Ganjar Ingin Tiru Belanda untuk Atasi Banjir Rob di Pekalongan Raya

Ganjar Ingin Tiru Belanda untuk Atasi Banjir Rob di Pekalongan Raya

Dea Duta Aulia - detikJateng
Rabu, 21 Sep 2022 17:13 WIB
Ganjar saat menjadi pembicara dalam Dialog Kebijakan: Masa Depan Pekalongan Konsekuensi dari Setiap Kebijakan dan Aksi yang dilaksanakan di Arrus Hotel, Semarang pada Rabu (21/9).
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan pengurangan risiko banjir rob Pekalongan melalui program Flood Resilience Alliance atau kelompok ketahanan banjir untuk wilayah kabupaten dan Kota Pekalongan Raya yang sering terdampak banjir rob.

Hal itu disampaikan Ganjar saat menjadi pembicara dalam Dialog Kebijakan: Masa Depan Pekalongan Konsekuensi dari Setiap Kebijakan dan Aksi yang dilaksanakan di Arrus Hotel, Semarang pada Rabu (21/9).

"Ada program Flood Resilience Alliance, ini bagus karena ada kepedulian dan tidak terlalu gede karena bicara Pekalongan dan sekitarnya. Maka kabupaten dan kota di Pekalongan akan diselesaikan masalah rob-nya," kata Ganjar dalam keterangan tertulis, Rabu (21/9/2022).


Untuk mengatasi masalah tersebut ada sejumlah skema yang telah dipersiapkan oleh pihaknya yakni antisipasi serta penanggulangan banjir rob, pendekatan kepada masyarakat terkait rumah panggung, dan transportasi air hingga alternatif pengosongan pemukiman langganan banjir.

"Diskusinya saya pantik dengan 3 pertanyaan, pertama penanganan rob itu kita sanggup nggak mengatasi secara fisik, sebenarnya sanggup tapi mahal sekali layaknya beberapa kota di Belanda yang melakukan itu dan dipelihara seumur hidup," ujarnya.

Sebagai langkah antisipatif, Ganjar menyampaikan penataan kawasan permukiman tahan banjir seperti yang ada di Belanda. Hal itu terkendala ada pada besarnya anggaran yang harus dikeluarkan.

Ia menambahkan warga di kawasan tersebut harus diberikan pengetahuan terkait permukiman permanen dan semi permanen. Jika warga tetap bertahan di daerah tersebut, maka sebaiknya membangun rumah panggung. Pemprov Jateng siap membantu hal tersebut jika warga pemukiman rawan banjir bersedia.

"Kemudian apakah kita bisa mendekati masyarakat untuk mereka beradaptasi? Contoh karena areanya sudah tenggelam, maka mereka yang tetap pengen tinggal di situ ya rumahnya panggung. Transportasinya air," jelasnya.

Pihaknya pun memberikan alternatif desalinasi yang bisa direalisasikan pemerintah kabupaten dan kota Pekalongan Raya. Bahkan, alternatif lain seperti pengosongan dan pemindahan pemukiman juga patut dipertimbangkan. Sampai saat ini, hal tersebut masih dilakukan berupa pendekatan dan komunikasi agar warga mau menjalankan program tersebut.

"Kalo perlu teknologi yang bisa dicarikan alternatif. Umpama desalinasi. Yang paling ekstrem dipindah, maka area itu kita kosongkan. Pemindahan ini kita lagi coba komunikasi seperti yang di Demak. Dekati masyarakat, kalo mau kita bangunkan rumah," tutup Ganjar.

(akd/ega)