Kenapa Bulan Januari Hujan Terus? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kenapa Bulan Januari Hujan Terus? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ulvia Nur Azizah - detikJateng
Sabtu, 24 Jan 2026 15:55 WIB
Kenapa Bulan Januari Hujan Terus? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ilustrasi hujan. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Sasiistock)
Solo -

Hujan deras sepanjang Januari membuat banyak detikers bertanya soal penyebabnya. Cuaca terasa lebih basah dari biasanya di sejumlah wilayah. Kondisi ini dipicu banyak faktor atmosfer yang saling menguatkan.

Awal tahun ini wilayah Indonesia berada dalam dinamika iklim yang kompleks. Bibit siklon, Monsun Asia, dan seruakan dingin bekerja bersamaan. Setiap faktor meningkatkan suplai uap air ke atmosfer selatan Nusantara.

Ingin tahu lebih dalam mengenai penyebab hujan terus di bulan Januari, detikers? Yuk, simak penjelasan di bawah sampai akhir!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Poin utamanya:

  • Hujan Januari dipicu bibit siklon, monsun, dan seruakan dingin.
  • La Niña lemah serta gelombang atmosfer global memperkuat awan badai.
  • Konvergensi di Jawa memicu hujan ekstrem di banyak wilayah.

ADVERTISEMENT

Kenapa Bulan Januari Hujan Terus?

Hujan yang terjadi secara terus menerus sepanjang Januari dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Mari simak penjelasan yang dihimpun dari laman resmi BMKG berikut ini.

1. Kepungan Bibit Siklon di Selatan Nusantara

Salah satu penyebab utama adalah kemunculan rangkaian bibit siklon tropis. Sejak awal Januari, bibit siklon 91S, 92P, hingga 97S terpantau aktif. Sistem tekanan rendah ini berputar di Samudra Hindia selatan Indonesia. Pergerakannya memicu penguatan pertemuan serta belokan angin yang sangat signifikan. Dampaknya terasa mulai dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara.

"Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan," ujar Andri Ramdhani, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG melalui keterangan resminya.

Bibit siklon ini bekerja layaknya mesin penghisap massa udara lembap. Massa udara tersebut berkumpul dan membentuk awan konvektif di wilayah selatan. Hal ini menyebabkan intensitas hujan meningkat tajam dalam waktu singkat. Akibatnya, wilayah Jawa hingga NTT sering mengalami cuaca ekstrem belakangan ini.

2. Monsun Asia dan Seruakan Dingin dari Siberia

Selain faktor siklon, angin Monsun Asia juga sedang mencapai puncaknya. Angin ini membawa pasokan uap air melimpah dari daratan Asia. Aliran massa udara lembap bergerak cepat melewati wilayah Laut Cina Selatan. Massa udara tersebut kemudian mencapai ekuator dan masuk ke Pulau Jawa.

Kondisi ini diperparah dengan adanya fenomena seruakan dingin yang signifikan. Seruakan dingin atau cold surge berasal dari dataran tinggi Siberia. Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin yang berembus menuju wilayah Indonesia. Dampaknya adalah pertumbuhan awan hujan yang sangat masif di selatan khatulistiwa.

Monsun Asia ini diprediksi aktif setidaknya hingga akhir Januari 2026. Menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dinamika atmosfer saat ini memang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan. Seruakan dingin ini mempercepat masuknya massa udara ke wilayah Indonesia.

3. Pengaruh La Niña dan Gelombang Atmosfer Global

Faktor skala global seperti La Niña juga turut memainkan peran penting. Saat ini, kondisi ENSO sedang berada pada fase negatif atau La Niña lemah. Fase ini menyebabkan suhu muka laut di Indonesia menjadi relatif hangat. Suhu hangat tersebut memperkaya suplai uap air di atmosfer kita.

Di saat bersamaan, terdapat aktivitas gelombang atmosfer global yang sangat aktif. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) kini sedang melintasi sebagian besar wilayah Indonesia. MJO didukung oleh Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator yang aktif. Kombinasi faktor-faktor ini meningkatkan aktivitas konveksi secara spasial di nusantara.

Awan Cumulonimbus atau awan badai tumbuh dengan subur akibat fenomena tersebut. Hal ini didukung oleh nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang negatif. Kondisi atmosfer menjadi sangat tidak stabil atau berada dalam labilitas kuat. Proses konvektif skala lokal pun menjadi lebih intensif dan berkelanjutan.

4. Daerah Konvergensi yang Memanjang di Pulau Jawa

Pertemuan angin atau konvergensi menjadi titik terjadinya hujan paling lebat. Pola aliran angin Monsun Asia membentuk daerah perlambatan kecepatan angin. Daerah konvergensi ini terpantau memanjang secara konsisten di sepanjang Pulau Jawa. Hal ini menjadi alasan mengapa Jawa sering diguyur hujan seharian.

Sirkulasi siklonik di sekitar Australia juga turut memodifikasi pola angin regional. Sistem tersebut menyebabkan aliran angin di Indonesia selatan dominan ke timur. Pola ini semakin memperkuat perlambatan massa udara di wilayah selatan Indonesia. Udara pun naik secara intensif dan membentuk awan hujan yang tebal.

BMKG mencatat curah hujan ekstrem di beberapa titik wilayah Indonesia. Di Jawa Tengah, curah hujan tercatat mencapai 188,4 mm per hari. Jogja juga sempat mencatat angka hujan ekstrem sebesar 165 mm per hari. Data ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh konvergensi di wilayah tersebut.

Kesiapsiagaan Menghadapi Puncak Cuaca Ekstrem

Menjelang akhir Januari, masyarakat diminta untuk tidak menurunkan tingkat kewaspadaan. Potensi banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi masih sangat tinggi. BMKG secara rutin memperbarui informasi peringatan dini melalui berbagai kanal resmi. Pemantauan informasi menjadi kunci keselamatan di tengah cuaca yang dinamis.

Masyarakat diharapkan tetap tenang dalam menghadapi tantangan alam di awal tahun. "Kita harus tetap meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem ini," ujar Faisal Fathani. Kesiapsiagaan yang baik dapat meminimalisir risiko bencana yang mungkin terjadi. Gunakan aplikasi InfoBMKG untuk memantau prakiraan cuaca di jalur perjalanan.

Perubahan cuaca dapat berlangsung sangat cepat mengikuti perkembangan atmosfer terkini. Selalu berhati-hati saat merencanakan aktivitas luar ruang atau perjalanan jauh. Pastikan lingkungan sekitar sudah siap menghadapi potensi genangan atau banjir bandang. Tetap waspada hingga dinamika atmosfer menunjukkan tanda-tanda mulai meluruh.

Hujan yang turun adalah bagian dari siklus alam yang mendukung ekosistem kita. Tetap waspada namun jangan panik dalam menghadapi setiap perubahan cuaca yang terjadi. Semoga informasi menjawab rasa penasaranmu, detikers!

FAQ

Puncak musim hujan bulan apa?

Berdasarkan data BMKG, puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia umumnya terjadi pada Januari dan Februari. Pada tahun 2026, kondisi ini diperkuat oleh fenomena La Nina lemah yang aktif hingga Maret.

Mengapa ada hujan di bulan Januari?

Januari merupakan periode aktifnya angin Monsun Asia yang membawa uap air melimpah. Selain itu, adanya seruakan dingin (cold surge) dari Siberia mempercepat pembentukan awan hujan. Munculnya titik konvergensi atau pertemuan angin di sepanjang Pulau Jawa juga membuat hujan turun merata sepanjang hari.

Hujan awal 2026 sampai kapan?

Musim hujan diprediksi akan mulai meluruh saat ENSO memasuki fase netral pada April 2026. Secara umum, curah hujan tahunan 2026 diprediksi berada pada kategori normal (1.500-4.000 mm/tahun). Meskipun akan masuk musim kemarau, kualitas udara tetap terjaga karena curah hujan masih cukup mendukung proses deposisi basah.




(sto/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads