6 Contoh Teks Khutbah Jumat tentang Isra Miraj 2026 Singkat dan Judulnya

6 Contoh Teks Khutbah Jumat tentang Isra Miraj 2026 Singkat dan Judulnya

Angely Rahma - detikJateng
Kamis, 15 Jan 2026 18:00 WIB
Indonesian Muslims pray for the safety of the Palestinian people during a Friday prayer at Abu Bakar Ashshiddiq Mosque in Jakarta, Indonesia, Friday, Oct. 13, 2023. As violence and tensions increase in the Gaza Strip with Israeli airstrikes after an unprecedented Hamas attack, Islamic leaders in Indonesia, the worlds most populous Muslim-majority nation, appealed to all mosques across the country to pray for peace and safety for the Palestinian people. (AP Photo/Achmad Ibrahim)
Khutbah Jumat. (Foto: AP/Achmad Ibrahim)
Solo -

Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW jatuh setiap 27 Rajab dalam kalender Hijriah. Pada tahun 2026, Isra Miraj diperingati pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan pelaksanaan sholat Jumat di berbagai masjid.

Peristiwa ini mengisahkan perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga naik ke Sidratul Muntaha, sekaligus menjadi momen ditetapkannya perintah sholat lima waktu. Karena sarat akan nilai keimanan dan keteladanan, tema Isra Miraj kerap diangkat dalam khutbah Jumat.

Penyampaiannya pun perlu disusun secara singkat, jelas, dan menyentuh agar pesan dapat diterima jamaah dengan baik. Berikut 6 contoh teks khutbah Jumat tentang Isra Miraj 2026 singkat lengkap dengan judul yang bisa dijadikan referensi bagi para khatib.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Doa Pembuka Khutbah Jumat

Dalam pelaksanaan sholat Jumat, khutbah disampaikan sebanyak dua kali dengan diawali doa pembuka khutbah Jumat. Khutbah pertama umumnya menggunakan bahasa Indonesia, sementara khutbah kedua disampaikan dalam bahasa Arab. Pada bagian khutbah berbahasa Arab, isi naskah yang dibacakan pada dasarnya sama. Berikut bacaan doa pembuka khutbah Jumat berbahasa Arab yang dilansir laman Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan disusun oleh KH Misbahul Munir.

ADVERTISEMENT

اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَركَاتُه

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَا حُدُوْدَ لِقُدْرَتِهِ، اَلَّذِيْ رَفَعَ نَبِيَّهُ إِلٰى أَعْلٰى دَرَجَةٍ، وَقَدَّمَهُ أَمَامَ عَرْشِهِ، لِيَبْلُغَ رِسَالَةً كَرِيْمَةً إِلٰى قَوْمِهِ، وَجَعَلَهُ دَلِيْلًا عَلٰى عَظَمَةِ رَسُوْلِهِ.

اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهِ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى أَفْضَلِ الْقُدْوَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّابعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالٰى بِاِكْثَارِ أَعْمَالِكُمُ الصَّالِحَةِ وَدَوَامِ عِبَادَتِهِ، فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِمِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ

Kumpulan Contoh Teks Khutbah Jumat tentang Isra Miraj 2026 dan Judulnya

Setelah selesai membaca khutbah pertama, khatib akan melanjutkan membaca khutbah pertama namun disampaikan dalam bahasa Indonesia. Berikut 6 contoh khutbah Jumat tentang Isra Miraj 2026 yang singkat dan dilengkapi judul, dirangkum dari laman NU Online, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, serta Universitas Islam Makassar.

1. Hikmah Isra Miraj

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan begitu banyak nikmat kepada kita, sehingga pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menunaikan Sholat Jumat di masjid yang mulia ini.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam. Semoga kita termasuk umat yang mencintainya dan mendapatkan syafaat beliau di hari akhir kelak. Aamiin.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebagai khatib, kami berwasiat kepada diri kami sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah senantiasa membimbing dan menguatkan kita dalam ketaatan kepada-Nya.

Pada khutbah kali ini, khatib akan menyampaikan tentang hikmah Isra Miraj. Isra Miraj adalah peristiwa luar biasa ketika Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, kemudian naik hingga Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 1:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya:

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami." (QS. Al-Isra: 1)

Sejarah mencatat bahwa Isra Miraj terjadi setelah Nabi Muhammad SAW mengalami kesedihan mendalam akibat wafatnya istri tercinta, Sayyidah Khadijah, dan pamannya Abu Thalib, dua sosok yang menjadi penopang utama dakwah beliau.

Dalam perjalanan Miraj, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan berbagai peristiwa sebagai pelajaran bagi umat manusia. Di antaranya, Nabi melihat orang-orang yang terus memanen padi, sebagai gambaran orang yang gemar beramal jariyah. Nabi juga melihat orang-orang yang memukul kepalanya sendiri, sebagai gambaran orang yang melalaikan sholat. Selain itu, Nabi melihat kuburan yang harum baunya, yaitu kuburan Mashitah dan anaknya, yang wafat karena mempertahankan iman kepada Allah SWT.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Dari peristiwa Isra Miraj tersebut, terdapat beberapa hikmah penting yang dapat kita ambil.

Pertama, menghilangkan kesedihan Nabi. Setiap manusia memiliki perasaan sedih ketika ditimpa musibah. Kesedihan Nabi Muhammad SAW atas wafatnya orang-orang tercinta dihibur oleh Allah melalui peristiwa Isra Miraj. Allah berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ

اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Artinya:

"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, karena memandang Tuhannya." (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Kedua, pentingnya ibadah sholat. Perintah sholat lima waktu diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Miraj. Rasulullah SAW bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ
Artinya:
"Sholat adalah tiang agama." (HR. Al-Baihaqi)

Ketiga, Isra Miraj sebagai ujian keimanan. Peristiwa ini dianggap mustahil oleh sebagian orang karena tidak dapat dijangkau oleh akal. Namun, seorang mukmin menerima kebenaran dengan iman. Allah SWT berfirman:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

Artinya:

"Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata 'kami beriman' tanpa diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2)

Keempat, menghindarkan sifat keluh kesah. Manusia cenderung mengeluh ketika ditimpa kesulitan. Namun sholat yang benar dan kedermawanan mampu menahan sifat tersebut. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma'arij ayat 19-26.

Kelima, menstimulasi berkembangnya ilmu pengetahuan. Kisah Isra Miraj mendorong manusia untuk berpikir, meneliti, dan mengkaji tanda-tanda kebesaran Allah. Al-Quran sendiri mendorong manusia untuk menggunakan akal dan ilmunya dalam memahami ciptaan Allah.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Demikian khutbah singkat ini. Semoga kita dapat memahami hikmah Isra Miraj dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi hamba Allah yang diridhai-Nya. Semoga Allah memudahkan kita untuk memaksimalkan ibadah di bulan Rajab dan memberi ampunan serta rahmat-Nya di dunia dan akhirat.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

2. 4 Pelajaran Mulia dari Isra Miraj yang Agung

Sidang Jumat yang berbahagia

Dengan diiringi oleh rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Subhanahu wata'ala saya ingin menyampaikan wasiat taqwa kepada saudara -saudara sekalian dalam arti dan dengan cara imtitsalul awamir wajtinabun nawahi. Mari kita berusaha untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya, dengan demikian insya Allah kita akan tergolong sebagai orang yang taqwa kepada Allah SWT.

Hadirin rahimakumullah

Tahun ini, peristiwa Isra dan Miraj Nabi besar kita, Muhammad SAW, kembali kita peringati. Peringatan ini tentu saja memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita sebagai muslim, tidak hanya untuk mengenang kembali peristiwa itu, tetapi juga guna mengambil hikmah atau pelajaran agar berguna bagi perjalanan hidup kita. Sekurang-kurangnya ada lima hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra dan Miraj itu.

Pertama, perjalanan Isra dan Miraj ini merupakan perjalanan yang berlangsung dari masjid ke masjid, yakni dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa terus naik ke langit hingga ke Arasy Allah dan kembali lagi ke Masjidil haram. Yang Namanya perjalanan tentu maju, ini berarti bisa kita simpulkan bahwa bila kita ingin umat ini mengalami dan mencapai kemajuan serta agar kemajuannya tetap terarah, maka sumber daya manusia muslim harus mendapatkan pembinaan di masjid.

Oleh karena itu, setiap muslim harus cinta kepada masjid, gemar ke masjid dan mau memakmurkan masjid. Keharusan kita memakmurkan masjid ini karena memang hanya orang-orang yang berimanlah yang pantas melakukannya, Allah SWT berfirman di dalam surat At Taubah ayat 18 :

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

Artinya:

"Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan sholat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."

Hadirin Yang kami Hormati

Hikmah kedua, Isra Miraj juga membuktikan luas dan banyaknya ilmu Allah yang dimiliki sehingga apa yang mustahil bila dilihat dari ilmu manusia menjadi mungkin bagi ilmu Allah SWT., ini menggambarkan bahwa ilmu Allah itu amat luas dan amat banyak, sementara ilmu yang dimiliki manusia sangat sedikit, ini sekaligus membenarkan firman Allah:

.......وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Artinya:

" ... Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan melainkan sedikit." (QS Al Isra' : 85)

Masyiral Muslimin rahimakumullah

Hikmah ketiga dari Isra dan Miraj adalah memperkokoh loyalitas atau kesetiaan Nabi Muhammad SAW, kepada Allah SWT. Hal ini karena Isra dan Miraj itu terjadi ketika Nabi berada dalam kondisi yang berduka dengan wafatnya Sayyidah Khodijah dan wafatnya pamannya Abu Thalib.

Dengan Isra dan Miraj itulah Allah SWT sebenarnya ingin menegaskan kepada Nabi bahwa boleh saja bahwa ada manusia membantu perjuangan nabi, tetapi seorang nabi tidak pantas terlalu tergantung kepada manusia, ketergantungan dan mengharapkan perlindungan ini hanya pantas kepada Allah SWT, bukan kepada manusia. Allah berfirman:

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ ......

Artinya:

" ....Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)" (QS. Al Baqarah : 257)

Keempat, hikmah dari Isra dan Miraj adalah memperkokoh semangat dakwah. Hal ini karena sekembalinya Rasul SAW, dari Isra dan Miraj, beliau semakin menunjukkan semangatnya dalam dakwah meskipun orang-orang kafir semakin berani dan biadab dalam menghalang-halangi laju dakwah Rasulullah SAW, hingga puncaknya adalah harus dihindarinya pertumpahan darah, maka Nabi dan para sahabat diperintah oleh Allah untuk hijrah dari Makkah ke Madinah.

Keharusan kita untuk menunaikan tugas dakwah secara serius memang dikemukakan oleh Allah SWT, dalam Al-Quran:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya:

"Dan Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS Ali Imran: 104)

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Terakhir atau yang kelima dari hikmah Isra dan Miraj adalah semakin menumbuhkan Izzah atau harga diri sebagai muslim. Itulah sebagaimana yang ditunjukkan Nabi SAW, setelah Isra dan Miraj dan memang begitulah seharusnya seorang muslim, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Artinya:

"Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman." (QS Ali Imran: 139)

Semoga kita termasuk kedalam kelompok orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lalu, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Rasulullah SAW.

3. Isra Miraj dan Pentingnya Masjid Al-Aqsa

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Shalawat dan salam marilah kita limpahkan kepada Nabi kita yakni Nabi Muhammad Saw.

Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, khatib akan menyampaikan khutbah tentang peristiwa Isra Miraj dan pentingnya Masjid Al-Aqsa, simbol kemuliaan yang telah Allah tetapkan bagi umat Islam.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Peristiwa Isra Miraj seharusnya menjadi pengingat akan hubungan spiritual umat Islam dengan Masjid Al-Aqsa. Rasulullah SAW dipindahkan oleh Allah SWT dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsa dalam satu malam. Ada lima alasan utama mengapa Masjid Al-Aqsa memiliki nilai yang sangat penting bagi kita umat Islam.

Pertama, Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam. Sebelum umat Islam diperintahkan untuk menghadap Ka'bah, mereka menghadap Masjid Al-Aqsa dalam sholat mereka. Hal ini diabadikan dalam QS. Al Baqarah ayat 144, Allah berfirman:

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

Artinya:

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan."

Ayat di atas menunjukkan bahwa sejak awal, Palestina telah menjadi bagian dari tata ibadah dan sejarah Islam yang begitu istimewa.

Kedua, Masjid Al-Aqsa adalah tempat terjadinya Isra Nabi Muhammad SAW, salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Dalam perjalanan agung ini, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsa, sebelum kemudian diangkat menuju Sidratul Muntaha di langit tertinggi. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang penuh hikmah.

Ketiga, Masjid Al-Aqsa menjadi tempat dimana Rasulullah SAW memimpin sholat berjamaah dengan para nabi. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

فَحانَتِ الصَّلاةُ فأمَمْتُهُمْ

Artinya:

"Kemudian tibalah waktu sholat, maka akun pun mengimami mereka (para Nabi)." (HR. Muslim).

Peristiwa ini menunjukkan persatuan umat dan kesinambungan risalah yang dibawa oleh para nabi dari zaman ke zaman. Dalam momen penuh keagungan ini, Masjid Al-Aqsa menjadi saksi atas kesatuan pesan ilahi yang disampaikan sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Kejadian ini menegaskan bahwa Islam adalah kelanjutan dari ajaran tauhid yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya.

Hal ini juga menjadi simbol bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya sebagai imam dalam sholat tersebut, tetapi juga sebagai pemimpin risalah terakhir yang menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Keempat, tanah di sekitar Masjid Al-Aqsa adalah tempat yang diberkahi. Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dan Nabi Luth ke tanah ini dari ancaman kaumnya, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Anbiya ayat 71.

وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ

Artinya:

"Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam."

Ayat di atas menunjukkan bahwa bahwa Masjid Al-Aqsa adalah tempat pembebasan dari kezaliman dan tegaknya kebenaran.

Kelima, Masjid Al-Aqsa memiliki keberkahan yang meliputi seluruh wilayahnya. Dengan luas kompleks sebesar 144.000 meter persegi, setiap sudut tanah Masjid Al-Aqsa adalah tanah suci yang dilimpahi keberkahan Allah SWT.

Dalam Al-Quran, Allah SWT menegaskan keberkahan Masjid Al-Aqsa, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Isra ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya:

"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga Masjid Al-Aqsa, baik secara fisik maupun spiritual. Perbanyaklah doa untuk saudara-saudara kita di Palestina yang sedang berjuang mempertahankan Masjid Al-Aqsa dari segala bentuk ancaman. Tingkatkan kesadaran kita terhadap pentingnya tempat suci ini dalam Islam, karena Masjid Al-Aqsa bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga bagian dari akidah kita.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga keimanan kita, melindungi Masjid Al-Aqsa, dan mengokohkan ukhuwah Islamiah di antara kita semua. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

4. Isra Miraj, Momen yang Tepat Mengenalkan Sholat kepada Anak

Jamaah sholat Jumat yang dirahmati oleh Allah SWT,

Tidak bosan dan tidak jenuh, khatib senantiasa mengingatkan, pertama-tama kepada diri khatib pribadi dan kemudian kepada jamaah sekalian-marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan yang hadir dalam setiap keadaan, baik saat sendiri maupun ketika berada di tengah keramaian.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 119:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar."

Jamaah sholat Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Perintah syariat untuk mendidik anak agar mampu melaksanakan ibadah sholat telah dijelaskan secara tegas oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya. Dalam pelaksanaannya, terdapat tahapan-tahapan pendidikan yang harus dilalui oleh orang tua agar tujuan tersebut tercapai.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Sunan-nya:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Artinya:

"Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika mereka berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka (sebagai bentuk pendidikan) jika meninggalkannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka." (HR. Abu Daud)

Jamaah sholat Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Dari hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa Rasulullah SAW mengajarkan adanya tahapan dalam mendidik anak agar melaksanakan ibadah sholat. Tahapan ini dimulai sejak anak berusia tujuh tahun hingga sepuluh tahun.

Menurut Syekh Ali bin Sulthan Muhammad al-Hari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashobih, setiap tahapan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW memiliki hikmah dan alasan tersendiri. Pada usia tujuh tahun, anak diperintahkan sholat agar mereka terbiasa dan menumbuhkan rasa senang dalam melaksanakannya.

Sementara ketika anak memasuki usia sepuluh tahun, diperbolehkan adanya teguran yang lebih tegas-termasuk pukulan yang bersifat mendidik-apabila mereka meninggalkan sholat. Hal ini karena usia tersebut sudah mendekati masa baligh, di mana kewajiban ibadah mulai melekat. Pada usia ini pula, Rasulullah SAW memerintahkan pemisahan tempat tidur karena anak telah memasuki fase pubertas.

Jamaah sholat Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Momentum Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW merupakan saat yang sangat tepat untuk mulai memperkenalkan ibadah sholat, khususnya kepada anak-anak yang masih berada di bawah usia tujuh tahun.

