5 Teks Khutbah Jumat Akhir Ramadan 2026 Singkat dan Menyentuh Hati

5 Teks Khutbah Jumat Akhir Ramadan 2026 Singkat dan Menyentuh Hati

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Kamis, 12 Mar 2026 20:24 WIB
Kumpulan teks khutbah Jumat akhir Ramadan 2026 yang singkat dan menyentuh hati lengkap dengan yang berbahasa Jawa.
Khutbah Jumat. (Foto: Raka Dwi Wicaksana/Unsplash)
Solo -

Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, umat Islam memasuki fase terakhir yang penuh makna. Hari-hari ini menjadi waktu untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta memohon agar seluruh amal yang telah dilakukan selama sebulan penuh diterima oleh Allah SWT. Tidak sedikit umat Islam yang merasakan haru karena Ramadan segera berlalu, sementara harapan untuk meraih ampunan dan keberkahan tetap terus dipanjatkan.

Salah satu momen penting di penghujung Ramadan adalah pelaksanaan khutbah Jumat yang biasanya mengangkat tema refleksi diri, rasa syukur, serta ajakan untuk mempertahankan nilai-nilai kebaikan setelah Ramadan berakhir. Pesan-pesan yang disampaikan dalam khutbah di akhir Ramadan sering kali lebih menyentuh hati karena mengingatkan jamaah tentang makna ibadah, taubat, dan keikhlasan.

Oleh karena itu, teks khutbah Jumat yang singkat namun penuh pesan spiritual sangat dibutuhkan agar khatib dapat menyampaikan nasihat dengan jelas dan menyentuh jamaah. Berikut 5 teks khutbah Jumat akhir Ramadan 2026 yang singkat dan menyentuh hati yang dapat dijadikan referensi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapan Jumat Terakhir Ramadan 2026?

Penentuan Jumat terakhir di bulan Ramadan dapat berbeda tergantung metode penetapan awal bulan hijriah yang digunakan. Di Indonesia, rujukan utama biasanya berasal dari keputusan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia serta pandangan organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

ADVERTISEMENT

Menurut perhitungan hisab yang digunakan Muhammadiyah, Ramadan 1447 H dimulai lebih awal sehingga Jumat terakhir Ramadan diperkirakan jatuh pada 13 Maret 2026, yang bertepatan dengan 24 Ramadan 1447 H dalam kalender mereka.

Sementara itu, jika mengikuti perkiraan kalender pemerintah yang memungkinkan bulan Ramadan berlangsung 30 hari, maka Jumat terakhir Ramadan diprediksi jatuh pada 20 Maret 2026. Tanggal tersebut berpotensi menjadi hari Jumat terakhir sebelum atau berdekatan dengan datangnya Idul Fitri.

Meski demikian, penetapan resmi terkait akhir Ramadan dan awal Syawal tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan hari-hari terakhir Ramadan untuk memperbanyak ibadah, zikir, dan amal saleh sebagai persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Khutbah Jumat Akhir Ramadan

Berikut adalah khutbah Jumat pada penghujung Ramadan yang bisa dijadikan referensi, terdapat juga khutbah berbahasa Jawa bagi detikers. Khutbah berikut dirangkum dari laman NU Online, Universitas Muhammadiyah Jember, dan buku Kumpulan Khutbah Jumat: Dilengkapi Khutbah Idul Fitri & Idul 'Adha karya Abdul Latif Wabula.

Khutbah Jumat #1: Akhir Ramadhan Susah Atau Senang

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْفُرْقَانَ لِلْعَالَمِينَ بَشِيرًا وَنَذِيرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Wasiat untuk bertakwa ini sangat penting bagi kehidupan kita di dunia, agar kita memperoleh keselamatan dan keberkahan hingga di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan Islam."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Tanpa terasa, kita telah berada di penghujung bulan suci Ramadhan. Di akhir Ramadhan ini ada dua perasaan yang sering muncul di hati kaum muslimin.

Pertama, ada yang merasa sedih dan menangis karena berpisah dengan Ramadhan. Mereka merasa kehilangan, seolah-olah tertimpa musibah. Sebab mereka memahami bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِذَا كَانَ آخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ بَكَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْمَلَائِكَةُ لِمُصِيبَةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

Artinya: "Apabila tiba malam terakhir bulan Ramadhan, maka langit, bumi, dan para malaikat menangis karena musibah yang menimpa umat Nabi Muhammad."

Para sahabat bertanya, "Apakah musibah itu wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab, "Perpisahan dengan bulan Ramadhan, karena pada bulan itu doa-doa dikabulkan dan sedekah diterima."

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: "Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan bulan Ramadhan. Karena itu, orang-orang yang memahami keistimewaan Ramadhan akan merasa sedih ketika bulan yang mulia ini akan berakhir.

Namun di sisi lain, ada pula yang merasa bahagia. Mereka bahagia karena mampu menjalankan puasa dengan baik, mampu menahan diri dari godaan, serta diberi kesehatan oleh Allah SWT sehingga dapat menyempurnakan ibadah selama Ramadhan.

Kebahagiaan itu akan mencapai puncaknya pada Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan bagi orang-orang yang berhasil melewati bulan Ramadhan dengan penuh ketaatan.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Artinya: "Sesungguhnya Allah telah mengganti bagi kalian dua hari yang lebih baik, yaitu Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mungkin di antara kita ada yang belum mampu menjalankan puasa secara sempurna karena uzur syar'i, seperti sakit, bepergian, hamil, atau kondisi fisik yang lemah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 184:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: "Barang siapa sakit atau dalam perjalanan sehingga tidak berpuasa, maka wajib menggantinya di hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan."

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan, kesehatan, dan umur panjang sehingga kita dapat memperbaiki ibadah kita dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan memperbanyak amal saleh, karena sebaik-baik bekal dalam kehidupan adalah ketakwaan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Khutbah Jum'at #2: Optimalisasi Ibadah pada Akhir Ramadhan

Khutbah Pertama

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالتَّمَسُّكِ بِهَذَا الدِّينِ تَمَسُّكًا قَوِيًّا.

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.


Hadirin jamaah sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan berbagai nikmat kepada kita. Nikmat yang begitu banyak hingga kita tidak mampu menghitungnya satu per satu.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Di antara sekian banyak nikmat tersebut, dua nikmat yang sangat besar adalah nikmat iman dan kesehatan. Dengan kedua nikmat inilah kita dapat beribadah kepada Allah SWT, termasuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah pada hari ini.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan ini, marilah kita saling menasihati untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab sebaik-baik bekal dalam perjalanan hidup menuju akhirat adalah bekal takwa.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)

Renungan di Penghujung Ramadhan

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Hari ini kita telah berada di penghujung bulan Ramadhan. Tanpa terasa, perjalanan bulan suci ini begitu cepat berlalu. Tidak sampai beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini.

Ada sebagian orang yang bersikap biasa saja dengan datang dan perginya Ramadhan, tanpa ada perubahan dalam ibadahnya. Namun ada pula yang begitu bahagia menyambut Ramadhan dan merasa sedih ketika bulan yang mulia ini akan meninggalkan mereka.

Padahal Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seseorang akan sangat merugi jika melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

"Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sementara dosa-dosanya belum diampuni." (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, ada dua hal penting yang perlu kita renungkan di penghujung Ramadhan ini.

1. Apakah Puasa Kita Melahirkan Ketakwaan?

Allah SWT menjelaskan tujuan diwajibkannya puasa dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa berarti melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Orang yang bertakwa tercermin dari sikapnya yang mampu menahan diri dari sifat-sifat tercela seperti iri, dengki, dan amarah.

Sebaliknya, orang yang bertakwa akan gemar bersedekah, sabar dalam kesulitan, dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 134)

Namun kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing: apakah puasa yang kita jalani telah benar-benar melahirkan ketakwaan?

Rasulullah SAW juga mengingatkan:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. Ibnu Majah)

2. Apakah Ibadah Kita Sudah Dimaksimalkan?

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keutamaan ibadah. Allah memberikan kesempatan luas bagi setiap hamba-Nya untuk memperbanyak amal saleh.

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah mendekatkan diri kepada Al-Qur'an, karena Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur'an.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk tersebut." (QS. Al-Baqarah: 185)

Selain membaca Al-Qur'an, kita juga perlu memperbaiki kualitas shalat, memperbanyak sedekah, memperbanyak istighfar, serta meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah memberikan perumpamaan yang indah. Beliau mengatakan bahwa seekor kuda pacu akan mengerahkan seluruh tenaganya ketika mendekati garis akhir untuk meraih kemenangan.

Demikian pula seharusnya kita di akhir Ramadhan. Kita harus semakin giat memperbanyak ibadah, memperbanyak doa, dan memperbaiki kekurangan yang telah berlalu. Karena sesungguhnya nilai suatu amal tergantung pada penutupnya.

Semoga kita mampu memaksimalkan hari-hari terakhir Ramadhan ini dengan memperbanyak tilawah Al-Qur'an, qiyamul lail, sedekah, serta memohon ampun kepada Allah SWT.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Hadirin yang dirahmati Allah,

Sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, mari kita manfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya untuk beribadah kepada Allah SWT. Kita tidak pernah tahu apakah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan pada tahun berikutnya.

Oleh karena itu, jangan sampai bulan yang penuh rahmat ini berlalu tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita.

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar setelah Ramadhan ini kita menjadi hamba yang lebih bertakwa, mendapatkan ampunan-Nya, dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan di masa yang akan datang.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً

وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً

وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Khutbah Jumat #3: Njungkung Ibadah ing Akhiripun Ramadhan

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْعَظِيْمِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كُنِّيَ بِأَبِي الْقَاسِمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Kaum Muslimin ingkang minulyo

Monggo kito samiyo tansah netepi takwa dateng Allah, kanti nindakaken sedoyo perintahipun, soho nebihi sedoyo awisanipun. Tansah netepono takwa lan taat dateng Allah, supados kito pikantuk rahmat lan kanugerahan, ing donyo puniko ngantos mbenjang dumugi akhirat, amin.

Kaum Muslimin ingkang minulyo

Wonten ing sepuluh dalu akhiripun Wulan Ramadhan, estunipun Allah maringaken rahmat kanugerahan ingkang linangkung agung tumrap poro kawulanipun ingkang sami njungkung ibadah. Amergi kamulyanipun Wulan Ramadhan ingkang kadunungan lailatul qadar, ingkang mulyanipun nglangkungi sewu wulan. Kados dawuhipun Allah:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artosipun: "Lailatul qadar iku luwih becik ketimbang sewu wulan." (QS Al Qadar: 3)

Kanjeng Nabi naliko sampun dumugi akhiripun Ramadhan panjenenganipun cancut taliwondo gumbregah dalu adang-adang lailatul qadar, kanti njungkung ibadah, lan nggugahi sedoyo keluargo supados sami tumandang ibadah. Kados hadits ingkang dipun riwayataken Siti Aisyah ra ingkang artosipun kirang langkung mekaten:

"Kanjeng Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa sallam puniko naliko sampun manjing sedoso dinten ingkang akhir saking Wulan Ramadhan, panjenenganipun nggegesang dalu, lan nggugahi sedoyo keluarganipun lan ugi nyancutaken nyamping/agemanipun." (HR Bukhari dan Muslim)

Kaum Muslimin ingkang minulyo

Siti Aisyah nate matur nyuwun pirso dateng Kanjeng Nabi kanti aturipun mekaten:

يارسول الله لووفقت ليلة القدر فما اقول

Artosipun: "Duh Rasulullah, sak umpami kulo manggihi lailatul qadar, doa punopo ingkang kedah kawula waos?."

Lajeng Rasulullah paring dawuh:

قولي اللهمّ إنّك عفوٌّ كريم تحبّ العفو فاعف عنّي

Artosipun: "Sliramu mocoho: Allahumma innaka 'afuwwun karim tuhibbul afwa fa'fu 'anni (Duh Gusti Allah sakestu Paduko Dzat ingkang Moho Paring Pangapunten tur Moho Loman, Paduko tresno dateng pangapunten, mugi ngapunteno dateng kawulo)."

Kaum Muslimin rahimakumullah

Imam Ar Razi ing Kitab Tafsir Mafatihul Ghaib utawi ingkang kawentar sinebat Tafsir Al Kabir, nyariyosaken pengundangipun Malaikat Jibril ingkang kirang langkung artosipun mekaten:

"Bilih yektosipun ing lailatul qadar puniko Gusti Allah mirsani dateng sedoyo Muslimin, kanti paring rahmat soho ampunan dateng doso lepatipun tiyang-tiyang mukmin kejawi sekawan golongan. Inggih puniko, wong kang nduwe kesenengan ngombe arak, utowo minuman kang mendemi; wong kang wani marang wong tuwo lorone; wong kang medot taline paseduluran; lan wong kang ngenengke sedulur Islam, ora gelem ngajak utowo diajak guneman luwih telung ndina."

