- Bagaimana Api Abadi Mrapen Bisa Menyala Terus-menerus?
- Mitos Kemunculan Api Abadi Mrapen
- Fakta-fakta Api Abadi Mrapen 1. Api Penting untuk Acara-acara Besar 2. Digunakan untuk Menempa Pusaka Kerajaan 3. Satu Tempat dengan Sendang Dudo 4. Masuk Wisata Api Abadi Mrapen Gratis
- FAQ 1. Adakah api abadi lain di Indonesia? 2. Apakah Api Abadi Mrapen bisa mati? 3. Kenapa dinamakan api abadi jika bisa mati?
Api Abadi Mrapen yang kabarnya telah menyala selama ratusan tahun, mati pada awal 2026. Kejadian ini menyebabkan pertanyaan-pertanyaan mengenainya tumbuh subur.
Sebagai informasi, 2026 bukan merupakan pertama kalinya Api Abadi Mrapen mati. Laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menyebut, api yang ada di Kabupaten Grobogan ini sempat berhenti 'bekerja' pada September 2020 lalu.
Usai 6 bulan tidak hidup, Api Abadi Mrapen dihidupkan kembali pada 20 April 2021. Keberhasilan ini tidak lepas dari upaya Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng yang melakukan penelaahan mendalam secara teknis dan mengeksekusi solusinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan padamnya Api Abadi Mrapen, muncul sederet tanda tanya di internet. Salah satunya mengenai cara Api Abadi Mrapen mempertahankan nyala selama bertahun-tahun. Berikut penjelasannya.
Poin Utamanya:
- Api Abadi Mrapen bisa hidup karena disuplai gas dari bawah tanah.
- Api Abadi Mrapen pernah mati pada 2020 lalu sebelum kembali dinyalakan tahun 2021. Awal 2026, Api Abadi Mrapen kembali padam.
- Sering digunakan di acara-acara besar, konon, Api Abadi Mrapen muncul akibat tusukan tongkat Sunan Kalijaga.
Baca juga: 5 Hal Tentang Padamnya Api Abadi Mrapen |
Bagaimana Api Abadi Mrapen Bisa Menyala Terus-menerus?
Secara sederhana, Api Abadi Mrapen hidup berkat gas yang tersembur dari bawah tanah. Bila dipantik, semisal dengan obor, api akan menyala. Ketika sumber gas itu terhalang, misal oleh lumpur, api menjadi padam.
"Prinsipnya, si gas ini tertutup sama media yang namanya lumpur, jadi terhambat jalannya gas itu," jelas Kabid Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono, di lokasi Api Abadi Mrapen pada Selasa (3/2/2026).
Sebenarnya, gas penyuplai Api Abadi Mrapen tahun 2026 tidak habis, hanya tekanannya mengecil akibat lumpur. Rencananya, Dinas ESDM Jateng akan melakukan treatment sehingga gas tersebut lancar kembali dan Api Abadi Mrapen terang lagi.
"Bukan padam sih sebetulnya, masih ada gasnya tapi kecil. Akan kita treatment supaya lebih lancar lagi gasnya supaya kembali ke semula," terang Dwi.
Mitos Kemunculan Api Abadi Mrapen
Penjelasan ilmiah ini juga disertai legenda penemuan Api Abadi Mrapen oleh Sunan Kalijaga. Diringkas dari skripsi Siti Khofifah berjudul Persepsi Masyarakat Terhadap Mitos Api Abadi Mrapen Kabupaten Grobogan, kisah berawal dari keruntuhan Kerajaan Majapahit.
Singkat cerita, Sunan Kalijaga pergi ke Majapahit, kemudian mengambil barang-barang peninggalan kerajaan besar itu. Rencananya, pusaka-pusaka Majapahit akan dibawa ke Demak.
Di tengah perjalanan, rombongan Sunan Kalijaga beristirahat. Lokasi persinggahan jauh dari pemukiman sehingga akses api untuk memasak maupun air bersih tidak ada. Setelah berdoa bersama para pengikutnya, Sunan Kalijaga menancapkan tongkat di tanah.
Dengan kuasa Allah SWT, saat tongkat diangkat, api keluar. Kemunculan api ini disebabkan gas dalam tanah yang keluar, lalu terbakar. Pusat semburan gas dengan diameter kurang lebih 1,5 meter itu diberi tumpukan batu kapur agar tidak berbahaya.