Menurut Slamet Suyanto dalam bukunya Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, masa anak usia dini yakni rentang usia 0 hingga 8 tahun merupakan fase pertumbuhan yang sangat pesat, baik secara fisik maupun mental. Masa ini sangat ideal untuk menanamkan nilai-nilai agama, termasuk mengenalkan peristiwa Isra dan Miraj sebagai asal-usul diwajibkannya sholat.

Orang tua tidak perlu bingung mencari cara. Di zaman sekarang, banyak sarana yang dapat dimanfaatkan, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Cara sederhana bisa dilakukan, seperti membacakan kisah Isra dan Miraj, memutar audio cerita, menunjukkan gambar, atau video animasi yang sesuai. Tujuannya adalah menumbuhkan ketertarikan anak terhadap ibadah sholat serta memahami sejarah penting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Jika anak telah terbiasa mendengar dan memahami kisah ini sejak dini, maka ketika memasuki usia tujuh tahun, mereka akan memiliki motivasi internal untuk melaksanakan sholat dengan kesadaran sendiri. Pada tahap inilah, barulah sholat diajarkan secara lebih lengkap melalui pendekatan fikih.

Jamaah sholat Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Momentum Isra dan Miraj ini merupakan kesempatan yang sangat berharga. Marilah kita manfaatkan sebaik mungkin untuk mendidik anak-anak kita-generasi penerus umat-agar mengenal dan mencintai ibadah sholat sejak dini.

Tidak ada alasan untuk merasa kesulitan, karena di era digital saat ini, hanya dengan ponsel dan akses internet, kita dapat memperoleh berbagai materi pembelajaran agama. Selain itu, tersedia pula banyak buku keislaman yang membahas peristiwa Isra dan Miraj secara mendalam.

Mari kita siapkan generasi yang bertakwa dengan pendidikan agama sejak usia dini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan atas setiap ikhtiar kita.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

5. Isra Miraj, Perjalanan Anugrah Penuh Hikmah

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah SWT,

Di bulan Rajab yang mulia ini, kita memperingati peristiwa agung Isra dan Miraj, salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW. Sebuah perjalanan luar biasa dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, lalu dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT.

Peristiwa Isra' Miraj tidak sekadar dipahami dari sisi keajaiban perjalanannya semata sehingga disebut sebagai mukjizat. Lebih dari itu, peristiwa ini harus dibaca dari latar belakang dan konteks terjadinya, agar kita dapat memahami tujuan besar serta pelajaran berharga yang terkandung di dalamnya.

Isra Miraj terjadi pada fase pertengahan kenabian Rasulullah SAW, dari total 23 tahun masa kerasulan. Peristiwa ini merupakan anugerah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penghibur dan penguat atas berbagai cobaan berat yang beliau alami, sekaligus menjadi harapan baru bagi kelanjutan dakwah Islam.

Sebelum Isra Miraj, Rasulullah SAW menghadapi masa yang sangat berat. Beliau kehilangan dua sosok terdekat dalam hidupnya, yaitu istri tercinta Sayyidah Khadijah RA dan paman beliau, Abu Thalib. Keduanya bukan sekadar keluarga, tetapi juga pelindung dan penyemangat dakwah Rasulullah SAW di tengah penentangan kaum Quraisy. Setelah wafatnya mereka, tekanan dan kekerasan terhadap dakwah Nabi semakin berat.

Dalam kondisi penuh kesedihan itu, Rasulullah SAW mengadukan segala keluh kesahnya kepada Allah SWT melalui doa, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, jilid 14, halaman 139:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ

Artinya:

"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, keterbatasan dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia."

Dari sini kita memahami bahwa Isra Miraj merupakan bentuk kasih sayang dan pertolongan Allah SWT kepada Rasulullah SAW atas segala cobaan yang dihadapi, sekaligus sebagai isyarat bahwa pertolongan Allah pasti datang bagi hamba-Nya yang bersabar.

Allah SWT menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya, surat Al-An'am ayat 34:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰىهُمْ نَصْرُنَاۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِۚ

Artinya:

"Sungguh, rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, lalu mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan hingga datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada yang dapat mengubah ketetapan Allah."

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Pelajaran penting dari peristiwa Isra Miraj adalah keyakinan bahwa setiap ujian dan kesulitan pasti akan diiringi dengan kemudahan dan pertolongan dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

Artinya:

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

Inilah keyakinan seorang mukmin, bahwa Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Bahkan ketika seluruh penghuni bumi menyakiti seorang yang beriman, maka pertolongan dari langit akan datang kepadanya.

Hal ini tergambar dalam kisah Rasulullah SAW ketika beliau ditolak dan disakiti oleh penduduk Thaif, serta dihalangi untuk kembali ke Makkah. Dalam kondisi tersebut, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya dengan memperjalankan Rasulullah SAW ke langit sebagai bentuk penghiburan, penguatan, dan dorongan untuk melanjutkan perjuangan dakwah.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bazzar dalam al-Musnad, jilid 15, halaman 327:

إِنَّ الْمَعُونَةَ تَأْتِيْ مِنَ اللَّهِ عَلَى قَدْرِ الْمَؤُونَةِ، وَإِنَّ الصَّبْرَ يَأْتِيْ مِنَ اللَّهِ عَلَى قَدْرِ الْبَلَاءِ

Artinya:

"Sesungguhnya pertolongan datang dari Allah sesuai kadar kesulitan yang dijalani, dan kesabaran datang dari Allah sesuai kadar ujian yang dihadapi."

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Semoga kita mampu mengaktualisasikan pelajaran besar dari peristiwa Isra Miraj ini dalam kehidupan sehari-hari, dengan meyakini bahwa setiap kesulitan dan ujian yang kita hadapi akan diganti oleh Allah SWT dengan anugerah, kemudahan, serta jalan keluar yang indah, baik di dunia maupun di akhirat.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

6. Hikmah di Balik Peristiwa Isra Miraj

Hadirin jamaah Jumat yang mulia,

Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada Anda semua, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan bersungguh-sungguh melaksanakan seluruh perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Telah maklum bahwa kita semua kini berada di bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW begitu memperhatikan bulan Rajab hingga beliau memanjatkan doa sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik dalam Musnad Ahmad:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya:

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan."

Seolah-olah bulan Rajab merupakan gerbang awal dan persiapan ruhani untuk menyambut bulan Ramadhan. Ia menjadi tonggak dari rangkaian ibadah penting pada bulan-bulan setelahnya, yakni Sya'ban dan Ramadhan.

Sebagian ulama menyampaikan ungkapan hikmah:

رَجَبُ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْحَصَادِ

Artinya:

"Rajab adalah bulan menanam, Sya'ban adalah bulan menyirami, dan Ramadhan adalah bulan panen."

Maka dari itu, marilah kita manfaatkan bulan Rajab ini sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal saleh, istighfar, sedekah, puasa sunnah, serta berbagai bentuk ketaatan lainnya.

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,

Pada bulan Rajab pula terjadi peristiwa besar dan agung, yaitu Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha. Dari peristiwa ini, terdapat pelajaran berharga yang dapat kita petik.

Pertama, Isra dan Miraj adalah perkara yang haq dan benar adanya, karena disebutkan secara jelas dan eksplisit dalam Al-Quran. Peristiwa ini benar-benar terjadi, tanpa keraguan sedikitpun, meskipun akal manusia tidak mampu menjangkaunya sepenuhnya.

Peristiwa luar biasa ini menjadi ujian keimanan manusia. Sebab, orang yang tersesat adalah mereka yang hanya mengukur kebenaran berdasarkan akal semata. Kita harus menghindari pola pikir yang terlalu mengagungkan akal hingga mengesampingkan kekuasaan Allah SWT. Jika cara berpikir ini dibiarkan, dikhawatirkan ajaran agama yang tidak sesuai dengan logika manusia akan ditolak dan diingkari, na'udzubillahi min dzalik.

Bahkan, cara pandang seperti ini disebut sebagai cara pandang iblis, yang disifati oleh para ulama sebagai:

أَوَّلُ مَنْ قَاسَ الدِّيْنَ بِرَأْيِهِ

Artinya:

"Makhluk pertama yang mengukur agama dengan akalnya sendiri."

Kedua, sebelum Rasulullah SAW menghadap Allah SWT dalam peristiwa Miraj, dada beliau dibelah dan hatinya dibersihkan. Padahal, hati Nabi Muhammad SAW telah suci karena beliau ma'shum. Sebagaimana dituturkan oleh Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dalam Simthut Durrar:

وَمَا أَخْرَجَ الْمَلَائِكَةُ مِنْ قَلْبِهِ أَذًى، وَلَكِنَّهُمْ زَادُوهُ طُهْرًا عَلَى طُهْرٍ

Artinya:

"Para malaikat tidak mengeluarkan kotoran dari hati beliau, tetapi menambahkan kesucian di atas kesucian."

Pembersihan hati ini dilakukan sebelum Rasulullah SAW menerima perintah sholat lima waktu. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita sebagai umatnya, yang penuh dengan dosa dan kekhilafan, bahwa sebelum menghadap Allah SWT dalam sholat, hendaknya kita terlebih dahulu membersihkan hati.

Sholat tidak sekadar gerakan fisik, tetapi harus dilakukan dengan hati yang suci dan penuh kekhusyukan. Oleh karena itu, Allah SWT menggunakan lafadz "aqîmû ash-shalâh", bukan "if'alû ash-shalâh". Fi'lusshalâh cukup dengan melaksanakan rukun dan syarat secara lahiriah, sedangkan iqâmatusshalâh berarti menegakkan sholat dengan memenuhi hak-hak lahir dan batinnya.

Para ulama mendefinisikan iqâmatusshalâh sebagai:

إِتْيَانُ الصَّلَاةِ بِحُقُوقِهَا الظَّاهِرَةِ وَحُقُوقِهَا الْبَاطِنَةِ

Artinya:

"Melaksanakan sholat dengan memenuhi hak-hak lahiriah dan hak-hak batiniahnya."

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ketika Hatim Al-Asham ditanya, "Bagaimana engkau bisa khusyu' dalam sholat?" beliau menjawab:

"Aku berdiri untuk sholat dan membayangkan Ka'bah berada di hadapanku, shirath di bawah kakiku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut berada di belakangku."

Dengan penjelasan ini, kita memahami bahwa sholat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar bukanlah sholat biasa, bukan sekadar fi'lusshalâh, tetapi iqâmatusshalâh, sholat yang dilakukan dengan kehadiran hati, kekhusyukan, dan kesucian jiwa.

Semoga kita semua dan keluarga kita diberi kemudahan untuk memperbaiki kualitas sholat, dimampukan melaksanakan seluruh perintah Allah SWT, memperoleh ridha-Nya, dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Khutbah Kedua

Sama halnya dengan doa pembuka khutbah Jumat yang menggunakan bahasa Arab, khutbah kedua juga menggunakan naskah yang bersifat umum. Khutbah kedua ini juga biasanya merangkap sebagai doa penutup khutbah Jumat. Berikut contoh lafaz khutbah kedua yang dikutip dari laman NU Online:

.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ, أُتْلُ مَا أُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ, اِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ, وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ, وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ

.خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

.اَلْحَمْدُ للهِ حَقَّ حَمْدِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْـدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا الله، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ اَللَّهُمَّ اصْلِحْ أَإِمَّتَنَا وَأُمَّتَنَا وَقَضَاتَنَا وَعُلَمَائَنَا وَفُقَهَائَنَا وَمشَايِخَنَا صَلَاحًا تَامًّا عاَمًّا، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُّهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ نْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ،اَللَّهُمَّ اَهْلِكْ اَعْدَاَ أَلدِّيْنَ،وَاَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِينَ،وَفُكَّ أَسْرَى الْمَأْسُوْرِيْنَ،وَفَرِّجْ عَنِ الْمَكْرُوْبِيْنَ وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدْيُوْنِيْنَ وَاكْتُبِ السَّلَامَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرُ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الَمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلاَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قُدِيْرٌ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَأَهْلَنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَجَمِيْعَ إِخْوَانِنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الصَّابِرِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْ عُلَمَائِكَ الْعَامِلِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ.

رَبَّنَا أَتِيْنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارَ. اِللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الْخُاتِمَةِ ×۳ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Demikian kumpulan contoh khutbah Jumat tentang Isra Miraj 2026 yang singkat dan mudah disampaikan. Teks-teks ini dapat dijadikan referensi bagi khatib untuk menyampaikan pesan keimanan dan hikmah Isra Miraj kepada jamaah. Semoga contoh khutbah ini bermanfaat dan membantu pelaksanaan ibadah sholat Jumat menjadi lebih khusyuk serta bermakna.

Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(sto/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads