Mahamenteri KGPA Panembahan Tedjowulan menyebut Paku Buwono (PB) XIV Mangkubumi maupun Paku Buwono XIV Purbaya belum siap menjadi raja. Paku Buwono XIV Mangkubumi meresponsnya dengan singkat.
Ditemui usai Salat Jumat di Masjid Agung, Paku Buwono XIV Mangkubumi menjawab dengan santai. Ia mengaku belum melihat atau menonton pernyataan KGPA Tedjowulan yang menyatakan hal tersebut.
"Saya belum nonton, saya mah belum nonton," katanya, Jumat (26/12/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, putra tertua mendiang Paku Buwono XIII itu mengatakan akan melakukan rembuk (musyawarah) dengan seluruh anggota keluarga. Ke depannya, hal terkait kepemimpinan Keraton Solo akan ditentukan bersama.
"Nggih (iya), kita nanti akan ada rembukan dulu dari semua keluarga. Ya, nanti kita tentukan bersama, lah. Akan ada kesepakatan-kesepakatan yang lain, begitu," terangnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi. Ia mengatakan pihaknya akan menjalin diskusi mendalam dengan Tedjowulan. Meskipun demikian, pihaknya mengaku terbuka untuk menjalin komunikasi yang lebih intens.
"Ya, mungkin memang masih diperlukan diskusi yang lebih mendalam dengan Gusti Tedjo, ya. Karena kalau di internal sini sudah relatif cukup banyak diskusi, tapi dengan Gusti Tedjo mungkin belum, sehingga penilaiannya seperti itu. Nanti kalau sudah lebih banyak diskusi, mungkin penilaiannya bisa berubah," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Mahamenteri Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan menyebut dua sosok yang mengukuhkan diri sebagai Raja Keraton Solo belum siap untuk menjadi Sinuhun Paku Buwono XIV. Ketidaksiapan itu ia lihat dari beberapa faktor, baik dari sisi spiritual maupun pengetahuan.
"Kalau saya pikir mereka belum siap. (Secara spiritual dan pengetahuan?) Belum, belum siap. Untuk menduduki jabatan sebagai seorang ratu (raja), mereka belum siap," katanya dalam siniar (podcast) bersama detikJateng, Rabu (24/12/2025).
Lebih lanjut, Tedjowulan menyebut bahwa salah satu indikator seorang raja adalah memegang teguh sabda pandita ratu. Oleh karena itu, seorang raja harus melalui proses pertimbangan yang panjang sebelum berbicara.
"Salah satu indikatornya belum siap adalah seorang ratu itu yang dipegang adalah sabda pandita ratu. Jadi jangan celometan (asal bicara). Berbicara itu harus melalui proses yang sangat mendalam. Dengan bekal pendidikan hukum yang dimiliki, harusnya tahu persis. Berbicara sembarangan itu namanya melukai," ujarnya.
"Jangan sampai menyakiti orang. Seorang raja itu justru harus melindungi, menenangkan, dan lain sebagainya. Hal itu belum tersirat sampai sekarang," sambungnya.
(alg/apu)











































