Purbalingga Tetapkan Status Tanggap Bencana di 7 Desa

Purbalingga Tetapkan Status Tanggap Bencana di 7 Desa

Anang Firmansyah - detikJateng
Minggu, 25 Jan 2026 14:48 WIB
Sejumlah warga membersihkan material lumpur akibat banjir bandang yang melanda wilayah Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Sabtu (24/1/2026).
Sejumlah warga membersihkan material lumpur akibat banjir bandang yang melanda wilayah Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Sabtu (24/1/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Purbalingga -

Pemerintah Kabupaten Purbalingga menetapkan status keadaan darurat bencana hidrometeorologi dalam status tanggap darurat di 7 desa. Penetapan ini menyusul terjadinya bencana gerakan tanah serta banjir beberapa hari terakhir.

Status tanggap darurat tersebut berlaku untuk desa-desa di wilayah Kecamatan Karangreja dan Kecamatan Mrebet, serta Desa Gandasuli, Desa Karangmalang, Desa Banjarsari dan Desa Limbasari di Kecamatan Bobotsari.

Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, mengatakan penetapan status ini didasarkan pada hasil kaji cepat lapangan atas kejadian gerakan tanah yang terjadi pada 24 Januari 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehubungan dengan musim penghujan yang dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor atau gerakan tanah, dan cuaca ekstrem, kami menetapkan status keadaan darurat bencana hidrometeorologi dalam status tanggap darurat di sejumlah desa terdampak," kata Fahmi dalam keterangan tertulis, Minggu (25/1/2026).

ADVERTISEMENT

Fahmi menjelaskan, langkah ini juga merujuk pada Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor 300.2/0008913 Tahun 2025 tentang kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi potensi bencana pada musim penghujan 2025/2026.

"Penetapan ini diperlukan agar penanganan darurat di lapangan bisa dilakukan secara lebih cepat dan terkoordinasi, sekaligus untuk meminimalkan risiko kerusakan sarana prasarana serta korban jiwa," ujarnya.

Dalam keputusan tersebut, status tanggap darurat bencana hidrometeorologi ditetapkan berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 24 Januari 2026 hingga 6 Februari 2026.

"Masa berlaku keadaan darurat ini dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan penanganan darurat bencana di lapangan," kata Fahmi.

Ia menambahkan, pemerintah daerah telah menginstruksikan seluruh perangkat daerah terkait, termasuk BPBD, TNI, Polri, dan relawan, untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta mempercepat penanganan di wilayah terdampak.

"Keselamatan warga menjadi prioritas utama. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas, dan segera melaporkan apabila terjadi potensi bencana di lingkungannya," pungkasnya.

Seperti diketahui banjir bandang melanda Desa Serang dan Kutabawa Kecamatan Karangreja serta Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga pada Sabtu (24/1) dini hari. Dua wilayah tersebut lokasinya bersebelahan di lereng tenggara Gunung Slamet.

Dalam kejadian ini satu warga Desa Serang bernama Solihah (26) tewas setelah terbawa arus banjir bandang. Kediamannya juga roboh, rata dengan tanah.

Pantauan detikJateng, jalanan desa tersebut luluh lantak. Material lumpur dan beberapa gelondongan kayu masih nampak meski sudah dibersihkan oleh tim relawan gabungan.

Dari kesaksian warga material banjir bandang sempat melintasi jalan utama ke arah jalur Basecamp Pos Bambangan, pendakian Gunung Slamet dari kota Purbalingga. Dampak terparah terjadi di sekitaran rumah yang berada di tepi Sungai Soso.

Setidaknya ada tujuh rumah di Desa Sangkanayu yang hanyut terbawa banjir. Ratusan rumah diantaranya terdampak banjir bandang. Selain itu, terdapat sejumlah kendaraan roda dua dan empat yang terbawa arus. Warga juga mengaku kehilangan hewan ternak.

Salah satu warga RT 13 RW 05 Desa Sangkanayu, Tri Sasongko (29), mengatakan banjir terjadi sekitar pukul 03.15 WIB dini hari. Saat itu hujan tidak terlalu deras, namun disertai angin kencang yang sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir.

"Jam 3 lebih seperempat hujan tidak deras sebenarnya, cuma anginnya besar banget. Arah air dari barat atau atas. Tiba-tiba banter banget luapan sungai karena tertutup," kata dia saat ditemui detikJateng, Sabtu (24/1).

Menurut Tri, saat kejadian ketinggian air mencapai sekitar 1 meter dan berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Air yang datang membawa lumpur dan pasir, lalu sempat surut sekitar 15 menit sebelum kembali menghantam permukiman warga dengan membawa material kayu.

"Air itu sekitar 1 meter, berlangsung setengah jam bawa lumpur dan pasir. Sempat hilang 15 menitan, terus dihajar lagi bawa material kayu," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan angin kencang sudah dirasakan warga selama tiga hari terakhir, bahkan membuat sebagian warga kesulitan tidur.

"Angin sudah tiga hari ini besar banget. Cuma sempat mendung, jadi jarang tidur ini," tambahnya.




(ahr/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads