Bangunan rumah dengan arsitektur Belanda di Purworejo, Jawa Tengah ini menyimpan kenangan masa kecil Jenderal Ahmad Yani. Rumah salah satu pahlawan revolusi ini pun masih berdiri kokoh dan terawat.
Ahmad Yani lahir di Purworejo pada 19 Juni 1922. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Sardjo Wongsorejo dan Murtini Wongsorejo.
Rumah masa kecil Ahmad Yani itu terletak di Desa Rendeng RT 01/ RW 02, Kecamatan Gebang, Purworejo, merupakan tempat Ahmad Yani dibesarkan. Bangunan rumah itu bercat putih dengan jendela besar bercat abu-abu khas bangunan Belanda dan dihiasi tegel.
Memasuki bangunan rumah, terlihat beberapa foto-foto Ahmad Yani dan furnitur lawas yang masih terawat. Seperti tempat tidur sang jenderal yang terbuat dari rangka besi itu pun masih dipertahankan.
Di atas tempat tidur itu ada kasur dengan seprai kain warna merah. Ruang tamu, ruang makan hingga ruang keluarga juga terlihat rapi dan bersih. Beberapa foto Ahmad Yani pun terpasang menghiasi dinding setiap ruangan.
Rumah dengan luas 1.000 meter persegi ini kini ditempati oleh kerabatnya yakni Aprilia Yudiyanti (52) dan suaminya Bambang Purnawanto (53). Aprilia merupakan kemenakan Ahmad Yani.
"Dari tahun 2000 sampai sekarang kami yang menempati. Ini rumah dibangun sekitar tahun 1930-an," kata Aprilia saat ditemui detikJateng di rumah bersejarah itu, Rabu (28/9/2022).
Aprilia menyebut rumah itu sempat beberapa kali direnovasi, namun tetap mempertahankan keaslian bangunan dengan desain Belanda. Dia menyebut Ahmad Yani pernah merenovasi rumah itu pada tahun 1962-1963.
Meski menjadi rumah sejarah, namun pihak keluarga tak mengizinkan pemerintah memintanya menjadi bangunan cagar budaya. Suami Aprilia, Bambang Purnawanto menambahkan, meski tidak mengizinkan untuk dimiliki pemerintah bukan berarti warga tidak bisa berwisata di rumah sejarah tersebut.
Dia menyebut siapa pun yang hadir akan diterima dengan baik. Pihaknya pun mempersilakan belajar sejarah di rumah itu.
"Amanah ibunya Pak Ahmad Yani dulu agar rumah ini jangan sampai dibuat museum atau cagar budaya karena rumah pribadi. Tapi kalau ada yang mau ke sini silakan, kita open," kata Bambang.
"Banyak yang sekedar foto-foto di sini, semua kita terima dengan baik. Dari anak-anak sekolah juga banyak yang datang datang untuk belajar kan ada juga program dari sekolah," sambung dia.
Selengkapnya di halaman berikut...
(ams/aku)