Perbedaan patokan kalender Masehi dan Hijriah dalam menentukan awal bulan menyebabkan tanggal yang berlainan pula. Kalender Masehi menggunakan dasar pergerakan Matahari, sedangkan kalender Hijriah mengacu pada Bulan.
Masyarakat Indonesia biasa menjadikan tanggalan Masehi sebagai patokan hidup sehari-hari. Padanya, tanggal-tanggal peringatan besar, baik nasional maupun internasional, ditetapkan. Begitu pula libur nasional dan cuti bersama.
Namun, tanggalan Hijriah tetap diperlukan. Mengingat, mayoritas orang Indonesia menganut agama Islam dan syariat-syariatnya dikerjakan berdasar kalender Hijriah. Di antaranya adalah sholat Idul Fitri, puasa sunnah Ayyamul Bidh, dan penyembelihan hewan kurban.
Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk mengetahui tanggal Hijriah yang tepat setiap hari. Bagaimana dengan hari ini? Simak konversi Rabu, 4 Februari 2026, ke dalam tanggalan Hijriah menurut pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah via uraian berikut.
Kalender Hijriah Hari Ini 4 Februari 2026
Kalender Hijriah 4 Februari 2026 Menurut Pemerintah
Tanggal resmi pemerintah dapat disimak via Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang dirilis oleh Kementerian Agama. Dalam kalender itu, Januari 2026 tampak beririsan dengan dua bulan hijriah, yakni Rajab dan Syaban.
Rajab atau Rejeb dalam bahasa Jawa berakhir per Senin, 19 Januari 2026. Adapun Syaban, tanggal pertama bulan ini bertepatan dengan Selasa, 20 Januari 2026. Namun, berhubung waktu pergantian hari kalender Hijriah terjadi saat Matahari terbenam, sejatinya, Syaban sudah dimulai sejak Senin malam, 19 Januari 2026.
Singkat kata, menurut versi pemerintah, 4 Februari 2026 dikonversi menjadi 16 Syaban 1447 H.
Kalender Hijriah 4 Februari 2026 Menurut NU
Dilihat dari akun Instagram resminya, @falakiyahnu, Lembaga Falakiyah NU telah mengeluarkan keputusan berkaitan dengan awal Syaban 1447 H. Keputusan itu tercantum dalam Pengumuman Nomor: 116/PB.08/A.II.11.13/13/01/2026 tentang Awal Bulan Sya'ban 1447 H.
"Sebagai tindak lanjutnya maka awal bulan Sya'ban 1447 H bertepatan dengan Selasa Pahing 20 Januari 2026 M (mulai malam Selasa) atas dasar rukyah," bunyi poin II dalam pengumuman itu.
Informasi serupa juga tertera dalam Almanak 2026 yang dikeluarkan Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro. Kalender yang dibuat dengan mempertimbangkan kriteria imkanur rukyat NU itu menyebut 1 Syaban 1447 H bertepatan dengan Selasa, 20 Januari 2026.
Dengan demikian, menurut NU, 4 Februari 2026 bertepatan dengan 16 Syaban 1447 H.
Kalender Hijriah 4 Februari 2026 Menurut Muhammadiyah
Muhammadiyah dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)-nya menginformasikan bahwa Januari 2026 berbarengan dengan 2 bulan Hijriah. Keduanya adalah Rajab dan Syaban.
Rajab versi Muhammadiyah diawali pada 21 Desember 2025 lalu dan berakhir per Senin, 19 Januari 2026. Setelahnya, yakni Selasa, 20 Januari 2026, Syaban dimulai dan berjalan 29 hari hingga 17 Februari 2026 mendatang. Berakhirnya Syaban menandakan kedatangan Ramadhan.
Dengan demikian, Muhammadiyah menetapkan 4 Februari 2026 sebagai 16 Syaban 1447 H.
Untuk tambahan informasi, dilihat dari laman Suara Muhammadiyah, KHGT mulai dipakai pada awal 1447 H. Kalender ini bertujuan untuk menyatukan tanggalan umat Islam seluruh dunia sehingga tidak ada lagi perbedaan waktu.
Larangan Menyimpan Iri di Hati
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI Daring mendefinisikan iri sebagai 'kurang senang melihat kelebihan orang lain'. Iri hati juga dapat diasosiasikan dengan kata cemburu, sirik, dan dengki.
Dalam syariat Islam, iri adalah hal yang dilarang. Bukan hanya melalui sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam saja, tetapi juga firman Allah SWT dalam Al-Quran. Begini bunyinya:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
Artinya: "Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS an-Nisa: 32)
Dikutip dari buku The 10 Habits of Rasulullah oleh Rizem Aizid, Nabi Muhammad SAW pernah melarang iri. Beliau hanya membolehkan 2 hal saja untuk diirikan. Keduanya adalah perkara kebaikan. Sabdanya:
"Tidak ada iri hati, kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta, lalu ia belanjakan di jalan yang benar (sedekah) dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksanaan, lalu ia melaksanakan dan mengajarkannya." (HR Bukhari)
Alih-alih menyiksa diri dengan bersikap iri, umat Islam sudah semestinya bersyukur atas semua karunia Allah SWT. Pasalnya, memang tidak semua orang mendapat rezeki sama. Ada yang mendapat kelebihan dibanding lainnya.
Rabb Semesta Alam berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ
Artinya: "Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat atas sebagian (yang lain) untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS al-An'am: 165)
Memang tidak bisa dipungkiri, menghilangkan rasa iri bukan perkara mudah. Namun, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mengobatinya. Apa saja?
Cara Mengobati Iri Hati dalam Islam
Dikutip dari buku Catatan Fikih Puasa Sunnah karya Hari Ahadi, salah satu cara mengobati iri hati adalah mengerjakan puasa Ayyamul Bidh. Dasarnya adalah hadits shahih Nabi Muhammad SAW:
صوم شهر الصبر وثلاثة أيام من كلِّ شهر : يُذهبنَ وحَرَ الصدر
Artinya: "Berpuasa pada bulan sabar (Ramadhan) dan tiga hari setiap bulan, bisa menghilangkan wahr di dada." (HR Ahmad nomor 23070 dan al-Bazzar nomor 1057 dengan derajat shahih)
Kata wahr di hadits tersebut merujuk pada sejumlah penyakit hati. Di antaranya adalah dengki alias iri, dendam, tipu daya, dan was-was. Insya Allah, dengan rutin mengerjakan puasa Ayyamul Bidh, rasa iri di hati dapat terobati.
Cara kedua adalah mensyukuri nikmat apa pun yang diberikan Allah SWT. Dengan mencoba bersyukur, nikmat yang awalnya terasa sempit, dapat berubah menjadi begitu luas dan penuh kebahagiaan.
Jika nikmat yang sedemikian saja tidak disyukuri, apa jadinya jika seseorang diberi nikmat lebih besar? Tentu saja, rasa tidak pernah puas akan menyeruak. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
"Barang siapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri yang banyak." (HR Ahmad)
Selain dua cara di atas, ada beberapa tips lain yang bisa detikers terapkan:
- Memperbanyak doa kebaikan untuk orang yang diirikan.
- Mengingat bahwa rezeki setiap hamba telah diatur Allah.
- Melatih keikhlasan dalam menerima takdir.
- Menghindari membandingkan hidup dengan orang lain.
- Memperbanyak dzikir dan istighfar.
- Mencoba melihat ke bawah, alih-alih atas.
- Mengingat bahaya dan larangan iri hati.
- Menguatkan iman dan takwa.
Terkhusus poin ke-7, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskannya secara langsung lewat sabdanya. Diambil dari buku Selamat Datang Suami Impian tulisan Isham Muhammad, beliau bersabda:
أَنْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: "Lihatlah orang-orang yang ada di bawah kalian dan janganlah kalian melihat orang yang ada di atas kalian, karena hal itu lebih baik supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian."
Demikian kalender Hijriah hari ini 4 Februari 2026 dan pembahasan mengenai cara mengobati iri hati versi Islam. Semoga penjelasannya bermanfaat, ya, detikers!
Simak Video "Video K-Talk: SUPER JUNIOR-83z Punya 'Promise' Spesial buat E.L.F Indonesia"
(sto/dil)