Fakta-fakta Api Abadi Mrapen
Terdapat sederet fakta menarik mengenai Api Abadi Mrapen. Di antaranya:
1. Api Penting untuk Acara-acara Besar
Bukan sekadar objek wisata unggulan Gorobogan, Api Abadi Mrapen sudah ikut serta berbagai perhelatan besar. Dilansir laman resmi Humas Provinsi Jateng, salah satunya adalah Asian Games 2018.
Pada pesta olahraga besar beberapa tahun lalu itu, Api Abadi Mrapen diambil, kemudian disatukan dengan obor dari India. Obor berisikan Api Abadi Mrapen diarak ke 18 provinsi guna menyosialisasikan Asian Games 2018.
Menurut keterangan dari buku Gelora Bung Karno tulisan Julius Pour, jauh sebelum Asian Games XVIII pada 2018, Api Abadi Mrapen sudah dipakai pada pembukaan Asian Games ke-IV tahun 1962. Api itu disulut, lalu dibawa secara estafet selama 4 hari oleh tak kurang 700 pelari ke Jakarta.
2. Digunakan untuk Menempa Pusaka Kerajaan
Dilansir jurnal Candi bertajuk 'Pengelolaan Tanah Api Abadi Mrapen Tahun 1963-2008 sebagai Warisan Budaya dan Relevansinya bagi Pembelajaran Sejarah' oleh Eka Novi Lestari dan Sariyatun Sri Wahyuni, Api Abadi Mrapen dahulu dipakai untuk menempa senjata Kerajaan Demak. Hal ini tidak terlepas dari tersedianya sumber daya di tempat itu.
Dalam cerita populer, salah satu pandai senjata yang menempa di Api Abadi Mrapen adalah Empu Supa. Di sanalah, ia membuat sederet keris pusaka, seperti Kyai Nogososro, Kyai Nogokikik, Kyai Nogowelang, dan Kyai Sengkelat.
Api Abadi Mrapen dipergunakan untuk membakar material pembuat senjata. Setelah itu, senjata ditempa di atas Watu Bobot yang kabarnya berasal dari tiang Kerajaan Majapahit. Langkah selanjutnya adalah mencelupkan senjata yang masih panas itu ke Sendang Dudo.
3. Satu Tempat dengan Sendang Dudo
Dekat Api Abadi Mrapen, ada kolam termasyhur yang dikenal dengan nama Sendang Dudo. Menurut keyakinan setempat, air di sendang ini dapat menyembuhkan penyakit maupun menyuburkan lahan pertanian. Konon, Sendang Dudo muncul akibat tindakan Sunan Kalijaga.
"Sunan Kalijaga kan istirahat di sini, mencari tanah yang mengandung sumber air. Yang pertama, ditancapkan tongkatnya itu malah keluarnya api, yang jadi Api Abadi Mrapen sekarang," terang Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, Annas Rofiqi, pada Minggu (1/2/2026).
"Baru kemudian ada sebuah cekungan tanah, kemudian ditancapkan tongkatnya Sunan Kalijaga, keluarlah air itu yang sekarang menjadi Sendang Dudo," lanjutnya.
Nama 'Dudo' diambil dari bahasa Jawa yang berarti satu. Penamaan ini merujuk pada fakta bahwasanya Sendang Dudo menjadi satu-satunya sendang di wilayah tersebut. Air Sendang Dudo dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan.
4. Masuk Wisata Api Abadi Mrapen Gratis
Dengan surupnya nyala Api Abadi Mrapen, pengelola menggratiskan biaya masuk untuk pengunjung. Sebagai informasi, dalam kondisi normal, wisatawan diminta membayar biaya retribusi sebesar 2.500 rupiah.
"Retribusi kita enggak narik dulu, soalnya kan apinya padam," ujar Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, Annas Rofiqi, pada Minggu (1/2/2026).
Nah, itulah sekilas mengenai cara Api Abadi Mrapen menyala terus-menerus. Semoga menjawab pertanyaan detikers, ya!
FAQ
1. Adakah api abadi lain di Indonesia?
Ya. Terdapat sederet api abadi lain yang eksis di Indonesia. Di antaranya ada Api Abadi Kayangan Api di Bojonegoro dan Api Abadi Bekucuk di Mojokerto.
2. Apakah Api Abadi Mrapen bisa mati?
Ya. Apabila sumber gasnya tersumbat, Api Abadi Mrapen akan mati atau minimal mengecil. Faktor hujan deras dan angin kencang juga bisa membuatnya mati.
3. Kenapa dinamakan api abadi jika bisa mati?
Abadi yang dimaksud bukan dalam artian api Mrapen sama sekali tidak pernah mati. Alih-alih, karena api ini 'diabadikan' sampai sekarang.
(sto/dil)
