Sejarah Isra Miraj: Awal Mula Perintah Sholat 5 Waktu bagi Umat Islam

Sejarah Isra Miraj: Awal Mula Perintah Sholat 5 Waktu bagi Umat Islam

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Selasa, 13 Jan 2026 23:00 WIB
Isra Miraj Nabi Muhammad SAW
Ilustrasi Isra Miraj. Foto: Getty Images/iStockphoto/wongmbatuloyo
Solo -

Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Melalui peristiwa inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah sholat secara langsung dari Allah SWT, sebuah kewajiban yang tidak diturunkan melalui perantara wahyu sebagaimana syariat lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa sholat memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam, bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai fondasi utama yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya. Oleh sebab itu, memahami Isra Miraj berarti memahami awal mula kewajiban sholat lima waktu yang menjadi penopang kehidupan spiritual umat Islam.

Lebih dari sekadar kewajiban, sholat lima waktu memiliki pengaturan waktu dan jumlah rakaat yang sarat dengan hikmah. Setiap waktu sholat mengajarkan kedisiplinan, keteraturan hidup, serta kesadaran untuk senantiasa mengingat Allah SWT di tengah aktivitas duniawi. Pergantian waktu dari Subuh hingga Isya menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia berjalan dalam siklus yang teratur, dan sholat hadir sebagai penyeimbang agar manusia tidak larut dalam kesibukan tanpa arah spiritual.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan memahami peristiwa Isra Miraj sebagai awal mula ditetapkannya sholat lima waktu, umat Islam tidak hanya diajak mengenang sejarah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, tetapi juga diajak menyelami makna mendalam di balik kewajiban tersebut. Peringatan ini menjadi bentuk kasih sayang Allah SWT agar manusia tidak lalai terhadap kewajiban utamanya. Berikut adalah sejarah Isra Miraj lengkap dengan hikmah waktu sholat dan azab bagi orang yang meninggalkannya.

Awal Mula Perintah Sholat 5 Waktu

Sejarah penentuan sholat lima waktu tidak bisa dilepaskan dari perkembangan syariat Islam pada fase awal kenabian. Menurut Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam Fath al-Bari dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, pada masa awal dakwah di Makkah, sholat belum diwajibkan dalam bentuk lima waktu sebagaimana sekarang. Kaum muslimin saat itu telah melaksanakan sholat, namun belum memiliki ketentuan jumlah waktu yang baku.

ADVERTISEMENT

Dalam surat Thaha ayat 130. Ulama tafsir seperti Al-Qurthubi menjelaskan awal sholat dilakukan dua waktu, pagi dan sore, sebagaimana isyarat ayat-ayat Makkiyah awal.

فَاءۑبِرۑ ΨΉΩŽΩ„Ω°Ω‰ Ω…ΩŽΨ§ ΩŠΩŽΩ‚ΩΩˆΫ‘Ω„ΩΩˆΫ‘Ω†ΩŽ ΩˆΩŽΨ³ΩŽΨ¨Ω‘ΩΨ­Ϋ‘ Ψ¨ΩΨ­ΩŽΩ…Ϋ‘Ψ―Ω Ψ±ΩŽΨ¨Ω‘ΩΩƒΩŽ Ω‚ΩŽΨ¨Ϋ‘Ω„ΩŽ Ψ·ΩΩ„ΩΩˆΫ‘ΨΉΩ Ψ§Ω„Ψ΄Ω‘ΩŽΩ…Ϋ‘Ψ³Ω ΩˆΩŽΩ‚ΩŽΨ¨Ϋ‘Ω„ΩŽ ΨΊΩΨ±ΩΩˆΫ‘Ψ¨ΩΩ‡ΩŽΨ§ ۚ ΩˆΩŽΩ…ΩΩ†Ϋ‘ Ψ§Ω°Ω†ΩŽΨ§Ω“Ω‰Ω΄Ω Ψ§Ω„Ω‘ΩŽΩŠΫ‘Ω„Ω ΩΩŽΨ³ΩŽΨ¨Ω‘ΩΨ­Ϋ‘ وَاَطۑرَافَ Ψ§Ω„Ω†Ω‘ΩŽΩ‡ΩŽΨ§Ψ±Ω Ω„ΩŽΨΉΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩƒΩŽ ΨͺΩŽΨ±Ϋ‘ΨΆΩ°Ω‰β€ Ω‘Ω£Ω 

"Maka sabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenam; dan bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari, agar engkau merasa tenang."

Tahapan paling menentukan dalam sejarah sholat terjadi pada peristiwa Isra' dan Mi'raj. Dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 1.

Ψ³ΩΨ¨Ϋ‘Ψ­Ω°Ω†ΩŽ Ψ§Ω„Ω‘ΩŽΨ°ΩΩ‰Ϋ‘Ϋ€ Ψ§ΩŽΨ³Ϋ‘Ψ±Ω°Ω‰ Ψ¨ΩΨΉΩŽΨ¨Ϋ‘Ψ―ΩΩ‡Ω– Ω„ΩŽΩŠΫ‘Ω„Ω‹Ψ§ Ω…Ω‘ΩΩ†ΩŽ Ψ§Ω„Ϋ‘Ω…ΩŽΨ³Ϋ‘Ψ¬ΩΨ―Ω Ψ§Ω„Ϋ‘Ψ­ΩŽΩ€Ψ±ΩŽΨ§Ω…Ω Ψ§ΩΩ„ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ϋ‘Ω…ΩŽΨ³Ϋ‘Ψ¬ΩΨ―Ω Ψ§Ω„Ϋ‘Ψ§ΩŽΩ‚Ϋ‘Ψ΅ΩŽΨ§ Ψ§Ω„Ω‘ΩŽΨ°ΩΩ‰Ϋ‘ Ψ¨Ω°Ψ±ΩŽΩƒΫ‘Ω†ΩŽΨ§ Ψ­ΩŽΩˆΫ‘Ω„ΩŽΩ‡Ω— Ω„ΩΩ†ΩΨ±ΩΩŠΩŽΩ‡Ω— مِنۑ اٰيٰΨͺΩΩ†ΩŽΨ§ Ψ• Ψ§ΩΩ†Ω‘ΩŽΩ‡Ω— Ω‡ΩΩˆΩŽ Ψ§Ω„Ψ³Ω‘ΩŽΩ…ΩΩŠΫ‘ΨΉΩ Ψ§Ω„Ϋ‘Ψ¨ΩŽΨ΅ΩΩŠΫ‘Ψ±Ωβ€

"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Menurut mayoritas ulama sirah, di antaranya Ibnu Ishaq (melalui riwayat yang dikutip Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah) dan An-Nawawi, peristiwa ini terjadi sekitar satu hingga dua tahun sebelum hijrah ke Madinah. Perintah sholat diterima Nabi Muhammad SAW secara langsung dari Allah SWT, tanpa perantara Malaikat Jibril, yang menunjukkan kedudukan sholat sebagai ibadah utama.

Dalam riwayat yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik RA, yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, disebutkan ketika Nabi Muhammad SAW berada di Sidratul Muntaha, Allah SWT mewajibkan sholat sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam. Para ulama hadis seperti Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa kewajiban ini merupakan bentuk ujian ketaatan dan sekaligus penegasan pentingnya sholat dalam Islam.

Proses pengurangan jumlah sholat dijelaskan secara rinci dalam hadis sahih. Menurut riwayat dalam Shahih al-Bukhari (Kitab Ash-Shalah), Nabi Musa AS menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk meminta keringanan karena umatnya tidak akan sanggup. Nabi SAW kemudian bolak-balik menghadap Allah SWT hingga jumlah sholat dikurangi secara bertahap. Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, pengurangan ini menunjukkan kasih sayang Allah SWT dan pengalaman kenabian Nabi Musa AS dalam membimbing umat.

Setelah jumlah sholat ditetapkan menjadi lima waktu, Allah SWT menegaskan bahwa pahalanya tetap setara dengan 50 waktu. Hal ini berdasarkan hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Ketetapan ini menegaskan prinsip keadilan dan rahmat Allah, di mana kewajiban dipermudah tetapi ganjaran tidak dikurangi.

Adapun penetapan waktu-waktu sholat secara rinci dijelaskan dalam hadis tentang kedatangan Malaikat Jibril yang mengimami Nabi Muhammad SAW selama dua hari berturut-turut. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i, dan dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi'i sebagai dasar penentuan awal dan akhir waktu sholat dalam fikih. Dari hadis inilah para ulama menetapkan waktu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya secara sistematis.

Oleh karena itu, penetapan sholat lima waktu melalui Isra' dan Mi'raj menunjukkan bahwa sholat adalah ibadah yang memiliki kedudukan khusus. Ia merupakan satu-satunya rukun Islam yang diwajibkan langsung di langit, dan menjadi simbol hubungan kontinu antara hamba dan Allah SWT sepanjang hari.

Hikmah Waktu-Waktu Sholat

Berikut adalah hikmah dari waktu-waktu sholat menurut laman Kementerian Agama RI.

1. Shalat Subuh

Hikmahnya terkait dengan kisah Nabi Adam ketika diturunkan ke bumi.

Ketika fajar tiba, Nabi Adam bersyukur atas keselamatan dan cahaya fajar dengan melaksanakan shalat dua rakaat; rakaat pertama untuk bersyukur selamat dari kegelapan, dan rakaat kedua untuk bersyukur atas cahaya fajar yang menerangi bumi.

2. Shalat Dzuhur

Dihubungkan dengan kisah Nabi Ibrahim AS setelah Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba ketika penyembelihan.

Nabi Ibrahim melaksanakan empat rakaat sebagai bentuk syukur dan permohonan ridha kepada Allah, masing-masing rakaat mengandung makna syukur atas keselamatan, pengampunan, dan nikmat Allah.

3. Shalat Ashar

Dikaitkan dengan peristiwa Nabi Yunus AS yang keluar dari perut ikan pada waktu Ashar.

Empat rakaat shalat Ashar menjadi ungkapan syukur atas keselamatan dari empat bentuk kegelapan, yaitu dalam perut ikan, di dalam air, malam hari, dan lagi dalam perut ikan itu sendiri.

4. Shalat Maghrib

Merujuk pada kisah Nabi Isa AS yang selamat dari kejaran kaumnya saat matahari hampir terbenam.

Rakaat-rakaat tersebut memiliki makna syukur atas keselamatan, penegasan aqidah, dan pengakuan bahwa semua kejadian diatur oleh ketetapan Allah.

5. Shalat Isya

Dikaitkan dengan pengalaman Nabi Musa AS yang mengalami kesedihan dan kemudian menerima pertolongan Allah pada malam hari.

Shalat empat rakaat menjadi wujud syukur atas pertolongan itu dan penguat hubungan spiritual di waktu malam.

  1. Setiap waktu sholat dan jumlah rakaatnya bukan sekadar angka ritual, tetapi mempunyai hikmah yang dalam:
  2. Menghubungkan ibadah dengan peristiwa dan pengakuan syukur kepada Allah SWT.
  3. Mendidik disiplin waktu dan menjaga hubungan manusia dengan Allah sepanjang hari.
  4. Menanamkan nilai spiritual dan sejarah kenabian di balik tiap sholat.

12 Azab bagi Orang yang Mengabaikan Sholat

Berikut adalah beberapa azab bagi yang meninggalkan sholat menurut Kementerian Agama Aceh:

1. Tiga Siksaan di Dunia

  • Usaha dan rezeki tidak berkah.
  • Cahaya kebaikan (nur shalihin) hilang dari dirinya.
  • Ia dibenci oleh setiap orang mu'min.

2. Tiga Siksaan Saat Sakaratul Maut

  • Ruh dicabut dalam keadaan sangat haus, sehingga meskipun minum seluruh air di sungai pun hausnya tidak hilang.
  • Keluarnya nyawa terasa sangat pedih.
  • Dikhawatirkan ia mati dalam keadaan tidak beriman.

3. Tiga Siksaan di Dalam Kubur

  • Sulit menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir.
  • Kubur terasa sangat gelap baginya.
  • Kubur menghimpit sampai tulang-tulangnya seakan hancur luluh.

4. Tiga Azab di Akhirat

  • Perhitungan amal yang sangat berat (susah).
  • Dimurkai oleh Allah SWT.
  • Disiksa oleh Allah di dalam api neraka.

Dengan memahami sejarah, hikmah, serta peringatan bagi yang mengabaikannya, diharapkan kita semakin menjaga sholat tepat waktu dan menjadikannya sebagai pedoman hidup sehari-hari. Semoga bermanfaat.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(par/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads