah, khutbah Idul Fitri juga menjadi sarana menyampaikan pesan-pesan keimanan, refleksi diri, serta penguatan nilai-nilai kebaikan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah Ramadan.

Khutbah yang disampaikan dengan penuh ketulusan dan makna sering kali mampu menyentuh hati para jemaah. Isi yang mengingatkan tentang perjuangan selama Ramadan, pentingnya menjaga ketakwaan, hingga ajakan untuk berbakti kepada orang tua dan mempererat silaturahmi, kerap menghadirkan suasana haru bahkan membuat jemaah meneteskan air mata.

Berikut ini tujuh contoh khutbah Idul Fitri 2026 yang menyentuh hati dan dapat menjadi referensi bagi khatib untuk menyampaikan pesan yang mendalam serta membekas di hati para jemaah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Contoh Khutbah Idul Fitri 2026

Berikut adalah contoh khutbah Idul Fitri 2026 yang bisa dijadikan referensi bagi detikers yang bertindak sebagai khatib. Khutbah berikut dirangkum dari laman NU Online, Majelis Ulama Indonesia, dan Muhammadiyah.

ADVERTISEMENT

Khutbah Idul Fitri #1: Kembali Suci dengan Ampunan Ilahi dan Silaturahmi

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Pagi ini, cahaya matahari dan alunan takbir membelah langit yang tinggi. Mengiringi syukur yang mengalir deras dari dalam sanubari. Hari ini, alam semesta bertasbih. Menyaksikan wajah-wajah yang berseri nan bersih, setelah satu bulan berpuasa karena Allah, tanpa pamrih.

Setelah satu bulan penuh kita tempuh jalan kesabaran, kini tibalah saatnya kita merayakan kemenangan dan keberkahan. Teriring kalimat doa:

جَعَلَنَا اللَّهُ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ

"Semoga kita menjadi orang yang kembali fitri dan terjamin, serta masuk dalam golongan orang-orang muttaqin."

Di pagi ini, hati-hati yang haus akan rahmat Allah dipenuhi keceriaan yang mendalam. Dibasuh lautan ampunan dari Allah, Tuhan semesta alam. Di bawah langit yang bertasbih atas izin ilahi, kita berkumpul dalam kemenangan sejati. Bukan hanya karena menuntaskan puasa di bulan yang suci, tetapi karena berhasil menundukkan hawa nafsu untuk menjadikan diri jiwa-jiwa yang suci.

Idul Fitri bukan sekadar hari perayaan. Idul Fitri bukan hanya tentang pakaian dan berbagai aneka hidangan. Idul Fitri bukan hanya pergi jalan-jalan menuruti keinginan. Idul Fitri ini adalah momentum menguatkan tekat baja, menjadi hamba Allah yang patuh pada perintahNya dan sekuat tenaga meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT.

Idul Fitri adalah tentang hati yang kembali suci, tentang ruh yang bersujud dalam damai di hati. Merasakan kelembutan kasih sayang Allah yang Maha Abadi. Idul Fitri adalah tentang panggilan untuk kembali pada kesucian, memperkuat silaturahmi dan kebersamaan. Menanamkan kasih sayang pada mereka yang selama ini bersama dalam kehidupan. Semoga kebahagiaan ini tidak hanya berhenti di hari ini, tetapi terus menyala dalam setiap langkah kehidupan ini.

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma'asyiral muslimin wal muslimat, jama'ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Untuk mewujudkan kesucian diri kita, ada dua hal yang perlu kita pahami dan tancapkan dalam hati dan sukma. Pertama adalah penguatan dimensi vertikal kepada Allah SWT, melalui penguatan ibadah dan meraih ampunan atas segala dosa. Kedua adalah penguatan dimensi horisontal kepada sesama manusia, melalui kepekaan sosial dan senantiasa menebar kebaikan dan cinta. Jika dua hal ini mampu diaplikasikan dalam kehidupan kita, maka insyaallah kehidupan kita akan dinaungi kebahagiaan sampai akhir masa.

Allah berfirman dalam Al-Quran:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

Artinya, "Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (Surat Ali Imran ayat 133).

Dilanjutkan dengan:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya, "(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Surat Ali Imran ayat 134).

Dari ayat ini kita diingatkan cara untuk menyucikan jiwa. Langkah pertama untuk meraihnya adalah berdasarkan ayat Al-Imran 133. Kita diperintahkan untuk bersegera meraih ampunan dan surga-Nya. Seraya menyadari bahwa kuasa Allah begitu luas bagi kita. Seluas surga yang Ia sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bentuk ikhtiar meraih ampunan-Nya, telah kita lakukan selama satu bulan penuh. Berpuasa menjalankan perintah Allah dengan hati yang kukuh. Iman dan takwa juga terus kita semai untuk memastikan ibadah kita senantiasa utuh.

Semoga semua ini berujung pada ampunan Allah sebagaimana hadits Rasulullah dari Abu Hurairah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya, "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan, dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa masa lalunya." (HR Al-Bukhari dan Muslim).

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma'asyiral muslimin wal muslimat, jama'ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Langkah kedua untuk mensucikan diri adalah sesuai dengan lanjutan ayat pada surat Ali Imran ayat 134. Jika kita ingin kembali kepada kesucian dan ketakwaan yang kuat, maka kita harus menguatkan ibadah sosial dengan sedekah, infak, dan zakat. Ibadah ini tidak hanya dilakukan saat kita dalam kondisi finansial kuat, namun harus dilakukan saat kita merasa berat sebagai wujud taat kepada Allah sang pemberi nikmat.

Kita harus yakin bahwa berbagi tidaklah sama sekali akan mengurangi harta kita. Sebaliknya, dengan berbagi maka hakikatnya Allah sedang menambah apa yang kita punya. Zakat fitrah yang kita keluarkan di bulan puasa dan zakat mal untuk menyucikan jiwa kita, adalah wujud kesadaran jiwa, bahwa semua yang kita punya adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya.

Hal ini sekaligus menyadarkan kita bahwa ada hak orang lain di dalam harta kita, semua bukan milik kita dan tak akan dibawa saat kita meninggalkan dunia. Hanya dengan cara berbuat baik dengan harta yang disedekahkan kepada sesama, harta kita akan memberi manfaat saat kita sudah kembali kepada Allah SWT.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

Artinya, "Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, 'Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya kepada saudaranya kecuali kemuliaan di dunia dan akhirat, serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat'." (HR Muslim).

Ma'asyiral muslimin wal muslimat, jama'ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Dalam surat Ali Imran ayat 134, Allah juga memerintahkan agar kita senantiasa mengendalikan amarah dan suka memaafkan kesalahan. Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Ramadan dan Idul Fitri menjadi momentum pembuktian.

Saat puasa, kita diwajibkan mengendalikan nafsu amarah. Kemudian di Hari Idul Fitri, kita diperintahkan untuk saling memaafkan. Mari semua itu kita lakukan dengan tulus tanpa kepalsuan. Perkuat silaturahmi untuk mengikat hati kita sesama penuh kedamaian.

