- Efek Gigitan Ular yang Bisa Rendah 1. Pembengkakan pada Area Gigitan 2. Rasa Nyeri di Sekitar Luka 3. Perubahan Warna Kulit di Sekitar Luka 4. Sedikit Pendarahan dari Luka Gigitan 5. Reaksi Tubuh Sistemik yang Ringan
- Bagaimana Cara Menangani Gigitan Ular Berbisa? 1. Segera Hubungi Layanan Medis Darurat 2. Tetap Tenang dan Kurangi Gerakan 3. Longgarkan Pakaian dan Lepaskan Aksesori 4. Jangan Menangani atau Memburu Ular 5. Ketahui Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan 6. Pemberian Antivenom oleh Tenaga Medis 7. Perawatan Setelah Penanganan Awal
Gigitan ular memang terdengar menakutkan, tetapi tidak semua jenis ular memiliki bisa yang kuat. Pada beberapa kasus, gigitan ular berbisa rendah hanya menimbulkan reaksi ringan pada tubuh. Meski begitu, efeknya tetap perlu diperhatikan karena tubuh tetap memberi respons terhadap racun yang masuk.
Gejalanya dapat berupa pembengkakan lokal, nyeri ringan, perubahan warna kulit, hingga sedikit pendarahan. Perbedaan tingkat keparahan ini dipengaruhi oleh seberapa banyak racun yang masuk, lokasi gigitan, dan kondisi tubuh korban. Karena efeknya bisa berkembang dalam hitungan jam, pemantauan tetap penting meskipun kelihatannya tidak parah.
Untuk tahu seperti apa ciri-cirinya dan bagaimana langkah penanganan yang tepat, yuk simak penjelasan lengkap efek gigitan ular berbisa rendah dan cara menanganinya di bawah ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Gigitan ular berbisa rendah tetap dapat memicu reaksi lokal seperti bengkak dan nyeri, sehingga perlu dipantau.
- Perkembangan gejala bisa muncul dalam beberapa jam, jadi tetap utamakan penanganan medis meski tampak ringan.
- Antivenom hanya diberikan oleh tenaga medis jika gejala berkembang atau racun terindikasi menyebar.
Efek Gigitan Ular yang Bisa Rendah
Dirangkum dari MSD Manual, Healthline, dan Medical News Today, ular dengan bisa rendah umumnya menghasilkan efek yang lebih ringan bagi manusia. Selain itu, tingkat keparahan efek gigitan ular sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti jumlah racun yang disuntikkan sangat sedikit (injeksi minimal), lokasi gigitan berada jauh dari area tubuh vital, kondisi fisik korban masih kuat, atau memang jenis ular tersebut memiliki toksisitas yang tidak sekuat spesies lain.
Di bawah ini beberapa efek yang mungkin muncul ketika digigit ular dengan bisa rendah atau tidak terlalu kuat.
1. Pembengkakan pada Area Gigitan
Pembengkakan merupakan reaksi pertama yang umum terjadi. Pada kondisi ringan, bengkak biasanya muncul di sekitar luka dan berkembang dalam 30 sampai 60 menit setelah gigitan.
Tubuh merespons tusukan taring dan sejumlah racun dengan membentuk peradangan di jaringan sekitar. Warna kulit dapat menjadi lebih merah atau lebih gelap, tetapi penyebarannya cenderung terbatas dan tidak langsung meluas ke seluruh anggota tubuh.
Pembengkakan ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman atau sesak pada kulit, namun biasanya masih dalam batas yang dapat ditahan. Pada kondisi seperti ini, pembengkakan tidak disertai luka lepuh besar atau kerusakan jaringan cepat seperti pada kasus gigitan dengan racun tinggi. Meski tampak ringan, bengkak tetap perlu dipantau, karena perkembangan pembengkakan berjam-jam setelah gigitan dapat mengindikasikan bahwa racun bergerak lebih dalam.
2. Rasa Nyeri di Sekitar Luka
Nyeri pada gigitan ular berbisa dapat dirasakan segera. Pada gigitan dengan efek ringan, rasa nyeri biasanya bersifat lokal atau fokus di sekitar lokasi luka tanpa menyebar jauh.
Sensasinya dapat berupa rasa berdenyut atau terbakar, tetapi tidak sampai menyebabkan ketidakmampuan menggerakkan anggota tubuh. Rasa nyeri ini muncul karena jaringan tubuh bereaksi terhadap racun dan tusukan taring.
Meski terlihat sederhana, rasa nyeri tetap menjadi tanda bahwa tubuh sedang bereaksi terhadap zat asing. Jika venom atau bisa yang masuk sedikit, intensitas nyeri tidak bertambah drastis dalam beberapa jam pertama. Ini berbeda dengan kasus envenomasi yang lebih berat, di mana nyeri dapat menjalar dan meningkatkan kelemahan otot.
3. Perubahan Warna Kulit di Sekitar Luka
Gigitan ular juga dapat menyebabkan perubahan warna kulit, seperti memerah atau tampak lebih gelap. Jika muncul tanda semacam ini, hal tersebut merupakan reaksi lokal tubuh terhadap racun.
Dalam efek yang lebih ringan, perubahan warna terjadi secara terbatas dan tidak cepat menyebar. Ini menandakan bahwa reaksi tubuh masih terfokus di permukaan jaringan sekitar gigitan.
Perubahan ini biasanya tidak diikuti dengan pembentukan lepuh besar atau kerusakan jaringan yang luas. Namun tetap perlu observasi, karena bila area yang berubah warna semakin melebar, ini dapat menjadi indikasi bahwa racun sedang menyebar lebih jauh dari area awal gigitan.
4. Sedikit Pendarahan dari Luka Gigitan
Taring ular akan meninggalkan dua luka tusukan kecil yang dapat mengeluarkan sedikit darah. Pada kasus ringan, pendarahan ini biasanya berhenti dengan sendirinya tanpa perlu penanganan khusus. Tubuh masih mampu membekukan darah secara normal, sehingga luka tidak terus mengeluarkan darah.
Walaupun tampak sederhana, pendarahan tetap harus diperhatikan. Bila pendarahan berlangsung lebih lama atau tiba-tiba meningkat, itu dapat menjadi tanda bahwa racun mulai memengaruhi kemampuan pembekuan darah. Namun pada gigitan ringan, ini jarang terjadi dalam waktu cepat.
5. Reaksi Tubuh Sistemik yang Ringan
Beberapa orang mungkin merasakan gejala ringan seperti mual, pusing, atau sensasi tidak nyaman. Pada tingkat ini, tubuh sebenarnya sedang menanggapi racun, tetapi reaksi masih terkendali. Gejala biasanya tidak menetap dan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Setelah digigit ular, sistem tubuh dapat berubah dalam hitungan jam. Oleh karena itu, pemantauan sangat penting untuk memastikan bahwa gejala tidak berkembang menjadi kesulitan bernapas, kelemahan otot, atau kebingungan (disorientasi).
Bagaimana Cara Menangani Gigitan Ular Berbisa?
Setelah memahami bahwa tingkat keparahan gejala bisa berbeda antara satu gigitan dan yang lain, langkah selanjutnya adalah mengetahui bagaimana penanganan yang benar. Gigitan ular berbisa tetap dianggap sebagai keadaan darurat medis, meskipun efek awalnya tampak ringan.
Masih dikutip dari Healthline dan Medical News Today, penanganan yang tepat dapat mencegah racun menyebar lebih jauh dan memperbaiki peluang pemulihan. Berikut ini langkah-langkah penanganannya.
1. Segera Hubungi Layanan Medis Darurat
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghubungi atau mengunjungi layanan gawat darurat setempat. Jangan menunggu sampai muncul gejala berat. Reaksi tubuh terhadap racun dapat berkembang dalam hitungan menit hingga jam, sehingga semakin cepat seseorang menerima pertolongan profesional, semakin baik hasilnya.
Selain itu, upayakan untuk mencatat waktu gigitan. Informasi ini membantu tenaga medis menilai perkembangan gejala serta menentukan kebutuhan pemberian antivenom.
2. Tetap Tenang dan Kurangi Gerakan
Racun ular dapat menyebar lebih cepat melalui aliran darah ketika tubuh banyak bergerak. Oleh karena itu, usahakan tetap tenang, duduk atau berbaring, dan hindari berjalan.
Jika memungkinkan, korban harus diangkat atau diantar menggunakan kendaraan daripada berjalan sendiri. Ketegangan dan panik juga dapat mempercepat denyut jantung, sehingga racun menyebar lebih cepat.
3. Longgarkan Pakaian dan Lepaskan Aksesori
Area gigitan sangat mungkin mengalami pembengkakan. Lepaskan jam, gelang, cincin, atau pakaian yang ketat pada bagian tubuh yang tergigit. Ini dilakukan untuk mencegah aliran darah terhambat ketika pembengkakan mulai muncul.
4. Jangan Menangani atau Memburu Ular
Tidak perlu menangkap atau membunuh ular yang menggigit. Hal itu meningkatkan risiko gigitan tambahan. Jika memungkinkan dan aman, ambil foto dari jarak yang aman, tetapi jangan sampai ini menunda penanganan. Petugas medis dapat mengenali jenis racun berdasarkan gejala, sehingga mengenali ular bukan satu-satunya cara menentukan antivenom.
5. Ketahui Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan
Beberapa teknik penanganan lama sekarang terbukti berbahaya dan tidak boleh dilakukan:
- Jangan menggunakan torniket karena dapat merusak jaringan.
- Jangan memotong area gigitan.
- Jangan mengisap racun, baik dengan mulut maupun alat pompa.
- Jangan menempelkan es atau merendam luka dalam air.
- Jangan mengoleskan obat atau memberikan obat penghilang nyeri tanpa arahan dokter.
- Jangan mengangkat area gigitan di atas jantung karena dapat mempercepat penyebaran racun.
6. Pemberian Antivenom oleh Tenaga Medis
Penanganan utama untuk gigitan ular berbisa di fasilitas medis adalah pemberian antivenom. Antivenom merupakan antibodi yang menetralisir racun dalam tubuh. Obat ini diberikan melalui suntikan atau infus, dan efektivitasnya paling tinggi bila diberikan sesegera mungkin setelah gigitan.
Dalam kasus gigitan yang ringan, dokter mungkin hanya akan membersihkan luka, menutupnya dengan perban, dan memberikan vaksin tetanus. Namun bila gejala sudah berkembang, pasien dapat memerlukan cairan infus, transfusi darah, atau pemantauan intensif.
7. Perawatan Setelah Penanganan Awal
Setelah menerima penanganan darurat, pemulihan bisa berlangsung dari beberapa minggu hingga beberapa bulan. Waktu pemulihan sangat bergantung pada jenis racun dan kondisi fisik korban.
Beberapa orang mungkin mengalami serum sickness, yaitu reaksi tubuh terhadap antivenom, yang ditandai demam, ruam, gatal, pembengkakan kelenjar, atau nyeri sendi dalam 4-10 hari setelah perawatan. Bila gejala ini muncul, segera hubungi tenaga medis.
Mengenali gejala awal dan mengetahui cara penanganan efek gigitan ular berbisa rendah membuat kita lebih sigap jika situasi ini terjadi. Semakin cepat dan tenang merespons, semakin baik peluang pemulihan. Semoga penjelasan di atas bermanfaat, detikers!
(sto/ahr)











































