Pilu Warga Cokrah 'Kampung Bawah Air' di Pekalongan Hidup Berkawan Banjir

Pilu Warga Cokrah 'Kampung Bawah Air' di Pekalongan Hidup Berkawan Banjir

Robby Bernardi - detikJateng
Jumat, 23 Jan 2026 19:47 WIB
Debit tinggi Sungai Bremi membuat Kampung Cokrah di Kota Pekalongan bak berada di bawah air, Jumat (23/1/2026).
Debit tinggi Sungai Bremi membuat Kampung Cokrah di Kota Pekalongan bak berada di bawah air, Jumat (23/1/2026). (Foto: Robby Bernardi/detikJateng)
Pekalongan -

Warga Kampung Cokrah dan Kampung Baru, Kelurahan Tirto, Kota Pekalongan, selalu waswas jika turun hujan. Betapa tidak, kampung di pinggiran Sungai Bremi ini bak berada di bawah air karena debit sungai lebih tinggi dari lantai rumah warga. Nasib mereka pun tinggal mengandalkan tanggul di kanan-kiri sungai.

Di perkampungan ini, setiap hujan deras berjam-jam pasti akan terjadi genangan air. Lebih-lebih ditambah air rob atau juga air kiriman dari hulu.

Letak dua kampung ini mengapit Sungai Bremi. Kampung Cokrah berada di sisi barat, sedangkan Kampung Baru di sisi timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Parahnya, lokasi Kampung Cokrah berada di daerah cekungan. Air akan bertahan lama, jika sudah menggenang.

Air tidak bisa mengalir ke sisi utara (ke arah laut), kecuali melalui Sungai Bremi. Di utara pun, ada pembatas air yang tidak bisa mengalir karena ada jalur kereta api dan Jalan Pantura yang jauh lebih tinggi dari perkampungan warga.

ADVERTISEMENT

Cokrah berada wilayah di rendah, bahkan lebih rendah dari ketinggian muka air Sungai Bremi. Praktis warga hanya mengandalkan tanggul kanan-kiri di sepanjang Sungai Bremi.

Pakdin (49) warga RT 07/RW 01, menjelaskan lantai rumahnya memang jauh di bawah permukaan air Sungai Bremi. Padahal, ia sebelumnya sudah beberapa kali meninggikan rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah dengan tanggul sungai.

"Kalau hujan lama, berjam-jam, seperti pada Jumat malam Sabtu kemarin, ya banjir. Belum ditambah air kiriman dari atas dan juga air rob yang masuk sungai Bremi kemudian meluap ke perkampungan," katanya.

Jika banjir, seperti pada Sabtu malam, terparah di jalur utama Kampung Cokrah.

"Di jalur utama yang masuk gang satu itu sampai seleher, di atas dada. Kalau di jalan alternatif sini pinggir sungai, itu sampai sepusar ke atas," katanya.

Debit tinggi Sungai Bremi membuat Kampung Cokrah di Kota Pekalongan bak berada di bawah air, Jumat (23/1/2026).Debit tinggi Sungai Bremi membuat Kampung Cokrah di Kota Pekalongan bak berada di bawah air, Jumat (23/1/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng

Rumah berada di dekat tanggul sungai, diakuinya hidup waswas. Apalagi saat musim hujan. Takut air melimpas atau pun tanggul jebol.

"Iya, kita tetap khawatir karena kondisi air sungai sudah lebih tinggi dari permukiman. Yang biasa terjadi air sungai melimpas ke sini," ungkapnya.

Saat terjadi banjir, warga mengandalkan dua pompa yang berada di rumah pompa Bremi. Itu pun, jika kondisi muka air sungai memadai.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Pekalongan, Budi Seheryanto, menyebut banjir pada Sabtu (17/1) lalu salah satu faktornya yakni air sungai melimpas ke permukiman warga, selain intensitas hujan tinggi dan air kiriman dari atas. Rumah pompa pun tidak bisa berfungsi menyedot air dari permukiman ke sungai, karena akan melimpas kembali.

"Ada 13 pompa sudah kita jalankan untuk wilayah barat (Pekalongan Barat). Memang yang paling parah itu wilayah barat. Tapi kemarin pada saat kejadian (banjir) tinggi itu, ya pompa tidak bisa dimaksimalkan, kalau berfungsi ya muter aja, airnya kesedot ke pompa dan diarahkan ke sungai, kemudian dari sungai melimpas lagi ke rumah warga, karena tinggi permukaan sungai ya," jelasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, pada Kamis malam (22/1), menyampaikan Sungai Bremi dan Sungai Meduri diakuinya masih menjadi PR, karena belum dapat diatasi.

"Bremi dan Meduri ini belum tertangani, Seperti Sungai Loji, Banger. Ya memang kondisinya kalau curah hujan sangat tinggi memang akan seperti ini (banjir)," kata Aaf, saat mendampingi kunjungan Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum di Sungai Bremi, Kamis (22/1).

Dirjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum, Dwi Purwantoro, mengungkapkan untuk penanganan jangka menengah, pemerintah berencana membangun sistem polder guna mengendalikan banjir saat curah hujan tinggi dan air laut pasang. Sistem ini akan dilengkapi drainase kolektor dan pompa yang disesuaikan dengan luas daerah tangkapan air (catchment area) di sekitar sungai. Penanganan secara tuntas, dalam hitungannya akan membutuhkan anggaran sekitar Rp 500 hingga Rp 600 miliar.




(aku/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads