Warga di sekitar kaki Gunung Slamet dihebohkan dengan kemunculan awan berbentuk menyerupai piring di langit. BMKG memberikan penjelasan terkait fenomena tersebut.
Video penampakan awan berbentuk piringan itu salah satunya diunggah akun Instagram @pemalang.update. Tampak beberapa warga mengabadikan momen langka awan berbentuk piringan di puncak Gunung Slamet.
"Warga sekitar kaki gunung Slamet ramai mengabadikan sebuah pemandangan langka, awan tebal yang membentuk piringan berlapis di langit sebelah Gunung Slamet," tulis akun @pemalang.update, Jumat (27/2/2026).
Saat dimintai konfirmasi, Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Ferry Oktarisa menjelaskan awan tersebut merupakan awan lenticularis. Menurutnya, fenomena itu lazim terjadi di wilayah pegunungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fenomena di Gunung Slamet itu merupakan fenomena yang sebenarnya biasa terjadi di wilayah pegunungan. Biasanya awan tersebut disebut awan lenticularis, terjadi akibat adanya angin kencang di lapisan atas atmosfer," kata Ferry saat dihubungi detikJateng.
Ia menegaskan, kemunculan awan lenticularis bukan pertanda akan terjadi bencana besar. Awan itu hanya mengindikasikan adanya angin kencang di lapisan atas atmosfer, terutama di area sekitar puncak gunung.
"Untuk awan lenticularis sendiri tidak mengakibatkan apa-apa. Hanya menandakan ada angin kencang di lapisan atas atmosfer, khususnya di atas pegunungan," ujarnya.
Meski tidak berdampak langsung bagi masyarakat di kaki gunung, kondisi tersebut perlu diwaspadai oleh pendaki. Angin di kawasan puncak berpotensi menguat secara tiba-tiba.
"Untuk pendaki tetap harus hati-hati bila melihat awan tersebut di wilayah pegunungan, karena bisa mengakibatkan angin kencang, utamanya di puncak. Di sekitar pegunungan biasanya juga sudah terasa anginnya, tapi paling kuat di atas," jelasnya.
Selain bagi pendaki, lanjut Ferry, fenomena ini juga berpotensi berdampak pada penerbangan. Awan lenticularis disebut bisa memicu turbulensi cukup kuat apabila ada pesawat yang melintas di lapisan tersebut.
"Yang berdampak besar itu biasanya bagi penerbangan. Jika ada penerbangan lewat di atasnya, bisa menimbulkan turbulensi yang kuat," kata Ferry.
Terkait waktu kemunculannya, Ferry mengatakan awan lenticularis bisa terjadi pada pagi, siang, maupun sore hari. Umumnya muncul saat musim pancaroba.
"Biasanya terjadi saat musim pancaroba, tapi bisa juga terjadi di saat seperti ini, puncak musim hujan," ungkapnya.
"(Durasi kemunculan) Biasanya tidak lama, sekitar 5-20 menit. Setelah itu bisa hilang atau berubah menjadi awan biasa," sambungnya.
Ferry menambahkan fenomena serupa juga bisa terjadi di gunung lain seperti kawasan Dieng, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi, selama terdapat angin kencang di puncaknya. Masyarakat di sekitar kaki gunung pun diimbau tidak panik.
"Untuk masyarakat tidak perlu khawatir karena ini bukan tanda bencana. Tetapi bagi pendaki tetap waspada terhadap potensi angin kencang," imbaunya.
(aku/ams)
