Adu jotos antara guru dan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi berujung pada saling lapor antara kedua belah pihak. Mediasi yang direncanakan sebelumnya tidak berjalan lancar.
Kasus ini mendapatkan perhatian publik karena sempat viral di media sosial. Dikutip dari detikSumbangsel, peristiwa itu terjadi pada hari Selasa (13/1/2026) lalu. Upaya mediasi sempat dilakukan dengan menggandeng guru, polisi, dan camat setempat. Namun guru yang bersangkutan, Agus Saputra tidak hadir dalam mediasi.
Pihak siswa berinisial MLF pun mengambil langkah hukum karena guru tersebut tidak mau mediasi. Kuasa hukum orang tua siswa, Dian Berlian, mengatakan Agus tidak hadir dalam proses mediasi yang dihadiri oleh perwakilan kepolisian dan pemerintah daerah setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Besoknya itu (sehari setelah adu jotos), datanglah Kapolres, Dinas Pendidikan, Dinas PPA, untuk mediasi. Tapi adik ini memang tidak dihadirkan di forum itu. Nah, yang guru ini ditelepon dia tidak mau datang. Akhirnya, komite mengambil inisiatif untuk hadir di situ. Saat itu ada kesepakatan damai. Tapi setelah kesepakatan damai, gurunya ditelepon tidak mau berdamai dengan alasan dia tidak bersalah. Besok paginya (Kamis) membuat laporan ke Polda," kata Dian dikutip dari detikSumbangsel, Selasa (20/1/2026).
"Kita sudah terbuka untuk mediasi. Nah, kita masih nunggu dari hari Kamis sampai Minggu, kalau masih ada iktikad baik. Kita membuat laporan ini dengan tidak mengurangi rasa hormat kita kepada guru, tapi hukum harus ditegakkan. Terkait nanti hasil akhirnya, kita hasil penyelidikan," jelas Dian.
Peristiwa yang terjadi disebut Dian ada tiga rangkaian. Pertama, Agus mendengar teriakan MLF yang dianggap tidak pantas dan berujung pada aksi penamparan yang dilakukan Agus. Namun MLF membantah teriakannya ditujukan kepada sang guru.
"Pada saat itu, dia tidak teriak kepada gurunya, tapi teriak kepada teman-temannya memberi instruksi 'woi diamlah jangan ribut'. Di dalam ruangan gurunya juga ada. Jadi oknum guru ini masuk nanyain siapa yang bilang woi. Ya, karena dia (siswa) ini tidak merasa bersalah, dia maju, pas maju, ya, dipukul begitu," terang Dian.
Keributan pun terjadi dan para siswa mendesak Agus untuk meminta maaf. Dian menyebut saat itu Agus malah memukul MLF. Pengeroyokan pun terpicu ketika Agus berjalan menuju kantor.
"Kemudian kedua, sekira jam 12, anak-anak ini mendesak supaya guru meminta maaf, sehingga terjadi lagi dipukul lah klien saya. Dipukul itu di depan teman-temannya. Jadi teman-temannya merasa gimana, sehingga terjadi pengeroyokan itu," ungkapnya.
Peristiwa ketiga yaitu Agus yang menghampiri para siswa sambil membawa senjata tajam jenis celurit. Para siswa pun ketakutan.
"Kemudian setelah pengeroyokan sekira 2 atau 3 jam itu, klien kita keluar dari kantor, (guru) langsung bawa sajam dua. Otomatis anak-anak kabur dari depan kantor, melihat itu dilempar baliklah menggunakan batu," terang Dian.
Disebutkan, MLF mengalami luka lebam merah di pipi dan bengkak di hidungnya. Dian mengatakan pihak MLF sudah melakukan visum untuk bukti laporan ke polisi.
"Kemarin sudah divisum di sana. Malam ini karena persyaratan untuk menerima laporan kekerasan itu, harus divisum dulu, karena itu persyaratannya," jelasnya.
Sementara itu Agus Saputra, guru yang dikeroyok siswanya itu telah lebih dulu melaporkan kasus dugaan pengeroyokan di Polda Jambi, pada Kamis (15/1). Guru mata pelajaran bahasa Inggris itu didampingi kakaknya, Nasir, saat melapor ke polisi.
"Karena sudah viral ini, ya, ada yang merugikan adik saya secara mental. Psikisnya terganggu, nama baiknya tercoreng di media sosial dan warga. Jadi kami sebagai warga negara berhak untuk melaporkan tindakan pengeroyokan ini," kata Nasir, Kamis (15/1).
Sedangkan Agus sendiri sudah sempat memberikan penjelasan kronologi versinya. Ia menyebut awalnya menegur siswa yang ia anggap tidak sopan.
"Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata Agus, Rabu (14/1).
"Saya masuk ke kelas memanggil siapa yang meneriakkan saya seperti itu. Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia," ujarnya.
Soal celurit yang dia bawa, Agus menyebut benda itu memang tersedia di kantor karena sekolahnya merupakan SMK pertanian.
"Kebetulan kami itu SMK pertanian, memang kayak cangkul dan celurit lainnya memang tersedia di kantor. Kenapa saya memakai itu? Agar mereka bubar, tidak ada niat lain saya untuk itu. Pada kenyataannya mereka juga tidak bubar, malah melempari saya dengan batu," terang Agus.
(alg/ams)
