Ramai Virus Nipah, Menkes Minta Jangan Makan Buah yang Sudah Terbuka

Ramai Virus Nipah, Menkes Minta Jangan Makan Buah yang Sudah Terbuka

Tara Wahyu NV - detikJateng
Kamis, 29 Jan 2026 13:49 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat ditemui di Rumah Sakit Kardiologi Emirates-Indonesia, Solo, Kamis (29/1/2026).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat ditemui di Rumah Sakit Kardiologi Emirates-Indonesia, Solo, Kamis (29/1/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng
Solo -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pemerintah memerkuat pengawasan setelah geger virus Nipah ditemukan di India. Ia juga meminta masyarakat India tidak memakan buah yang kondisinya sudah terbuka kulitnya.

Budi menjelaskan bahwa virus Nipah berasal dari ludah kelelawar yang masuk ke dalam buah, lalu buah tersebut dimakan oleh babi. Ia mengatakan, penularan dari babi ke manusia ini paling banyak teridentifikasi di India.

"Jadi virus Nipah ini berasal dari kelelawar, masuk ke buah di beberapa negara, dimakan oleh babi, kemudian orang-orang yang memakan babi tersebut tertular. Memang sampai sekarang teridentifikasi paling banyak di daerah India dan sempat terbawa ke negara lain," katanya saat ditemui di Rumah Sakit Kardiologi Emirates-Indonesia (KEI), Kota Solo, Kamis (29/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, Menkes mengatakan bahwa penularan virus Nipah terjadi lewat buah yang sudah dimakan atau digigit oleh kelelawar. Oleh karena itu, ia menyarankan agar masyarakat tidak memakan buah yang kondisinya sudah terbuka.

ADVERTISEMENT

"Penyakit ini penularannya lewat buah yang sudah dimakan atau digigit kelelawar, karena ludahnya masuk ke sana. Jadi apa yang mesti dilakukan? Untuk orang-orang Indonesia, termasuk wartawan yang ke daerah tadi, ya kalau bisa jangan makan buah yang terbuka. Kalau makan jeruk, ya jeruk yang tertutup lalu dikupas sendiri jadi kita bisa lihat, atau lebih baik lagi makan nasi dan daging yang dimasak," jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi kedua, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan skrining PCR. Ia mengatakan, jika ada orang yang dicurigai mengalami batuk berkepanjangan, maka bisa dilakukan tes PCR.

"Karena ini belum masuk ke Indonesia, kita siapkan skriningnya. Itu kan sama seperti COVID, harus pakai PCR. Kita sudah siapkan reagennya, jadi kalau ada orang yang dicurigai batuk tidak sembuh-sembuh ini sama seperti COVID yang menyerang paru-paru," terangnya.

"Kita perkuat surveilans untuk mengetahui penyebab batuknya, apakah karena virus influenza, COVID, atau virus Nipah ini. Saat ini kita belum menutup border (perbatasan) sesuai rekomendasi WHO karena jumlah yang terkena penyakit ini masih sedikit, mudah-mudahan tidak bertambah," sambungnya.

Budi menyebut bahwa tingkat fatalitas virus Nipah memang tinggi, di mana orang yang terinfeksi memiliki risiko kematian yang besar.

"Catatannya, fatality rate-nya tinggi. Jika orang terkena ini, kemungkinan meninggalnya tinggi. Skrining di Kemenkes dan reagen sudah didistribusikan ke laboratorium milik Kemenkes di seluruh Indonesia. Jika ada yang dicurigai, kita bisa distribusikan ke daerah," pungkasnya.




(apu/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads