Pantauan hilal dilakukan di MTS Abadiyah Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati. Hasilnya hilal belum terlihat.
Pantauan detikJateng, rukyatul hilal dilakukan di lantai 4 MTS Abadiyah. Tim rukyah terdiri dari Kemenag Kabupaten Pati, PCNU, dan MA Salafiyah Kajen.
Terdapat dua alat teropong yang digunakan. Perwakilan tim rukyah pun bergantian melihat hilal dari lantai 4 ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Kemenag Kabupaten Pati, Ahmad Syaiku, mengatakan hasilnya belum melihat hilal. Kata dia hilal masih di bawah ufuk.
"Tapi kesimpulan semua belum melihathilal karena saat ini masih di bawah ufuk," jelasSyaiku ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026) petang ini.
Menurutnya hasil pengamatan sore ini akan disampaikan kepada Kementerian Agama Pusat. Kementerian Agama Pusat yang akan menentukan kapan awal Ramadan tahun ini.
"Hasil dari rukyatul hilal akan kami sampaikan kepada Kementerian Agama Pusat," kata Syaiku ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Menurutnya selain di Pati ada sebanyak 96 titik pengamatan hilal seluruh Indonesia. Menurutnya pengamatan ini dengan prinsip secara ilmiah. Ada dua teropong yang digunakan untuk pengamatan hilal menentukan awal bulan Ramadan tahun ini.
"Ada 96 titik se-Indonesia untuk melaksanakan rukyatul hilal. Dalam rangka memantau hilal, itu adalah dengan prinsip ilmiah," jelas Syaiku.
"Artinya kalau selama ini didahului oleh hisab secara astronomi, pada sore ini melaksanakan prinsip ilmiah sudah dibekali dengan alat. Alat ini yakin alat dipertanggungjawabkan karena sudah berbasis digital," dia melanjutkan.
Lebih lanjut menurutnya pengamatan ini juga prinsipnya transparan. Artinya pengamatan hilal ini disaksikan oleh beberapa pihak mulai dari Kemenag Pati, MUI, hingga PCNU Pati.
"Kedua prinsipnya transparan. Bisa menyaksikan secara transparan. Selanjutnya prinsip tanggung jawab. Harapan kita bersama tidak hanya sebagai tradisi setiap akan Ramadan. Tapi ini betul amanah syariah yang nanti akan digunakan pedoman masyarakat di Indonesia," ungkap dia.