Mari jadikan Idul Fitri kali ini sebagai yang terbaik. Kita tidak tahu apakah kita akan bertemu kembali dengan Idul Fitri berikutnya. Mari saling memaafkan atas segala kesalahan.

Terutama kepada kedua orang tua kita. Raih tangan mereka, cium dan peluk dengan penuh kasih. Mereka adalah sosok yang paling berjasa dalam hidup kita.

Allah berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya, "Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (Surat Al-Isra' ayat 23).

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Demikianlah khutbah Idul Fitri ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah II

اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصْيْلًا لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Khutbah Idul Fitri #2: Bakti kepada Orang Tua

Khutbah I

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي وَفَّقَنَا لِإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَنَا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Hari ini rasa haru bahagia bercampur satu dalam kesedihan. Rasa bahagia karena datangnya hari kemenangan, namun dilain sisi akan ada rasa sedih atas kepergian bulan Ramadan.

Bulan yang penuh dengan keberkahan. Rasulullah saw bersabda, "Apabila malam terakhir bulan Ramadan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad saw.". Rasulullah ditanya, "Musibah apakah itu ya Rasulullah? Nabi saw menjawab, "Perginya bulan Ramadan, karena di bulan Ramadan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa dihentikan." (Diriwayatkan dari Jabir).

Rasa sedih ini hanya dirasakan oleh orang yang merasakan nikmatnya Ramadan. Sebuah pepatah mengungkapkan:

مَنْ ذَاقَ حَلَاوَةَ الوِصَالِ ذَاقَ مَرَارَةَ الفِرَاقِ

Artinya: "Siapa yang merasakan manisnya kebersamaan, akan merasakan pahitnya perpisahan."

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, tetes air mata karena rasa sedih melepas kepergian Ramadan, telah bercampur rasa haru bahagia karena telah diberi kesempatan berkumpul bersama keluarga.

Bahagia suka cita karena diberi kesempatan merayakan hari lebaran bersama-sama dengan orang yang terkasih dan yang tercinta.

Dilain sisi pula, ada mata yang menangis sedih, tertunduk sambil mengingat merenung, dimana sosok yang terkasih pada lebaran-lebaran sebelumnya masih berjabat erat, dan memeluk tubuh dengan hangat namun kini tak lagi bersama dengannya karena telah lebih dahulu menghadap kepada Tuhan. Terniang dan terekam dengan jelas canda tawa dan kebersamaan dengan sanak saudara, suami, isteri atau anak, dan cucu, namun kini sudah tak lagi.

Rasa sedih yang lebih mendalam, dirasakan oleh seorang anak yang merayakan lebaran tanpa sosok ibu bapaknya. Mengalir deras kerinduan saat mengenang terakhir berlebaran bersama, bersuka cita berangkat dengan penuh bahagia, di mana tangan masih bisa berjabat dengan erat dan merasakan pelukan yang penuh dengan kehangatan, memohon dan restu. Tetapi semua hal tersebut hanya menjadi ingatan yang terikat oleh kerinduan yang mendalam. Hanya untaian doa bersama kerinduan, semoga Tuhan mengumpulkan kelak di surganya nanti.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, dalam suasana seperti ini, di suatu waktu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ka'ab bin Ujrah r.a.. Ketika Rasulullah menaiki tangga mimbar yang pertama, beliau berkata, "Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang kedua, beliau pun berkata, "Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang ketiga, beliau pun berkata, "Amin.". Setelah Rasulullah saw turun dari mimbar, kami pun berkata, "Ya Rasulullah, sungguh kami telah mendengar dari engkau pada hari ini, sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya.". Rasulullah saw bersabda:

أَرْغَمَ اللهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ: آمِينَ

Artinya: "Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan." Maka aku berkata, "Amin".

Alangkah ruginya orang yang menyia-nyiakan bulan Ramadan. Di saat Ramadan, Tuhan membuka pintu surga, namun dia enggan memasukinya, saat Tuhan menutup pintu neraka namun dia memaksakan diri hendak masuk ke dalamnya. Rugi serugilah kita.

Kelak di akhirat, saat hari pembalasan telah tiba, setiap perbuatan dipertanggungjawabkan, yang hadir hanya penyesalan tiada tara, sebagaimana yang tergambarkan oleh Allah SWT dalam Surah as-Sajadah ayat 12:

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوا رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوْقِنُوْنَ

Artinya: "Dan seandainya engkau melihat para pendurhaka itu menundukkan kepala mereka di sisi Tuhan mereka, Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami, kami akan mengamalkan yang saleh, sesungguhnya kami adalah orang yang yakin."

Menyesalah sebelum penyesalan itu tidak ada arti, menangislah sebelum pada akhirnya tangisan itu tak memberi manfaat, dan bertaubatlah sebelum pada akhirnya pintu taubat itu telah ditutup.

Bertaubatlah kepada Allah SWT sebab Allah Maha Penerima taubat. Walau dosa sebesar langit dan bumi, ampunan Allah jauh lebih luas.

يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: "Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي

Artinya: "Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni mu dan Aku tidak peduli."

Untuk itulah di hari berkumpulnya kita di tempat ini, di hari yang fitri, hari yang suci, marilah kita menyucikan diri dengan bertaubat seraya merenung, menyesali, dan menangisi khilaf yang telah diperbuat.

Kedua, ketika aku menaiki tangga yang kedua, Jibril berkata:

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ: آمِينَ

Artinya: "Celakalah orang yang apabila namamu disebutkan, dia tidak bersalawat ke atasmu." Aku pun berkata, "Amin."

Rasulullah adalah teladan mulia bagi umat manusia. Segala bentuk perjuangan dakwah Rasulullah saw adalah bentuk kasih sayang kepada umat manusia agar memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.

Dalam sejarah disebutkan, perlakuan yang didapatkan oleh Rasulullah begitu tragis saat berdakwah ke Kota Thaif. Utusan Allah ini justru menjadi target pelecehan, penghinaan, umpatan, yang diluapkan dengan kata-kata kotor. Jibril bertutur kepada sang Nabi, "Apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mereka? Kalau itu kau inginkan maka akan aku lakukan." Namun, Rasul tidak menghendakinya. Bahkan dia mengharapkan Allah akan menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari masyarakat di sana.

Kecintaan Rasulullah kepada umat sangatlah besar. Beliau bersabda, "Aku rindu dengan kekasihku." Para sahabat bertanya, "Bukankah kami adalah para kekasihmu?" Rasulullah menjawab, "Kalian memang sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku."

Atas dasar kecintaan Rasulullah itulah, sudah seharusnya kita senantiasa bersalawat kepada Rasulullah.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

Ketiga, ketika aku melangkah ke tangga ketiga, Jibril berkata:

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ

Artinya: "Celakalah orang yang mendapati ibu bapaknya yang telah tua, atau salah satu dari keduanya, tetapi keduanya tidak menyebabkan orang itu masuk surga." Aku pun berkata, "Amin."

Sungguh beruntunglah seseorang yang telah diberi kesempatan hidup bersama ibu bapaknya, sebab dengannya itu dapat mengantarkan dia ke surga selama dia mampu berbakti kepadanya. Namun celakalah orang yang memiliki ibu bapak namun tidak dijadikannya sebagai jalan untuk berbakti.

Pesan orang terdahulu, "Seorang ibu mampu merawat sepuluh anak, tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang ibu." Allah Ta'ala berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya."

Sungguh, jasa orang tua apalagi seorang ibu begitu besar. Mulai saat mengandung, tak ada tidur yang dia nikmati. Dia mesti menanggung berbagai macam penderitaan. Baru sekejap tertutup matanya, tangisan kita pun membangunkannya. Puncak penderitaan seorang ibu tatkala dia melahirkan. Satu kakinya berada di dunia dan satunya lagi berada di ambang kematian. Kematian siap dia hadapi agar anaknya bisa hidup.

Teramat besar jasa ibu bapak kita, sehingga jasanya sangat sulit sekali untuk dibalas, walaupun dengan menggendongnya untuk berhaji dan memutari Ka'bah.

ثُمَّ قَالَ: يَا ابْنَ عُمَرَ أَتُرَانِي جَزَيْتُهَا؟ قَالَ: لَا وَلَا بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ

Artinya: "Kemudian ia berkata: Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas jasanya? Ia menjawab: Tidak, bahkan tidak pula dengan satu tarikan napas."

Puluhan kali pun kita membawa ibu bapak ke tanah suci, meskipun dengan menggendong langsung, itu tak akan bisa membalas jasa-jasa ibu bapak kepada kita.

Marilah kita belajar sebuah kisah tentang pengabdian kepada orang tua. Seorang pemuda bernama Uwais Alqarni, pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya yang bertempat di Yaman. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya.

Setelah berbagai perjuangan, Uwais akhirnya mampu menggendong ibunya berhaji dengan berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah. Betapa besar cintanya kepada ibunya.

Nabi menjelaskan:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Artinya: "Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."

Sebaik apa pun karirmu, setinggi apa pun pendidikanmu, seberapa hebat kedudukanmu, jika durhaka kepada ibu bapakmu, maka semua itu akan sirna.

كُلُّ الذُّنُوبِ يُؤَخِّرُ اللَّهُ مَا شَاءَ مِنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا عُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعَجِّلُهُ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَيَاةِ قَبْلَ الْمَمَاتِ

Artinya: "Setiap dosa-dosa Allah tangguhkan hingga hari kiamat kecuali durhaka kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Allah menyegerakan balasannya di dunia sebelum wafat."

Selagi mereka masih ada, jangan sia-siakan mereka. Berbaktilah sebaik-baiknya. Temui mereka, duduk di hadapannya, ambil tangannya, cium, dan peluk dengan penuh kasih sayang. Namun jika mereka telah tiada, maka doakan mereka:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Artinya: "Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil."

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Di hari raya Idul Fitri ini, marilah kita menjaga kebersamaan dan mempererat persaudaraan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِفَهْمِهِ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الرَّحِيمِ

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Khutbah Idul Fitri #3: Pesan Persaudaraan di Hari Fitri

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّيَامَ أَيَّامَ الأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الْجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِ ۗ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ ۗ إِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah,

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah SWT...

Setelah sebulan lamanya kita berpuasa, maka sekarang tibalah masanya kita tumpahkan rasa senang dan rasa haru. Kita ungkapkan sepenuh hati rasa gembira dan rasa syahdu, sembari mengagungkan Nama Allah Azza wa Jalla. "Allahu Akbar x 3 wa lillahil hamd".

Betapa bahagianya kita, sebab Allah SWT telah menciptakan bulan Ramadan khusus untuk kita, umatnya Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya ada satu malam, yakni malam Lailatul Qadar, yang lebih utama daripada 1.000 bulan. Satu kali melakukan ibadah fardhu, maka pahalanya seperti mengerjakan 70 ibadah fardhu. Kita melakukan ibadah sunnah pun dicatat pahalanya seperti mengerjakan ibadah fardhu.

Dalam sebuah hadits dinyatakan:

يا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ

Saudaraku, kaum muslimin dan muslimat! Wajar saja kalau kita punya rasa haru dan syahdu. Kita yang bergelimang dosa ini, oleh Allah SWT masih diberikan kesempatan langka untuk menghirup dan bernapas di bulan yang suci. Sekalipun sepenuh hati kita mengakui bahwa kita belum bisa memanfaatkan waktu siang dan malam bulan Ramadan secara maksimal.

Kita hanya mengharapkan semoga puasa kita, qiyamul lail kita, bacaan Al-Quran kita, sedekah dan zakat kita yang tak seberapa, dapat menebus dosa kita. Sebagai umat yang beriman kita yakin dan percaya apa yang sudah diterangkan di dalam Al-Quran:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

bahwa Allah itu dekat dengan diri kita. Apa saja yang kita mohonkan kepada Allah, maka pasti akan dikabulkan Allah SWT.

Oleh sebab itu, beruntunglah kita di pagi hari ini, datang berduyun-duyun dari tempat tinggal kita menuju masjid untuk menjalankan salat Idulfitri secara berjamaah. Kita bermunajat untuk mengetuk pintu rahmat-Nya. Pada hari ini kita rayakan lebaran bersama penuh suka cita dengan mengumandangkan takbir.

Marilah kita tanamkan dalam hati bahwa ke depannya hidup kita akan menjadi lebih baik. Amal ibadah kita akan semakin meningkat sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia...

Selain kita bertekad memperbaiki hubungan dengan Allah, pada momentum Idul Fitri ini kita juga perlu memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Dalam ajaran Islam, hubungan dengan sesama manusia sama pentingnya dengan hubungan kepada Allah.

Sebagai manusia yang tak luput dari salah, marilah kita saling memaafkan. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nur ayat 22:

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْا ۗ أَلَا تُحِبُّوْنَ أَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"...Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Di samping itu ada juga satu hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra:

قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فُلَانَةَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ وَتَفْعَلُ الْخَيْرَاتِ وَتَتَصَدَّقُ وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا خَيْرَ فِيهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Artinya Baginda Nabi Muhammad pernah ditanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang perempuan yang rajin qiyamullail di malam harinya, rajin puasa di siang harinya, rajin mengerjakan kebaikan dan bersedekah, akan tetapi dirinya menyakiti tetangganya dengan tutur katanya. Rasulullah menjawab: Tidak ada kebaikan padanya dan dia termasuk penghuni neraka. Na'udzubillah min dzalik.

Jamaah shalat Idul Fitri yang berbahagia...

Kita semua tahu Allah itu Al-Tawwab (Maha Penerima Taubat). Kasih sayang-Nya mengalahkan murka-Nya. Rahmat-Nya jauh lebih luas dari azab-Nya. Selama seorang hamba memohon ampun kepada-Nya, Allah akan mengampuninya. Namun manusia tidak seluas itu kasih sayangnya. Manusia tidak sedalam itu kesabarannya. Bisa dibilang manusia adalah makhluk yang paling susah meminta maaf dan memaafkan.

