- Peristiwa Isra Miraj Terjadi pada Tanggal, Bulan, dan Tahun Berapa?
- Kisah Perjalanan Isra Miraj Rasulullah SAW 1. Awal Perjalanan dan Pembersihan Hati Rasulullah 2. Perjalanan ke Baitul Maqdis 3. Naik ke Langit Pertama hingga Ketujuh 4. Sidratul Muntaha dan Kewajiban Sholat 5. Kembali ke Mekkah dan Ujian Keimanan
- Makna dan Hikmah Peristiwa Isra Miraj 1. Bukti Kasih Sayang Allah kepada Rasul-Nya 2. Cobaan sebagai Jalan Meningkatkan Keimanan 3. Perintah Sholat sebagai Inti Isra Miraj 4. Keutamaan Malam dalam Mendekatkan Diri kepada Allah 5. Mengimani Kekuasaan Allah Tanpa Batas
Peristiwa Isra Miraj menjadi salah satu momen paling agung dalam sejarah Islam. Dari perjalanan inilah umat Islam menerima perintah sholat lima waktu yang menjadi tiang agama hingga hari ini.
Meski kisahnya masyhur dan rutin diperingati setiap tahun, pertanyaan tentang kapan tepatnya Isra Miraj terjadi masih sering muncul. Para ulama sejak dahulu memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai tanggal, bulan, dan tahun peristiwa tersebut.
Lantas, peristiwa Isra Miraj terjadi pada tanggal, bulan, dan tahun berapa sebenarnya terjadi? Mari kita simak penjelasan berikut untuk mendapatkan jawabannya, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Ulama berbeda pendapat tentang waktu Isra Miraj, baik dari sisi tahun kenabian maupun bulannya.
- Pendapat paling dikenal di Indonesia menyebut Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab.
- Peristiwa Isra Miraj menandai ditetapkannya kewajiban sholat lima waktu bagi umat Islam.
Peristiwa Isra Miraj Terjadi pada Tanggal, Bulan, dan Tahun Berapa?
Syekh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri dalam bukunya Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah menjelaskan, peristiwa Isra dan Miraj terjadi pada masa yang tidak mudah dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Saat Islam masih berada di fase awal dan menghadapi tekanan berat, Allah SWT memperjalankan Nabi dalam sebuah peristiwa luar biasa yang kelak menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam.
Namun, hingga kini, waktu pasti terjadinya Isra Miraj masih menjadi pembahasan di kalangan ulama. Sejumlah pendapat muncul terkait kapan Isra Miraj berlangsung. Berikut ini sejumlah pendapatnya.
- Sebagian ulama berpendapat peristiwa ini terjadi pada tahun ketika Nabi dimuliakan dengan nubuwah. Pendapat ini dikemukakan oleh ath-Thabari.
- Ada pula yang menyatakan Isra terjadi lima tahun setelah Nabi diutus sebagai rasul, sebagaimana pendapat yang didukung oleh an-Nawawi dan al-Qurthubi.
- Pendapat lain menyebutkan Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian. Pandangan ini dikemukakan oleh al-Allamah al-Manshurfuri dan menjadi salah satu pendapat yang paling dikenal di tengah masyarakat.
- Namun, terdapat pula pandangan yang menyebutkan Isra Miraj terjadi enam belas bulan sebelum hijrah, yakni pada bulan Ramadhan tahun ke-12 kenabian.
- Ada juga yang berpendapat peristiwa ini terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun ke-13 kenabian, serta pendapat lain yang menyebutkan Isra Miraj berlangsung setahun sebelum hijrah pada bulan Rabi'ul Awwal tahun ke-13 kenabian.
Dari berbagai pendapat tersebut, tiga pendapat pertama dinilai tidak dapat diterima. Alasannya berkaitan dengan wafatnya Khadijah RA pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian. Saat Khadijah wafat, kewajiban sholat lima waktu belum ditetapkan. Padahal, para ulama sepakat bahwa sholat lima waktu diwajibkan pada malam Isra Miraj. Oleh sebab itu, pendapat yang menempatkan Isra Miraj sebelum masa tersebut dianggap tidak selaras dengan fakta sejarah.
Adapun tiga pendapat lainnya, hingga kini belum ditemukan mana yang paling kuat. Meski demikian, kandungan Surah al-Isra menunjukkan bahwa peristiwa Isra Miraj terjadi pada fase yang lebih akhir dalam perjalanan kenabian. Hal ini memperkuat dugaan bahwa peristiwa tersebut berlangsung mendekati masa hijrah, meskipun tanggal pastinya tetap menjadi ruang ijtihad para ulama.
Di Indonesia sendiri, mayoritas ulama dan masyarakat meyakini bahwa Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab. Keyakinan ini telah mengakar kuat dalam tradisi keislaman Nusantara dan tercermin dalam peringatan Isra Miraj yang rutin digelar setiap tahun. Bahkan, tanggal 27 Rajab ditetapkan sebagai hari libur nasional keagamaan, sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang hari libur nasional dan cuti bersama.
Kisah Perjalanan Isra Miraj Rasulullah SAW
Meski tanggal, bulan, serta tahun terjadinya peristiwa Isra Miraj masih belum dapat dipastikan, kita dapat mengetahui bagaimana agungnya perjalanan Rasulullah pada malam itu dari riwayat shahih yang dikutip dari buku Meneladani Rasulullah melalui Sejarah tulisan Sri Januarti Rahayu berikut.
1. Awal Perjalanan dan Pembersihan Hati Rasulullah
Pada suatu malam, Rasulullah SAW didatangi oleh Malaikat Jibril. Dalam riwayat yang sahih, Jibril kembali membersihkan jantung Rasulullah. Dadanya dibelah dari bawah leher hingga ke atas pusar, lalu jantung beliau diambil dan dicuci dengan air zamzam dalam sebuah tempayan emas yang berisi keimanan. Peristiwa ini menjadi awal dari perjalanan agung Isra Miraj.
Setelah itu, Rasulullah bersiap melakukan perjalanan dari Mekkah menuju Baitul Maqdis bersama Malaikat Jibril dengan mengendarai Buraq. Buraq adalah hewan tunggangan yang sangat cepat, lebih kecil dari bagal dan lebih besar dari keledai, dengan langkah sejauh pandangan matanya.
2. Perjalanan ke Baitul Maqdis
Dalam perjalanan menuju Palestina, Rasulullah mengalami beberapa peristiwa penting. Beliau sempat dikejar Jin Ifrit yang membawa api, hingga Malaikat Jibril mengajarkan doa yang membuat api tersebut padam. Rasulullah juga mencium aroma harum yang berasal dari seorang penyisir rambut putri Firaun beserta anak-anaknya yang wafat karena mempertahankan tauhid.
Beliau melihat seorang laki-laki yang mengumpulkan kayu bakar namun tidak sanggup memikulnya, yang dijelaskan Jibril sebagai gambaran orang yang menerima banyak amanah tetapi tidak menunaikannya. Di perjalanan ini pula, Rasulullah ditawari susu dan khamar. Beliau memilih susu, dan Jibril menegaskan bahwa pilihan tersebut sesuai dengan fitrah.
Setibanya di Masjidil Aqsa, Rasulullah mengikat Buraq di pintu masjid, lalu melaksanakan sholat dua rakaat. Diriwayatkan, beliau menjadi imam bagi para nabi terdahulu.
3. Naik ke Langit Pertama hingga Ketujuh
Setelah dari Masjidil Aqsa, Rasulullah dibawa Malaikat Jibril naik ke langit pertama. Di setiap pintu langit, Malaikat Jibril meminta izin kepada malaikat penjaga dengan menyebutkan bahwa beliau datang bersama Muhammad yang telah diutus sebagai rasul.
Di langit pertama, Rasulullah bertemu Nabi Adam AS. Di langit kedua, beliau bertemu Nabi Yahya bin Zakaria dan Nabi Isa bin Maryam. Di langit ketiga, Rasulullah bertemu Nabi Yusuf AS yang dikaruniai setengah ketampanan dunia. Di langit keempat, beliau bertemu Nabi Idris AS. Di langit kelima, Rasulullah bertemu Nabi Harun AS. Di langit keenam, beliau bertemu Nabi Musa AS, yang menangis karena umat Muhammad kelak lebih banyak masuk surga.
Di langit ketujuh, Rasulullah bertemu Nabi Ibrahim AS yang bersandar di Baitul Makmur, tempat ibadah penduduk langit. Nabi Ibrahim berpesan agar Rasulullah menyampaikan salam kepada umatnya dan mengabarkan bahwa surga memiliki tanah yang baik, air yang segar, dan tumbuhan berupa zikir kepada Allah.
4. Sidratul Muntaha dan Kewajiban Sholat
Rasulullah kemudian diajak ke Sidratul Muntaha, sebuah pohon besar di penghujung langit yang keindahannya tidak mampu disifati. Di sana, Rasulullah melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya untuk kedua kali, dengan enam ratus sayap yang menutupi cakrawala.
Di tempat ini, Rasulullah menerima wahyu kewajiban sholat sebanyak 50 kali sehari semalam. Atas saran Nabi Musa, Rasulullah berulang kali memohon keringanan hingga kewajiban sholat ditetapkan menjadi lima waktu, dengan pahala setara lima puluh. Allah berfirman bahwa ketetapan ini tidak akan diubah.
5. Kembali ke Mekkah dan Ujian Keimanan
Rasulullah turun kembali ke Masjidil Aqsa dan kemudian kembali ke Mekkah dengan Buraq. Dalam perjalanan pulang, beliau melewati kafilah dagang dan mengalami beberapa kejadian yang kelak menjadi bukti kebenaran perjalanannya.
Setibanya di Mekkah pada pagi hari, Rasulullah merasa sedih karena mengetahui banyak orang akan mendustakannya. Abu Jahal menyebarkan cerita ini untuk mempermalukan Rasulullah. Namun, Abu Bakar dengan tegas membenarkan Rasulullah dan sejak itu mendapat gelar Ash-Shiddiq.
Berita Isra Miraj menjadi ujian besar bagi kaum Muslimin. Sebagian yang imannya lemah kembali murtad. Allah SWT menurunkan wahyu dalam Surah Al-Isra ayat 60 sebagai penegasan bahwa peristiwa ini adalah ujian bagi manusia.
Ketika kaum Quraisy menantang Rasulullah untuk menjelaskan detail Baitul Maqdis, Allah menampakkan gambaran masjid tersebut sehingga Rasulullah mampu menjelaskannya dengan rinci. Orang-orang yang pernah ke Baitul Maqdis membenarkan gambaran itu, meskipun tetap menolak mempercayai perjalanan semalam Rasulullah.
Makna dan Hikmah Peristiwa Isra Miraj
Di dalam buku Mimbar Jumat yang ditulis oleh Dr Najamuddin Petta Solong dkk, terdapat penjelasan mengenai makna serta hikmah di balik peristiwa Isra Miraj. Berikut ini penjelasan lengkapnya.
1. Bukti Kasih Sayang Allah kepada Rasul-Nya
Isra Miraj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah, yaitu tahun kesedihan, ketika beliau ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Dalam kondisi tersebut, Allah mengutus Malaikat Jibril untuk membawa Nabi Muhammad SAW menjalani perjalanan mulia sebagai bentuk penghiburan dan kasih sayang dari Allah.
Perjalanan dari Makkah ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha dengan mengendarai Buraq menunjukkan bahwa ketika seorang hamba berada dalam ujian yang berat, Allah tidak pernah meninggalkannya. Peristiwa ini menjadi tanda bahwa orang beriman yang bersabar akan mendapatkan perhatian dan kasih sayang Allah SWT.
2. Cobaan sebagai Jalan Meningkatkan Keimanan
Cobaan yang dialami Nabi Muhammad sebelum Isra Miraj menjadi pelajaran penting bahwa ujian hidup bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan cara Allah untuk meningkatkan kualitas keimanan hamba-Nya. Kepergian orang-orang terdekat Rasulullah menjadi ujian berat, namun justru di balik itu Allah menganugerahkan peristiwa besar.
Dari sini dapat dimaknai bahwa siapa pun yang mampu menghadapi cobaan dengan tetap berpegang teguh pada syariat Islam, maka Allah akan mengangkat derajat keimanannya, memberikan ketentraman, serta karunia yang lebih besar.
3. Perintah Sholat sebagai Inti Isra Miraj
Puncak dari peristiwa Isra Miraj adalah diterimanya perintah sholat. Pada awalnya, Allah mewajibkan sholat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Setelah Rasulullah memohon keringanan, kewajiban tersebut menjadi lima waktu sehari.
Makna penting dari perintah sholat ini adalah ajakan bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas sholat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Sholat lima waktu menjadi sarana utama untuk menyambungkan diri kepada Allah SWT. Sholat bukanlah beban, melainkan karunia dan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
4. Keutamaan Malam dalam Mendekatkan Diri kepada Allah
Isra Miraj terjadi pada malam hari, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Isra: 1. Malam dipilih karena suasananya yang sunyi dan sepi, saat kebanyakan manusia terlelap. Hal ini mengandung makna bahwa Allah ingin melihat hamba-Nya yang benar-benar beriman dan bersungguh-sungguh mendekat kepada-Nya.
Malam hari juga dikenal sebagai waktu yang mustajab untuk berdoa dan bermunajat. Isra Miraj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah sangat erat kaitannya dengan kesungguhan seorang hamba dalam memanfaatkan waktu-waktu terbaik.
5. Mengimani Kekuasaan Allah Tanpa Batas
Perjalanan Isra Miraj yang terjadi hanya dalam satu malam mengajarkan bahwa kekuasaan Allah tidak dapat diukur dengan logika manusia semata. Mukjizat tersebut mungkin terlihat tidak masuk akal bagi manusia, namun bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Peristiwa ini menanamkan keyakinan bahwa mukjizat itu nyata dan sepenuhnya berada dalam kehendak Allah SWT. Keimanan menuntut keyakinan penuh terhadap kekuasaan-Nya, meskipun di luar batas pemahaman manusia.
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai waktu peristiwa Isra Miraj terjadi pada tanggal, bulan, dan tahun berapa, Isra Miraj tetap menjadi peristiwa sentral dalam ajaran Islam. Nilai utamanya terletak pada pesan keimanan, ketaatan, dan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. Dari peristiwa inilah umat Islam diajak memperkuat sholat sebagai penghubung utama dengan Sang Pencipta.
(sto/ahr)
