Mitos Gunung Slamet Membelah Pulau Jawa Jika Meletus, Benarkah?

Mitos Gunung Slamet Membelah Pulau Jawa Jika Meletus, Benarkah?

Nur Umar Akashi - detikJateng
Senin, 19 Jan 2026 13:51 WIB
Gunung Slamet.
Gunung Slamet. (Foto: dok. detikJateng)
Solo -

Gunung Slamet yang berjuluk 'Atap Jawa Tengah' merupakan salah satu gunung tinggi di Jawa. Tercatat, puncaknya ada di ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl), menjadikannya gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru.

Sebagaimana gunung-gunung lain, Gunung Slamet kental dengan mitos. Salah satunya adalah nama 'Slamet' itu sendiri. Dirujuk dari majalah Inspirasi Vol XV, kabarnya, nama Gunung Slamet dahulu adalah Gunung Agung.

Nama tersebut kemudian diubah menjadi Slamet setelah Islam masuk Jawa. Sejarawan Belanda, J Noorduyn mendasarkan pendapat ini atas kisah petualangan Bujangga Manik yang menyebutkan Gunung Agung. Ia meyakini bahwasanya Gunung Agung sama dengan Gunung Slamet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam bahasa Jawa, kata 'Slamet' berarti selamat. Nama ini menunjukkan harapan agar Gunung Slamet menjadi sumber keamanan maupun keselamatan bagi manusia yang tinggal di sekelilingnya.

Di samping urusan nama, Gunung Slamet juga menyimpan banyak mitos lain. Di antaranya yang terkenal adalah mitos letusan Gunung Slamet akan membelah pulau Jawa. Benarkah? Simak pembahasan lebih lengkapnya di bawah ini, yuk!

ADVERTISEMENT

Poin Utamanya:

  • Gunung Slamet adalah gunung tertinggi kedua di Jawa dengan ketinggian 3.428 mdpl. Gunung ini berdiri di 5 kabupaten, yakni Banyumas, Brebes, Purbalingga, Tegal, dan Pemalang.
  • Letusan hebat Gunung Slamet konon bisa menyebabkan Pulau Jawa terbelah. Mitos ini sering dikaitkan dengan ramalan Jayabaya, raja asal Kediri tahun 1100-an Masehi.
  • Gunung Slamet terakhir erupsi pada 2014 lalu. Statusnya saat ini waspada/level II.

Mitos Letusan Gunung Slamet Membelah Pulau Jawa

Dirujuk dari laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gunung Slamet gagah berdiri di lima kabupaten sekaligus, yakni Banyumas, Brebes, Purbalingga, Tegal, dan Pemalang. Apabila detikers perhatikan di peta, letaknya kurang lebih berada di pusat pulau Jawa.

Karenanya, tidak mengherankan jika mitos letusan Gunung Slamet mampu membelah pulau Jawa menjadi dua diyakini masyarakat. Hal ini semakin diperkuat ramalan Jayabaya, raja legendaris asal Kediri, yang menyebutkan hal itu.

Menurut informasi dari unggahan Instagram Perum Perhutani, @perumperhutani, masyarakat percaya, letusan Gunung Slamet bakal membuat terciptanya parit yang menghubungkan pantai utara dan selatan. Bila parit itu terbentuk dan terisi air, maka tamatlah sudah pulau Jawa sebagai satu kesatuan.

"Cerita mitos Gunung Slamet ini dipercayai oleh penduduk setempat dan dihubungkan dengan ramalan Jayabaya, meskipun kebenaran mitos tersebut belum dapat dibuktikan dengan jelas," bunyi penjelasan dalam unggahan itu, dikutip pada Senin (19/1/2026).

Bisakah Letusan Gunung Slamet Membelah Jawa?

Menurut keterangan di buku Ekologi Gunung Slamet tulisan Indyo Pratomo dkk, catatan menunjukkan Gunung Slamet pernah meletus pada 11-12 Agustus 1772. Setelah itu, dalam kurun waktu 240 tahun terakhir, gunung gagah ini sudah erupsi lebih dari 30 kali.

Erupsi terakhir Gunung Slamet diketahui terjadi pada 2014 lalu dengan tipe letusan strombolian. Pada 2019, terjadi peningkatan status, meski belum terjadi erupsi. Status terbaru yang disajikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut Gunung Slamet berkategori waspada per 14 Januari 2026.

Apa artinya? Laman Indonesia Baik menyebut status waspada berarti Gunung Slamet mulai mengalami peningkatan aktivitas seismik dan muncul kejadian vulkanik. Kawasan di sekitar kawah juga tampak berubah secara visual. Juga berarti mulai terjadi gangguan magnetik, tektonik, atau hidrotermal, tetapi diperkirakan tidak erupsi dalam jangka waktu tertentu.

Terlepas dari statusnya, apakah mungkin letusan Gunung Slamet menyebabkan terbelahnya Pulau Jawa? Dikutip dari dokumen unggahan Eprints UNY, Kepala Bidang Geologi Dinas Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Banyumas, Ir Junaedi, pernah menjelaskan:

"Kondisi Gunung Slamet tidak berbahaya. Hal ini dikarenakan karakter letusanya bertipe stromboli. Ini artinya kawah Gunung Slamet dengan luas sekitar 12 hektar selalu menampung hasil letusan. Hal ini sudah dibuktikan sejak Gunung Slamet meletus pada tahun 1700-an hingga terakhir kali meletus tahun 2009. Karakter letusan Gunung Slamet ini bertipe stromboli. Artinya setiap material yang dikeluarkan oleh letusan Gunung Slamet, akan kembali jatuh di sekitar kawah atau badan gunung. Sehingga badan gunung tersebut yang bertambah besar."

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa erupsi Gunung Slamet tidak terlalu besar. Dengan demikian, potensi letusannya mampu membelah pulau Jawa dapat ditampik.

Mitos Lain Gunung Slamet

Diringkas dari skripsi berjudul Mitos Di Gunung Slamet di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karang Reja, Kabupaten Purbalingga, tulisan Maria Astria Rini dari UNY, selain nama dan letusan, di bawah ini beberapa mitos Gunung Slamet:

1. Ritual Ruwat Bumi

Gunung Slamet dijadikan tempat ritual 'Ruwat Bumi' yang digelar pada bulan Sura setiap tahun, biasanya pada malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Tujuan ritual ini adalah agar bumi tempat tinggal diberi kesehatan serta wujud syukur.

2. Makhluk Halus

Konon, Gunung Slamet adalah tempat bersemayamnya makhluk halus yang dikenal masyarakat Blambangan dengan nama Mbah Jamur Dipa. Makhluk ini diyakini bersifat baik, suka menolong, dan mau bersahabat dengan manusia. Ia merupakan penguasa Gunung Slamet.

3. Binatang Mitologis

Banyak satwa hidup di Gunung Slamet, seperti macan dan babi hutan. Namun, ada juga bintang jelmaan yang kabarnya tinggal di sana, seperti ular besar dan kuda sembrani. Kuda sembrani itu konon adalah milik Nyi Roro Kidul.

Demikian pembahasan sekilas mengenai mitos Gunung Slamet yang bisa membelah Pulau Jawa. Semoga menambah wawasan detikers, ya!

FAQ tentang Mitos Gunung Slamet Membelah Jawa

1. Apakah benar jika Gunung Slamet meletus, maka Pulau Jawa akan terbelah?

Kemungkinan tidak. Alasannya, sejauh ini kekuatan erupsi Gunung Slamet terbilang kecil.

2. Bagaimana cara Gunung Slamet membelah Pulau Jawa?

Mitosnya, letusan Gunung Slamet bakal membentuk parit memanjang dari pantai utara ke pantai selatan. Parit itu kemudian terisi air, menyebabkan Pulau Jawa terbagi dua.

3. Kapan Gunung Slamet erupsi?

Gunung ini tercatat meletus pada 1772 silam. Setelahnya, puluhan erupsi terjadi, yang terakhir pada 2014 lalu. Saat ini, status Gunung Slamet adalah waspada alias level II.



(sto/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads