Makam Mbah Lancing di Kebumen, Jawa Tengah, yang sangat dikeramatkan oleh warga penuh dengan tumpukan kain batik. Ribuan kain batik di atas batu nisan itu merupakan bentuk rasa syukur dan ucapan terima kasih dari para peziarah setelah hajatnya terkabul.
Karena kharismanya sebagai seorang wali yang berjasa menyebarkan agama Islam di daerah pesisir selatan Jawa terutama di Kebumen, hingga kini banyak peziarah yang datang untuk mendoakan Kyai Lancing sekaligus meminta suatu hajat. Banyak peziarah yang percaya jika permintaan mereka akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa melalui perantara Mbah Lancing.
Sebagai ucapan terima kasih karena doa dan keinginannya tercapai, biasanya peziarah akan kembali lagi ke makam tersebut dan memberi kain batik yang diletakkan di atas pusara Mbah Lancing. Sampai saat ini sudah tidak terhitung lagi berapa lembar kain batik yang tertumpuk hingga setebal lebih dari satu meter itu. Bahkan, salah satunya merupakan kain batik dari Jokowi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penampakan makam Mbah Lancing di Desa/Kecamatan Mirit, Kebumen, Selasa (10/3/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng |
Namun kain batik yang diberikan sebagai hadiah tersebut bukanlah sembarang kain batik yang bisa dibeli di pasar atau toko melainkan batik khusus yang harus dibuat langsung oleh warga yang telah ditunjuk. Batik harus berwarna dominan hitam cokelat dan bermotif contong yang merupakan kesukaan Mbah Lancing.
Juru kunci makam, Kamdi (75) menyebut, mulai dari warga biasa, pejabat bahkan calon presiden pun datang ke tempat tersebut untuk ngalap berkah. Bahkan, Presiden Soekarno hingga Jokowi juga pernah sowan ke makam Mbah Lancing.
"Sebagai bentuk syukur atau ucapan terima kasih, maringi jarit (kasih jarik) batik Contong. Jokowi juga dulu mbalik lagi ngasih jarik. Tumpukan jarik nggih ewon (tumpukan jarik sudah ribuan)," kata Kamdi saat ditemui detikJateng, Senin (9/3/2026).
Penampakan makam Mbah Lancing di Desa/Kecamatan Mirit, Kebumen, Selasa (10/3/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng |
Makam yang terletak di Dukuh Kauman, Desa Mirit, Kecamatan Mirit ini setiap hari selalu ramai dikunjungi peziarah terutama pada bulan Ruwah dan Sura. Tidak hanya warga Kebumen dan sekitarnya, namun mereka yang datang berasal dari luar Jawa dan seluruh Indonesia.
"Peziarah dari mana saja, seluruh Indonesia," imbuhnya.
Nama Mbah Lancing sendiri merupakan nama panggilan dari masyarakat sekitar pada waktu itu karena semasa hidupnya beliau senang memakai kain batik untuk bebedan atau celana yang disebut juga dengan lancing sehingga kemana pun perginya selalu memakai lancing. Adapun batik yang digunakan sebagai lancing dominan berwarna hitam cokelat dan bermotif contong, itu lah mengapa sampai saat ini peziarah memberikan hadiah kain batik contong yang merupakan kesukaan Mbah Lancing.
"Mbah Lancing itu wali, penyebar islam di Yogyakarta sampai Kebumen dan sekitarnya. Namanya Mbah Lancing atau Mbah Bayi, sedane dereng kromo (meninggalnya belum menikah). Dikasih nama Mbah Lancing karena beliau Lancingan atau pakai celana Lancing," jelasnya.
Penampakan makam Mbah Lancing di Desa/Kecamatan Mirit, Kebumen, Selasa (10/3/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng |
Makam Mbah Lancing berdampingan dengan makam ayahnya Ketidjojo. Tepat di depan makam berdiri bangunan bergaya joglo dengan tiang dan dinding kayu berukir yang sering digunakan para peziarah untuk menggelar doa bersama.
"Yang di sebelah baratnya ini bapaknya, Kyai Ketidjojo dan yang di selatannya ini pengikutnya, Kyai Dipodrono," ucapnya.
Sementara itu, Kades Mirit, Wahidin yang merupakan tokoh masyarakat setempat menjelaskan bahwa ribuan batik Contong di atas pusara Mbah Lancing tersebut dibuat khusus oleh perempuan yang sudah tidak mengalami menstruasi lagi. Hal itu melambangkan bahwa si pembuat batik adalah orang suci.
"Jadi kain batik itu kainnya tidak sembarangan asal batik. Itu yang bikin batik orang perempuan yang sudah tidak datang bulan dalam arti sudah tidak haid, memang kriterianya seperti itu. Jadi orang yang sudah bersih sudah tidak datang bulan sudah tidak haid. Itu kain batik yang digunakan untuk menutup makam Mbah Lancing. Juru kunci juga sudah menyediakan kalau ada peziarah yang membutuhkan kain batik tersebut," jelasnya.
Makam Mbah Lancing di Dukuh Kauman, Desa Mirit, Kecamatan Mirit, Kebumen. Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng |
(afn/dil)