Mugi-mugi kito kalebet kawulo ingkang pikantuk rahmat lan maghfirah ing lailatul qadar, pinaringan istikamah ngantos paripurnanipun Ramadhan. Sedoyo ibadah kito katampi maqbul ing ngarsanipun Allah subhanahu wa ta'ala.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَاِن الرَّ جِيْمِ . ِبسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّ حِيْمِ

إِنَّا أَنْزَلْنهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِهِّمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِىَ حَتّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلى اٰلِه وَصَحْبِه اَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِه وَصَحْبِه وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْ صِيْكُمْ وَ اِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ,إتقوا الله حق تقاته. اَمَّا بَعْدُ .قاَلَ اللهُ تَعَالى :اَعُوذُ بِا للهِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ بِسمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ. وَقَالَ أَيْضًا: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوْا كُتِبَ عَلَيكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقُونَ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلى اٰلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَاصَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ,وَبَارِكْ عَلى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلى اٰلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَابَارَكْتَ عَلى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى اٰلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

إِنَّ ٱللهَ وَمَلَٰآئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْاَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبِّ اغْفِرْوَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ.

رَبَنَّا اغْفِرْلَنَاوَلِوَالِدِيْنَاوَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانَاصِغَارًا. رَبَنَّااغْفِرْلَنَاوَإِخْوَانِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَاغِلًّا لِلَّذِيْنَ أٰمَنُوْارَبَّنَآإِنَّكَ رَئُوْفُ رَّحِيْمٌ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أزْوَاجِنَاوَذُرِّيَّاتَنَاقُرَّةَأَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٌ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٌ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْنَ وَسلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبى وَيَنْهى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Khutbah Jumat #4 (Bahasa Jawa): Ningkataken Ibadah Wonten Akhir Wulan Ramadhan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرَ الصِّيَامِ شَهْرٌ فِيهِ تُطْهَرُ أَنْفُسُنَا مِنَ الْمَعَاصِي وَالْآثَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً أُدَّخِرُهَا لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى دَارِ السَّلَامِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِصْبَاحِ الظَّلَامِ صَلَاةً تَشْفِينَا بِهَا مِنَ الدَّاءِ وَالْأَسْقَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الزِّحَامِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ خَالِقِ الْأَنَامِ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ بِالسَّلَامِ، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Para sederek Kaum Muslimin ingkang minulya!

Manggo tansah samiya netepi taqwa lan ta'at dateng ngarsa Dalem Allah kanti berusaha supados ibadah kito soyo meningkat, sedoyo perintahipun Allah kanthi sekuat tenaga sageto kito lampahi serto ambudi daya amrih sedaya awisanipun saget kito tilar, minongko dados tekad soho sarono kito sedoyo angrungkebi iman lan Islam ing saklebetipun gesang punika, ing pangangkah kito sedoyo kalebet kawulo-kawulo nipun Allah ingkang tansah tumindak sae soho pinaringan khusnul khatimah.

Kados dawuhipun Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"He wong wong kang pada iman, pada wediyo siro kabeh ing Gusti Allah kelawan sak nyatane wedi ing Gusti Allah, lan ojo mati temenan siro kabeh kejobo siro kabeh dadi wong Islam." (QS. Ali Imran: 102).

Para sederek Kaum Muslimin ingkang minulya!

Saat niki kita sampun mlebet detik-detik pungkasan ing wulan Ramadhan. Pramila sumangga kita ngginakaken dinten pungkasan ing wulan Ramadhan punika kanthi sae. Amargi ing pungkasan wulan Ramadhan kita biasane sibuk kalih persiapan ritual Idul Fitri kados nyiyapaken suguhan jajan bada, tumbas klambi lebaran saha sanesipun. Senadyan mboten salah, ananging persiapan lebaran sampun ngantos ngganggu konsentrasi ibadah kita ing akhir wulan Ramadhan niki. Persiapan Idul Fitri mboten ngganggu ibadah ingkang sampun kita laksanaaken wiwit awal Ramadhan, kados ta sholat berjamaah, maos Al-Qur'an, sholat terawih lan ibadah sanesipun.

Ing pungkasaning wulan Ramadhan punika kita kedah introspeksi utawi muhasabah, wiwit awal wulan Ramadhan dumugi samenika punapa kita sampun maksimal anggenipun nindakaken ibadah. Menawi dereng, saat menika ing sepuluh dina pungkasan saking Ramadhan mongga kita tingkataken ibadah kita, sami ugi ingkang wajib saha ingkang sunnah. Wonten mahfudzat ingkang dawuh:

اِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ

Artisipun: "Saben amal gumantung ing hasil pungkasan."

Para sederek Kaum Muslimin ingkang minulya!

Rasulullah SAW paring tuladha ingkang gamblang nalika ngadhepi sepuluh dinten pungkasan ing wulan Ramadhan. Kacariyosaken saking Siti Aisyah radhiyallahu 'anha makaten:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Nalika mlebet sepuluh dina pungkasan, Nabi Muhammad SAW ngencengaken sarungipun, nguripake wengi lan nggugah keluarganipun. (Riwayat Bukhari Muslim).

Ibnu Hajar al-Asqalani wonten Kitab Fathul Bari paring penjelasan bilih ingkang dipun maksud شَدَّ مِئْزَرَهُ inggih punika Rasulullah ing sepuluh dina pungkasan Ramadhan langkung fokus nindakaken ibadah lan mboten kendur. Rasulullah ugi ngajak kulawarganipun supados langkung semangat ngibadah ing sepuluh dina pungkasan Ramadhan.

Sampun masyhur mayoritas ulama berpendapat bilih wonten ing sepuluh dinten pungkasan Ramadhan ana wengi khusus ingkang diarani Lailatul Qadar, utamane ing wengi ganjil. Kanjeng Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dawuh:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

"Golekono Lailatul Qadar iku ana ing sepuluh malam pungkasan Ramadhan." (HR. Bukhari).

Para sederek Kaum Muslimin ingkang minulya!

Lailatul Qadar menika momen ingkang tansah dirindukan dening kaum muslimin. Allah Ta'ala dawuh:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

"Satemene Ingsun nurunake Al-Qur'an ing wengi kang berkah." (QS. Ad-Dukhan: 3).

Lan ugi dawuh:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Lailatul Qadar iku luwih utama tinimbang sewu wulan." (QS. Al-Qadr: 3).

Para malaikat tumurun ing wengi punika kados dawuhipun Allah:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

"Ing dalu iku para malaikat lan ruh (Jibril) tumurun kanthi idin Pangerane kanggo ngatur kabeh urusan." (QS. Al-Qadr: 4).

Supados saged mapak malam Lailatul Qadar kita dianjuraken memperbanyak dzikir, istighfar, sholat sunnah, maos Al-Qur'an, i'tikaf lan donga. Salah satunggaling donga ingkang dipun ajaraken Rasulullah SAW dhateng Sayyidah Aisyah yaiku:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allah, satemene Panjenengan Maha paring pangapura lan remen pangapura, mugi Panjenengan paring pangapura dateng dosa-dosa kula."

Ugi saged maos donga:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Allah, paringana kabecikan ing donya lan kabecikan ing akhirat lan slametna kita saking siksa neraka."

Mugi-mugi Allah paring pitulungan dhateng kita sedaya supados saged nglampahi ibadah Ramadhan kanthi istiqamah lan nutup Ramadhan kanthi amal ingkang sae.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Jumat #5: Episode Akhir Ramadhan

وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

قال تعالى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

أما بعد:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Jamaah jumah rahimakumullah

Selangit pujian dan syukur yang tidak bertepi, kepunyaan Allah Rabbul Izzati. Hari ini, dalam selimut kasih sayang-Nya, kita masih diberikan kesempatan untuk rukuk dan sujud kepada-Nya. Hari ini jantung kita masih berdenyut sehingga dapat menikmati secara gratis segala nikmat yang telah Allah sediakan kepada kita.

Maka teruslah bersyukur dan bertahmid kepada-Nya. Karena tidak akan binasa orang yang bersyukur dan akan celaka orang yang ingkar kepada-Nya.

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengatakan:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا

"Siapa orang yang tidak mensyukuri nikmat, berarti dia menginginkan hilangnya nikmat itu."

وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا

"Dan barangsiapa yang mensyukurinya, berarti dia telah secara kuat mengikatnya."

Salawat nan taslim semoga tercurah kepada kekasih kita Nabiyullah Muhammad SAW, figur teladan sepanjang masa.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah

Substansi dari siyam Ramadhan yang telah kita lakukan sampai hari ini adalah untuk mengkader dan membentuk kita menjadi pribadi muslim yang baik dan bertakwa. Oleh karena itu, lewat kesempatan yang mubarak ini, mari bersama kita kuadratkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Takwa sebagaimana dijabarkan oleh Ali bin Abi Thalib:

الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيلِ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيلِ وَالرِّضَا بِالْقَلِيلِ وَالِاسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيلِ

"Hakikat takwa adalah takut kepada Allah, beramal sesuai Al-Qur'an, ridha dengan nikmat yang sedikit, dan mempersiapkan bekal untuk hari akhir."

Allah SWT berfirman:

"Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."

(QS. Al-Baqarah: 197)

Jamaah jumah yang berbahagia

Maha Agung Allah SWT yang telah menggantikan malam kepada siang dan siang menuju malam. Detik berpindah menit, menit berganti jam, jam berpindah hari, hari berganti bulan, dan bulan beredar menjadi tahun.

Semua nikmat dan berkah-Nya berpadu pada satu puncak bulan, yaitu bulan Ramadhan. Kini tanpa terasa, madu Ramadhan telah kita teguk, dan sekarang kita telah sampai di tetesan terakhir untuk kita nikmati.

Jumat ini merupakan Jumat penutup dari Ramadhan. Sebentar lagi Ramadhan akan berpamitan dan meninggalkan kita dalam waktu yang cukup lama.

Maka alangkah beruntungnya mereka yang telah mengambil emas, intan dan mutiara darinya, serta meneguk madu kebaikan darinya. Dan betapa meruginya mereka yang telah mengabaikan dan menyia-nyiakan kedatangannya.

Jamaah jumah rahimakumullah

Harus kita sadari bahwa kepergian Ramadhan merupakan musibah besar bagi umat Islam. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan:

إِذَا كَانَ آخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ بَكَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْمَلَائِكَةُ لِمُصِيبَةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

"Apabila tiba akhir malam dari bulan Ramadhan, menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah yang menimpa umat Muhammad."

قِيلَ: أَيُّ مُصِيبَةٍ؟

قَالَ: ذَهَابُ رَمَضَانَ لِأَنَّ الدُّعَاءَ فِيهِ مُسْتَجَابٌ وَالصَّدَقَةَ فِيهِ مَقْبُولَةٌ

Sahabat bertanya: "Musibah apakah itu wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab: "Perpisahan dengan Ramadhan, karena pada bulan itu doa dikabulkan dan sedekah diterima."

Jamaah jumah yang berbahagia

Jika bumi, langit, dan malaikat bersedih atas kepergian Ramadhan, lantas bagaimana dengan kita?

Adakah di antara kita yang merasa kehilangan?

Adakah di antara kita yang bersedih akan kepergiannya?

Ataukah hati kita telah membatu dan air mata kita membeku?

Padahal orang-orang salaf dahulu menangis ketika Ramadhan akan berakhir, karena mereka takut amal mereka tidak diterima oleh Allah SWT.

Maka mereka berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Wahai Rabb kami, terimalah puasa kami, shalat kami, ruku dan sujud kami serta bacaan Al-Qur'an kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Saudaraku rahimakumullah

Bisa jadi Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir dalam kehidupan kita. Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin akan bertemu Ramadhan tahun depan.

Allah berfirman:

فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ

"Janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri."

(QS. Ibrahim: 22)

Jamaah jumah rahimakumullah

Ramadhan telah mendidik kita menjadi insan yang lebih baik. Maka jangan sampai setelah Ramadhan kita kembali menyakiti orang lain, memfitnah, membuka aib, dan mencaci sesama.

Ramadhan telah mentarbiyah kita menjadi muslim yang berkarakter dan religius. Maka implementasikan nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

Jamaah jumah rahimakumullah

Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk berbagi kepada anak yatim dan fakir miskin. Rasulullah SAW bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ

"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang."

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian."

(HR. Tirmidzi)

Sebentar lagi Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. Namun komitmen kita adalah tetap istiqamah dalam ketaatan pada sebelas bulan berikutnya.

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

"Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain."

Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit."

Tidak ada yang dapat kita ucapkan selain perpisahan:

Ilal liqaa yaa Ramadhan.

Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang akan datang.

آمِين.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Jumat di akhir Ramadan menjadi kesempatan penting untuk mengingatkan umat Islam agar tidak hanya bersemangat dalam beribadah selama bulan suci saja, tetapi juga mampu mempertahankan kebiasaan baik tersebut setelah Ramadan berlalu. Nilai-nilai seperti kesabaran, kepedulian sosial, serta kedekatan kepada Allah SWT diharapkan tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga berbagai teks khutbah Jumat akhir Ramadan 2026 ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi para khatib dalam menyampaikan pesan-pesan keimanan kepada jamaah. Dengan demikian, momentum penghujung Ramadan dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, dan mempersiapkan diri menyambut Idul Fitri dengan hati yang bersih.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(sto/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads