Angin kencang kerap melanda Kota Semarang beberapa waktu belakangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG) pun menjelaskan penyebab fenomena tersebut.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Risca Maulida, menjelaskan angin kencang yang menerjang Kota Semarang dan sekitarnya itu dipicu aktivitas tiga bibit siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia. Tiga bibit siklon itu masing-masing terpantau di Samudera Hindia selatan Jawa Tengah, perairan barat Australia, dan Teluk Karpentaria.
"Kejadian angin kencang atau yang disebut puting beliung terjadi karena pantauan bibit siklon, di mana ada tiga bibit siklon, yaitu 90S di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah, 93S di perairan barat Australia, dan 92P di Teluk Karpentaria," kata Risca saat dihubungi, Jumat (6/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, keberadaan bibit siklon itu memicu terbentuknya belokan angin yang berdampak pada meningkatnya pertumbuhan awan konvektif di wilayah Jawa Tengah.
"Sehingga dapat menjadi potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang," terangnya.
Berdasarkan pengamatan di Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, kecepatan angin saat adanya angin kencang mencapai sekitar 22 knot atau setara 40 kilometer per jam. Bahkan sempat mengalami peningkatan hingga 44 knot atau sekitar 80 kilometer per jam.
"Untuk potensi angin kencang atau puting beliung sendiri belum dapat diprediksi. Mungkin untuk 3 hari ke depan hujan sedang hingga lebatnya masih ada. Sampai tanggal 7 (Sabtu) Maret 2026 yang disertai kilat, petir, dan angin kencang," ucap Risca.
Ia menambahkan, salah satu tanda awal kemunculan angin kencang dapat dikenali ketika kondisi cuaca yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap dan disertai pertumbuhan awan tebal.
"Angin yang terjadi biasanya karena adanya perubahan cuaca, dari cerah terus hujan dengan sangat mendadak. Apabila cuacanya cerah tiba-tiba gelap dan mulai terjadi perubahan angin, maka dapat berpotensi terjadinya angin kencang," kata dia.
BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi dampak cuaca ekstrem, seperti banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang. Warga juga diminta rutin memantau informasi cuaca dari sumber resmi serta berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan.
"Apabila terjadi bencana harap dihadapi dengan tenang, harap diperkuat juga konstruksi atap rumah, apabila terlihat sudah lemah. Untuk bepergian juga perlu melihat kondisi cuaca, tetap harus waspada hati-hati," imbaunya.
(apu/apl)