Karena itu Rasulullah mengajari umatnya untuk menahan diri. Jangan mudah mengumbar kata, jangan gampang menyebar berita, jangan sering menghardik sesama. Karena Rasulullah tahu ruang maaf manusia terbatas, tidak seluas Tuhannya. Mendapatkan maaf manusia jauh lebih berat. Bahkan saat kita merasa tidak bersalah pun, bisa jadi orang lain menyimpan rasa sakit terhadap kita.

Hadits di atas adalah contoh nyata. Seorang wanita ahli ibadah, rajin shalat malam, gemar berpuasa, banyak bersedekah, namun lisannya menyakiti tetangganya. Rasulullah mengatakan tidak ada kebaikan padanya. Artinya ibadah tanpa akhlak sosial yang baik akan kehilangan maknanya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:

لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ

Artinya: Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia.

Dalam riwayat lain:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

Artinya: Orang yang tidak mengasihi, maka tidak akan dikasihi.

Ini menunjukkan bahwa kasih sayang sesama manusia sangat penting. Allah menghendaki hamba-Nya membangun kehidupan yang harmonis, menjauhkan kebencian, menumbuhkan kepedulian, dan membiasakan sikap saling menyayangi.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah...

Pada prinsipnya Idul Fitri mengajarkan kita untuk kembali kepada fitrah. Kita adalah makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan Allah SWT. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita taat dan bersandar hanya kepada-Nya.

Sebagai makhluk sosial, kita juga membutuhkan sesama manusia. Jangan merusak hubungan, jangan memperpanjang masalah, karena suatu saat kita pasti membutuhkan satu sama lain.

Marilah kita lapangkan dada agar menjadi golongan orang-orang yang kembali fitri dan hidup bahagia. Minal aidin wal faizin. Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Taqabbalallahu minna waminkum. Fi kulli 'aamin wa antum bi khair. Aamiin ya rabbal 'alamin.

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٤×) اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Khutbah Idul Fitri #4: Mengetuk Pintu Surga

Khutbah I

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Ma'asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Idul Fitri yang Diberkahi Allah SWT

Kehidupan di dunia ini sejatinya adalah sebuah ujian dan tidak ada satu pun orang hidup kecuali diuji oleh Allah SWT, bahkan para nabi dan utusan Allah pun tak luput dari ujian. Sejak kita terlahir di dunia ini, dihadapkan dengan berbagai ujian, ketika akan memasuki sekolah ada ujian, di setiap kenaikan kelas ada ujian, dan bahkan mau lulus pun ada ujian. Ketika akan melamar kerja kita diuji dan saat promosi jabatan pun pasti ada seleksi ujian.

Demikian juga, kehidupan dunia ini, sejatinya adalah ujian, di mana tempat kelulusannya adalah kehidupan akhirat kelak yaitu surga atau neraka, bahagia atau sengsara selamanya. Allah berfirman di awal Surat al-Mulk:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُوْرُ (٢

Ujian yang diselenggarakan oleh manusia tentu sangat berbeda dengan ujian yang diselenggarakan Allah SWT. Ujian di sekolah maupun di dunia kerja sangat bersifat rahasia, jangankan jawabannya, soal-soalnya pun bersifat rahasia.

Sangat berbeda dengan ujian masuk surga, jangankan soal-soalnya, kunci jawaban pun sudah diberitahukan oleh Allah dan sudah menjadi rahasia umum. Maka sungguh bodohlah kita jika tidak lulus masuk surga. Dan kunci masuk surga itu adalah kalimah la ilaha illa Allah. Itu adalah kalimat Tauhid, yaitu kalimat pembeda antara muslim dan non-muslim, kalimat penentu kebahagiaan di surga atau kesengsaraan di neraka.

Nabi SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِيْ بِذٰلِكَ وَجْهَ اللهِ

"Sesungguhnya Allah mengharamkan seseorang yang mengucapkan la ilaha illa Allah dengan ikhlas karena Allah".

Kalimat Tauhid di atas tentu bukan hanya sekedar diucapkan, tapi perlu diyakini dengan sepenuh hati bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan keyakinan tersebut dibuktikan dengan pengabdian dan penghambaan diri kepada Allah dengan berbagai macam ibadah.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Di setiap Ramadan, kita selalu mendengar dan bahkan hafal hadis Rasulullah SAW yang artinya, "Ketika masuk bulan Ramadan maka syaitan-syaitan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup" (HR Bukhari dan Muslim).

Memang begitulah keutamaan bulan Ramadan di mana setan-setan akan dibelenggu, pintu surga akan dibuka dan pintu neraka akan ditutup. Tetapi hadis di atas tidak tepat dimaknai secara tekstual. Untuk memahaminya perlu memahami makna majazi.

Setan dibelenggu di bulan Ramadan bukan berarti setan tidak akan menggoda manusia untuk melakukan perbuatan dosa. Buktinya saat puasa pun masih banyak yang tidak shalat dan batal puasa lantaran tidak kuat menahan lapar dan akhirnya pergi mencari makan. Secara majazi, setan dibelenggu berarti umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa diberikan kemampuan lebih oleh Allah untuk tidak menuruti bisikan-bisikan setan.

Lantas bagaimana dengan adanya kata pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup?

Maksud pintu surga dibuka karena di bulan puasa amal shaleh akan dilipat gandakan pahalanya sehingga kesempatan masuk surga jadi lebih besar. Sedangkan pintu neraka ditutup berarti di bulan puasa kesempatan kita untuk melakukan perbuatan dosa lebih kecil dibandingkan dengan bulan-bulan biasa.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Kalimat Tauhid yang sudah kita punyai dan kita simpan dalam hati, bisa jadi tidak dapat kita gunakan untuk membuka pintu-pintu surga. Hal itu dikarenakan pintu surga terkunci dari dalam. Maka oleh karena itu kita perlu mengetuk pintu-pintu tersebut. Ada satu hadis yang mencakup amalan-amalan yang dapat mengetuk pintu-pintu surga, yaitu hadis yang berbunyi:

أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Nasihat ini disampaikan oleh Nabi SAW saat memasuki kota Madinah. Dalam hadis tersebut ada empat amalan yang dapat membantu kita mengetuk dan membuka pintu surga:

Pertama, menebarkan salam. Salam secara bahasa dipahami sebagai ucapan, yaitu assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dan ini adalah ucapan salam yang harus kita jadikan sebagai tradisi baik kita.

Salam juga dimaknai sebagai keselamatan dan perdamaian. Setiap muslim di manapun berada dituntut untuk menebarkan keselamatan dan perdamaian, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, sebagai wujud keimanan kepada Allah SWT. Dan tidak patut seorang muslim menimbulkan keresahan, kerusakan, dan kehancuran tatanan kehidupan, karena itu menjadi penghalang baginya untuk masuk surga.

Kedua, memberi makan. Di antara hikmah diwajibkannya puasa Ramadan adalah agar kita dapat merasakan lapar dan dahaga. Sementara, banyak orang yang lapar bukan karena puasa, tetapi kelaparan karena ketiadaan. Dan lapar di sini tidak terbatas dengan kosongnya perut dari makanan dan minuman, tetapi kosongnya akal dari ilmu.

Maka, dalam konteks ini kita dituntut tidak hanya berbagi makanan sebagai nutrisi badan, tetapi juga berbagi donasi pendidikan sebagai nutrisi jiwa bagi yang membutuhkan.

Ketiga, menjalin silaturrahim atau kasih sayang. Agama kita sangat menganjurkan untuk menjalin silaturrahim, karena silaturrahim mendatangkan manfaat yang luar biasa; 1) dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki, 2) akan dijauhkan dari neraka, 3) menjadi salah satu sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, 4) dapat menjaga kerukunan dan keharmonisan dengan sesama, dan 5) dapat menjadikan kita sebagai makhluk yang mulia.

Maka momentum Idul Fitri ini sangat tepat kita manfaatkan untuk bersilaturrahim kepada orang tua, keluarga, sanak saudara, tetangga, mitra kerja dan kepada semuanya, tetapi tentu harus tetap menjaga protokol kesehatan.

Keempat, shalat malam. Shalat sunnah yang paling besar pahalanya adalah qiyamul lail. Semoga ritual shalat tarawih, shalat witir, dan bangun malam untuk sahur yang kita lakukan sebulan kemarin mampu kita pertahankan selama sebelas bulan ke depan, sehingga tujuan diwajibkannya puasa dapat terwujud yaitu terwujudnya jiwa yang bertakwa dan hadirnya jiwa-jiwa yang shalih yang suka menebar kebajikan, keselamatan, dan perdamaian, serta jiwa yang peduli terhadap kemiskinan dan ramah terhadap lingkungan.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Demikian khutbah singkat pada kesempatan ini, semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang lurus dan memberikan kekuatan kepada kita untuk beristiqamah di jalan tersebut. Amin ya rabbal 'alamiin.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَسَارِعُوْا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٤×) اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَىٰ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَىٰ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَىٰ رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَىٰ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّىٰ بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَىٰ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah Idul Fitri #5: Musibah Akibat Perbuatan Manusia Merusak Alam

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Kaum Muslimin rahimakumullah

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan dan pencipta semesta alam, yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga pada pagi yang mulia ini kita dapat menunaikan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, beserta keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin yang dimuliakan Allah

Idul Fitri yang dirayakan hari ini adalah momentum di mana kita kembali kepada fitrah: baik fitrah iman, fitrah akhlak, dan fitrah sebagai khalifah di muka bumi. Kita bergembira dan bahagia hari ini karena sebulan penuh kita telah dilatih menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan membersihkan jiwa sehingga berdampak kepada peningkatan ketakwaan kita terhadap Allah SWT dan diharapkan kita mampu mengimplementasikan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari kita, termasuk dalam sikap dan perilaku kita terhadap alam semesta tempat di mana kita hidup dan menikmati keindahannya.

Pada akhir-akhir ini, kita menyaksikan keprihatinan yang sangat dalam terhadap kenyataan pahit yang menimpa rakyat dan negara kita, maupun di mancanegara. Tragedi banjir terjadi di mana-mana, kekeringan berkepanjangan, tanah longsor, krisis air bersih, udara tercemar, perubahan iklim, dan bencana demi bencana yang silih berganti. Bencana tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan korban harta yang tiada terkira. Semua ini bukan semata-mata takdir tanpa sebab tetapi karena terjadi kerusakan alam yang diakibatkan oleh tangan manusia, di mana seharusnya manusia itu sebagai pemelihara alam tetapi kenyataannya menjadi perusak alam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan dengan sangat jelas dalam Al-Quran:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa banyak musibah yang menimpa manusia adalah akibat langsung dari perilaku manusia sendiri: yaitu disebabkan oleh keserakahan, eksploitasi berlebihan, perusakan hutan, pencemaran sungai dan laut, serta gaya hidup yang tidak ramah lingkungan, yang secara langsung atau tidak langsung menjadi penyebab terjadinya bencana alam tersebut. Betapa sedihnya kita melihat korban tragedi tanah longsor dan banjir di Sumatera, dan di Pulau Jawa yang terjadi di akhir bulan Desember 2025 dan pada awal tahun 2026 yang lalu yang memakan korban sampai ratusan bahkan mendekati seribu orang. Rumah dan sawah tertimbun tanah serta harta kekayaan rusak yang melahirkan kesusahan tiada terkira yang dialami para korban.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Kaum Muslimin yang berbahagia

Allah mengajarkan kepada kita bahwa Islam bukan hanya agama ibadah ritual belaka, tetapi juga agama peradaban dan kelestarian. Banyak ayat dalam Al-Quran maupun hadits Nabi yang menganjurkan kita memelihara lingkungan. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Bahkan beliau bersabda:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُوْمَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Artinya: "Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah." (HR. Bukhari & Ahmad)

Hadis ini mengajarkan optimisme dan tanggung jawab ekologis, bahkan di saat akhir kehidupan sekalipun. Tidak ada alasan untuk membiarkan alam rusak dan membiarkan tragedi musibah terjadi sehingga Rasulullah menghendaki kelestarian dan kelanjutan kehidupan itu terjaga. Islam mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Menanam pohon adalah cara nyata untuk merawat ciptaan Allah, mengurangi dampak pemanasan global, dan menyediakan oksigen bagi makhluk yang hidup di bumi.

Namun hari ini, kita menyaksikan manusia sering bertindak sebaliknya. Hutan ditebang tanpa kendali, gunung dikeruk tanpa etika, sungai dijadikan tempat sampah, laut diracuni limbah, semua demi keuntungan sesaat tanpa memikirkan generasi mendatang. Mereka tidak menyadari bahwa kelakuan buruk mereka mengakibatkan kerugian bagi mereka sendiri, karena kerusakan alam akan dirasakan juga oleh mereka sendiri, ketika udara menjadi panas, kotor, dan kekeringan akan mempengaruhi tingkat kesehatan serta mempercepat dampak buruk dalam kehidupan mereka.

Allah telah mengingatkan dalam Al-Quran:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

Surah Al-A'raf ayat 56 di atas berisi larangan keras berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya (mengaturnya dengan seimbang). Ayat ini memerintahkan manusia untuk berdoa dengan rasa takut (tidak diterima) dan harapan (dikabulkan), serta menegaskan bahwa rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsin).

Merusak alam bukan sekadar kesalahan teknis dan dosa ringan, tetapi dosa moral dan spiritual. Karena alam adalah amanah dari Allah yang harus dipelihara dan dijaga agar kelestariannya bisa berlangsung dan dinikmati oleh semua makhluk. Merusak alam bukan hanya merusak tanah dan tumbuhan, tetapi juga merusak flora dan fauna yang tinggal di sekitarnya. Dengan rusaknya lingkungan maka sama saja dengan menghancurkan kehidupan di dalamnya.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin yang berbahagia

Idul Fitri bukan hanya hari saling memaafkan antar manusia, tetapi juga momentum untuk melakukan penyadaran dan bertaubat secara kolektif, termasuk di dalamnya taubat ekologis, bertaubat atas dosa-dosa kita terhadap alam. Berhenti merusaknya apa pun alasannya serta berusaha untuk memperbaikinya.

Sadari bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Menghemat air, mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga kebersihan, semuanya bernilai pahala jika diniatkan karena Allah. Menanam pohon dianggap sebagai bentuk sedekah yang pahalanya terus mengalir selama pohon tersebut memberikan manfaat. Rasulullah SAW bersabda bahwa apa pun yang dimakan dari hasil tanaman tersebut, baik oleh manusia, burung, maupun hewan, akan dicatat sebagai sedekah bagi penanamnya. Bahkan, jika ada buah yang diambil sekalipun, penanamnya tetap mendapatkan pahala sedekah.

Hentikan pemborosan, kurangi konsumsi berlebihan, pilih pola hidup sederhana sebagaimana diajarkan Rasulullah. Allah berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا

"Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra': 27)

Dalam ayat tersebut Allah mencela perbuatan membelanjakan harta secara boros, dengan menyatakan bahwa orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, mereka berbuat boros dalam membelanjakan harta karena dorongan setan. Oleh karena itu, perilaku boros termasuk sifat setan, dan setan adalah sangat ingkar kepada nikmat dan anugerah Tuhannya.

Sebagai umat Islam, kita tidak boleh diam melihat kerusakan. Kita harus menjadi pelopor kebaikan di keluarga, di masjid, di sekolah, di masyarakat, dan di negeri ini. Islam mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Menanam pohon adalah cara nyata untuk merawat ciptaan Allah, mengurangi dampak pemanasan global, dan menyediakan oksigen bagi makhluk lain.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin yang dirahmati Allah

Musibah sejatinya adalah peringatan dan kasih sayang Allah, agar manusia kembali kepada jalan yang benar, kembali kepada keseimbangan, kembali kepada fitrah.

Mari kita jadikan Idul Fitri 1447 H ini sebagai titik balik sikap kita terhadap lingkungan dan kelestarian alam: kita beralih dari merusak menjadi menjaga, dari serakah menjadi amanah, dari lalai menjadi peduli. Kepedulian kita akan menjadi contoh bagi generasi yang akan datang dan menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik untuk ditinggali.

Semoga Allah menerima puasa dan amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang menjaga bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Semoga kita tetap teguh dalam iman dan istiqamah di jalan-Nya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عُتَقَاءِ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْعِيْدَ عِيْدًا مُبَارَكًا لَنَا وَلِأُمَّةِ الْإِسْلَامِ أَجْمَعِيْنَ

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Khutbah Idul Fitri #6: Korupsi adalah "TBC Modern" yang Harus Dijauhi

Khutbah I

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Gema takbir tahlil dan tahmid terus berkumandang pada pagi ini. Kita telah melewati madrasah Ramadan. Kita menahan lapar dahaga dan hawa nafsu selama sebulan penuh. Kini tibalah saatnya kita merayakan Idulfitri. Hari ini kita kembali berbuka. Kata fitr berarti berbuka atau makan yang menandai selesainya kewajiban puasa kita.

Perayaan ini tentu tidak sempurna jika hanya sebatas euforia ritual pribadi. Kita harus mengaitkannya dengan kesalehan sosial. Terdapat tanggung jawab besar bagi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Kehidupan bermasyarakat selalu terkait dengan cita-cita mewujudkan masyarakat madani. Masyarakat madani mengandaikan adanya kebaikan di lingkungan pemerintahan. Keberadaan pemerintahan yang baik atau good governance merupakan pilar penting. Istilah ini sekarang lebih disukai daripada clean governance.

Padanan bahasa Arab untuk pemerintahan yang baik mungkin adalah khair. Kita mengenal istilah khairu ummah untuk umat terbaik. Padanan yang pas untuk good governance adalah khairu hukumah. Maknanya adalah pemerintahan yang baik dan mau menjalankan tanggung jawabnya.

Pemerintah mendapat amanat dari rakyat. Mereka memiliki wewenang untuk mengelola kemajemukan. Mereka juga wajib memberikan pelayanan melalui satu sistem hukum. Rakyat memberikan hak penegakan supremasi hukum kepada pemerintah. Negara mempunyai posisi yang sangat sentral dan strategis. Baik buruknya kehidupan berbangsa sangat tergantung dari perilaku penyelenggara negara. Cita-cita masyarakat madani melalui tata kelola yang baik ini amat perlu ditegakkan.

Jamaah yang berbahagia

Negara kita sedang menghadapi masalah mendasar. Kita melihat lemahnya tata kelola pemerintahan yang baik. Manifestasi utamanya adalah merajalelanya korupsi. Penyakit ini menjadi ibu dari segala masalah atau ummul qodloyat. Implikasinya sangat efektif dalam merusak kehidupan masyarakat.

Dampak korupsi ini sangat luar biasa. Korupsi merupakan salah satu problem besar bangsa. Korupsi merusak sendi-sendi perekonomian. Kondisi perekonomian kita masih belum pulih sempurna sejak krisis moneter lampau. Negara-negara tetangga justru telah lama berhasil mengatasi krisis serupa. Korupsi berdampak luas terhadap indeks pembangunan manusia.

Pembangunan terhambat karena kekurangan finansial. Pendidikan semakin mahal akibat minimnya dana negara. Pelayanan kesehatan berkualitas buruk dan sulit dijangkau masyarakat bawah. Akibatnya banyak lembaga menempatkan Indonesia pada deretan teratas negara terkorup di dunia.

Hadirin rahimakumullah

Praktik korupsi sangat merugikan negara. Perbuatan ini mengambil uang negara dan merupakan bentuk pengkhianatan. Wajar jika korupsi dinyatakan sebagai kemunkaran dan dosa besar. Suburnya korupsi di tanah air berakar pada lemahnya landasan kultural.

Mari kita melakukan introspeksi atau muhasabah. Kita harus berani mengatakan bahwa budaya korupsi adalah gejala belum berhasilnya dakwah Islamiah. Fakta menunjukkan sebagian besar pelaku korupsi beragama Islam.

Korupsi dapat disebut sebagai bagian dari penyakit "TBC modern". Korupsi adalah praktik syirik modern. Pelakunya tidak lagi meyakini Allah sebagai Tuhan. Mereka menjadikan uang sebagai sumber kekuatan hidupnya.

Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah

Al-Quran memberikan ruang luas dalam mengutuk korupsi. Kitab suci ini menyebut korupsi dengan istilah ghulul. Hal ini tercantum dalam Surah Ali Imran ayat 161:

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

"Tidak layak seorang nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang diselewengkannya itu." (QS. Ali Imran: 161).

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

"Mereka sangat suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram (suap/sogok)." (QS Al-Maidah: 42).

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

"Laknat Allah untuk penyuap dan penerima suap."

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

"Dari Ibn Umar beliau berkata sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw bersabda Tidak diterima salat tanpa wudlu dan sedekah dari hasil korupsi." (HR. Muslim).

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ أَمَّا بَعْدُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَتَمَ غَالًّا فَإِنَّهُ مِثْلُهُ

"Dari Samurah Ibn Jundub beliau berkata Rasulullah saw bersabda Barangsiapa menyembunyikan koruptor maka dia sama dengannya." (HR. Abu Dawud dan al-Tabarani).

Hadirin yang dimuliakan Allah

Literatur fikih Islam memuat banyak kajian tentang korupsi. Imam al-Syafi'i melarang keras pejabat menerima hadiah. Terutama jika hadiah itu diberikan agar pemberi mendapat haknya lebih cepat. Beliau juga mengharamkan penerimaan hadiah demi memperoleh sesuatu yang batil. Hadiah juga haram jika bertujuan membebaskan pemberi dari kewajiban.

Ibn Taimiyah menegaskan segala penggunaan uang untuk melumpuhkan hukum adalah korupsi. Meskipun tindakan tersebut tidak langsung merugikan keuangan publik. Beliau mengutip kisah seorang pemuda yang berselingkuh. Ayah pemuda itu memberikan seratus ekor kambing dan pelayan sebagai tebusan. Tujuannya agar kasus tidak diadukan ke pihak berwajib. Rasulullah SAW memutuskan supaya harta dikembalikan dan pelaku tetap dihukum. Tindakan menyuap agar hukum tidak berjalan adalah bentuk nyata korupsi.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang diberkahi Allah

Kita harus menempuh berbagai cara untuk melawan korupsi. Kita perlu menyosialisasikan secara luas bahwa korupsi merupakan dosa besar dan pengkhianatan terhadap negara. Wacana keagamaan antikorupsi harus terus dikembangkan. Langkah ini penting untuk menjelaskan hakikat modus operandi dan dampak buruk korupsi.

Pada hari Idul Fitri ini mari kita bangkit. Kita melangkah dengan sikap mantap tanpa ragu untuk menggulirkan gerakan antikorupsi. Kita memegang teguh prinsip agung Rasulullah SAW:

قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا

Katakanlah yang benar meskipun pahit rasanya. Menyampaikan kebenaran memang sangat baik walaupun terasa pahit.

Semoga ibadah puasa menjadikan kita manusia bertaqwa. Kita harus terus menjauhi kemunkaran besar bernama korupsi. Mari berjuang bersama mewujudkan keadilan demi tegaknya masyarakat madani di negeri tercinta.

Jamaah yang dirahmati Allah

Sebelum kita mengakhiri rangkaian ibadah ini, marilah kita menundukkan kepala dan merendahkan hati, memohon kepada Allah Yang Maha Mendengar agar bangsa kita diselamatkan dari badai kemunkaran.

Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim, pada hari yang fitri ini, kami memohon perlindungan-Mu. Bersihkanlah hati kami, jiwa kami, dan tangan-tangan kami dari segala bentuk harta yang tidak halal. Jauhkanlah kami dari godaan untuk mengambil yang bukan hak kami, baik dalam skala kecil maupun besar. Tanamkanlah rasa qana'ah, rasa cukup atas rezeki-Mu, agar kami tidak tergolong sebagai orang-orang yang rakus dan melampaui batas.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Adil, kami memohon kepada-Mu, selamatkanlah negeri kami tercinta, Indonesia, dari wabah korupsi yang merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Gerakkanlah hati para pemimpin kami, para pejabat negeri, dan seluruh penyelenggara negara agar senantiasa mengutamakan amanah rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan. Berikanlah mereka kekuatan iman untuk tetap jujur dan keberanian untuk menolak segala bentuk suap dan kebatilan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jadikanlah momentum Idul Fitri ini sebagai awal kebangkitan bagi kami semua untuk membangun budaya kejujuran.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

Khutbah II

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Khutbah Idul Fitri #7: Perkara yang Semestinya Kita Lakukan di Hari Raya

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَالَاهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: (قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ)

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Mengawali khutbah pada pagi yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Dialah satu-satunya Dzat yang wajib dan berhak disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan berbeda dengan segala sesuatu, yang tidak membutuhkan kepada tempat dan arah, serta Yang Maha Suci dari bentuk dan ukuran.

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah,

Pagi ini, kita berkumpul di tempat yang penuh berkah ini untuk menyambut datangnya bulan Syawal.

Kita telah melepas kepergian Ramadan. Bulan yang mulia, bulan kebaikan, bulan yang penuh berkah, bulan taubat dan bulan berbagai macam ketaatan dan amal saleh itu telah pergi meninggalkan kita.

Setelah berpisah dengan bulan taubat, marilah kita tetap bertaubat. Setelah berpisah dengan bulan ketaatan, marilah kita tetap istiqamah berbuat taat. Setelah berpisah dengan bulan Alquran, marilah kita tetap membaca Alquran. Setelah kita berpisah dengan bulan Tarawih, marilah kita tetap melaksanakan shalat-shalat sunnah. Setelah kita berpisah dengan bulan puasa, marilah kita tetap melaksanakan berbagai puasa sunnah.

اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Betapa besar kegembiraan seorang mukmin dengan kebaikan-kebaikan yang mampu ia laksanakan di bulan Ramadan. Dan betapa mulia seorang mukmin yang tetap berbuat taat setelah meninggalkan Ramadan.

Memang kegembiraan dengan datangnya hari raya Idul Fitri sangatlah besar dan agung. Namun kegembiraan akan menjadi bertambah agung dan besar ketika seorang mukmin yang bertakwa mendapati sesuatu yang menggembirakannya dalam catatan amalnya di akhirat kelak, di saat banyak orang ketika itu tengah merugi dan celaka.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Hari ini adalah hari yang agung, hari raya yang mulia. Dalam hadis disebutkan bahwa di suatu hari raya, Nabi SAW bersabda:

لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدٌ وَهٰذَا عِيْدُنَا

Artinya: "Setiap kaum memiliki hari raya dan hari ini adalah hari raya kita." (HR Bukhari)

Hari raya adalah hari kegembiraan dan kebahagiaan. Kegembiraan dan kebahagiaan kaum muslimin di dunia adalah ketika mampu menyempurnakan ketaatan kepada Allah. Mereka berharap pahala dari Allah karena yakin bahwa dengan karunia dan rahmat-Nya, Allah akan menganugerahkan pahala kepada mereka.

Allah SWT berfirman:

قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ

Artinya: "Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah,

Di antara perilaku yang ditekankan oleh syariat untuk kita lakukan pada momen bahagia seperti hari raya adalah silaturahim. Tradisi ini sebagaimana telah diajarkan kepada kita oleh baginda Rasulullah SAW dengan perbuatan dan perkataanya.

Setelah Jibril pertama kali membawa wahyu kepada beliau, beliau menceritakan hal itu kepada Sayyidah Khadijah mengenai apa yang terjadi. Lalu Khadijah radhiyallahu 'anha berkata:

اُثْبُتْ يَا ابْنَ عَمِّ وَأَبْشِـرْ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِيْنُ عَلَى النَّوَائِبِ

Artinya: "Tetaplah teguh wahai anak pamanku dan berharaplah yang baik, sungguh engkau adalah orang yang betul-betul menyambung tali silaturahim, jujur dalam berbicara, memberi kepada orang yang fakir, menjamu tamu dan membantu orang lain dalam kesulitan-kesulitan." (HR Bukhari)

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Menyambung silaturahim dengan kerabat adalah termasuk salah satu kewajiban. Sebaliknya memutus silaturahim adalah termasuk salah satu dosa besar.

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

Artinya: "Tidak akan masuk surga (bersama orang-orang yang lebih awal masuk surga) orang yang memutus silaturahim." (HR Bukhari dan Muslim)

Allah SWT berfirman:

فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ. أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ

Artinya: "Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan silaturahim? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dibuat tuli pendengarannya dan dibutakan penglihatannya." (QS. Muhammad: 22-23)

Adapun yang dimaksud dengan rahim atau arham yang wajib disambung adalah para kerabat kita baik dari jalur ayah atau ibu, seperti paman dan bibi serta putra putri mereka.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Memutus silaturahim artinya apabila seseorang melakukan sesuatu yang menyebabkan renggang dan putusnya hubungan dengan kerabatnya.

Hal itu seperti tidak mengunjungi mereka dalam momen kebahagiaan atau momen kesedihan, tidak menelepon mereka sama sekali, atau mungkin tidak mau memberikan bantuan kepada kerabat yang membutuhkan, padahal ia mampu.

Hari raya adalah salah satu momen kegembiraan. Karenanya, pada hari ini kita sangat dianjurkan untuk menyambung silaturahim dengan keluarga dan kerabat kita.

Janganlah kita terjerat dengan tipu daya setan yang mendorong kita untuk mengatakan, "kerabatku itu telah menyakitiku, maka aku tidak akan mengunjunginya," "Kerabatku itu tidak mengunjungiku maka aku memutus hubungan dengannya," dengan dalih membalas perlakuan buruk dengan keburukan.

Perilaku semacam ini adalah sebab terhalang dari kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلٰكِنَّ الْوَاصِلَ مَنْ وَصَلَ رَحِمَهُ إِذَا قَطَعَتْ

Artinya: "Orang yang sempurna silaturahimnya bukanlah orang yang membalas silaturahim dengan silaturahim, akan tetapi orang yang sempurna silaturahimnya adalah orang yang menyambung silaturahim terhadap kerabatnya yang memutus silaturahim dengannya." (HR Bukhari)

Hadis ini menyatakan bahwa silaturahim seseorang terhadap kerabat yang memutus silaturahim dengannya lebih utama daripada silaturahim terhadap kerabat yang menyambung silaturahim dengannya.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ

Artinya: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS Fushshilat: 34)

Yang dimaksud dengan "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik" adalah seperti menyikapi marah dengan sabar, tindakan yang bodoh dibalas dengan sikap bijak dan memberi maaf, dan perbuatan buruk dibalas dengan perbuatan baik. Sikap seperti ini akan menyatukan hati dan mengubah keadaan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kami juga mengingatkan kita semua pada momen bahagia di hari raya ini untuk saling mengunjungi antartetangga dan teman, serta saling berbagi dan memberi.

Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi:

الْمُتَحَابِّيْنَ فِيَّ، حَقَّتْ مَحَبَّتِيْ عَلَى الْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ، حَقَّتْ مَحَبَّتِيْ عَلَى الْمُتَزَاوِرِيْنَ فِيَّ، حَقَّتْ مَحَبَّتِيْ عَلَى الْمُتَبَاذِلِيْنَ فِيَّ

Artinya: "Mahabbah (kecintaan dan pemberian nikmat)-Ku aku berikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, mahabbah-Ku aku berikan kepada orang-orang yang saling menasihati karena-Ku, mahabbah-Ku aku berikan kepada orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku dan mahabbah-Ku aku berikan kepada orang-orang yang saling memberi karena-Ku." (HR Ibnu Hibban)

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنَ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَلْيَفْعَلْ

Artinya: "Barang siapa yang dapat melindungi dirinya dari neraka walaupun dengan bersedekah dengan separuh dari buah kurma, hendaklah ia lakukan." (HR Muslim)

Di masa-masa sulit seperti saat ini, ketika banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak orang sulit mencari pekerjaan, banyak orang jatuh miskin, banyak orang membutuhkan bantuan, maka janganlah melupakan sedekah.

Kita mulai bersedekah dan membantu kerabat kita yang membutuhkan. Karena bersedekah kepada kerabat, tercatat dua pahala, yaitu pahala silaturahim dan pahala sedekah.

Lalu kita bersedekah dan membantu tetangga-tetangga kita yang membutuhkan. Dan jika kita mampu, setelah itu kita bersedekah dan membantu setiap orang yang membutuhkan bantuan.

Dengan sedekah, bisa jadi kita akan dihindarkan dari wabah serta berbagai penyakit dan keburukan. Bahkan dengan sedekah, kelak kita akan dihindarkan dan dijauhkan dari api neraka serta dimasukkan langsung ke dalam surga.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Dalam kesempatan ini, saya juga mengingatkan diri saya sendiri dan hadirin sekalian untuk menyempatkan diri berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Baginda Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: "Barang siapa berpuasa Ramadan dan mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka hal itu menyerupai puasa setahun penuh." (HR Muslim)

Oleh karena itu, janganlah kita lewatkan kebaikan yang sangat agung ini, apalagi kita sudah terbiasa berpuasa sebulan penuh selama Ramadan. Karena pahala besar seperti ini belum tentu akan kita dapat dalam amalan sunnah yang lain.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Demikianlah khutbah Idul Fitri pada pagi hari yang penuh keberkahan ini. Semoga Allah segera mengangkat segala musibah dari negeri yang kita cintai ini. Dan mudah-mudahan kita dipertemukan kembali dengan Ramadan pada tahun yang akan datang.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، فَاللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى فِي هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيْمِ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوْا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ، وَصَلِّ اللهم وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: (إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالصَّالِحِينَ،

اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللهم اجْعَلْ عِيْدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهم أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Demikian tujuh contoh khutbah Idul Fitri 2026 yang menyentuh hati dan dapat menjadi referensi dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada jemaah. Setiap khutbah pada dasarnya bukan hanya rangkaian kata, melainkan nasihat yang diharapkan mampu menggerakkan hati, memperkuat keimanan, serta mendorong setiap Muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan.

Semoga melalui khutbah yang penuh makna, kita semua dapat menjaga semangat ibadah, mempererat silaturahmi, serta terus menebar kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat merayakan Idul Fitri, semoga amal ibadah kita diterima dan kita dipertemukan kembali dengan Ramadan di tahun-tahun berikutnya.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



(num/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads