Petani Pangandaran Gaungkan Konsep dari Sawah ke Meja Wisata

Petani Pangandaran Gaungkan Konsep dari Sawah ke Meja Wisata

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Jumat, 16 Okt 2026 23:30 WIB
Persawahan di Pangandaran
Persawahan di Pangandaran (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Pangandaran -

Aliansi Organis Indonesia (AOI) bersama Jaringan Masyarakat Tani (Jamtani) mendesak penguatan peran petani kecil dan generasi muda dalam menyusun peta jalan pertanian berkelanjutan. Langkah ini dinilai krusial untuk menjamin transformasi sistem pangan yang lebih kokoh di masa depan.

Presiden AOI, Anton Waspo, menegaskan bahwa perubahan sistem pangan memerlukan keberpihakan kebijakan, peningkatan kapasitas petani, serta akses pasar yang lebih luas.

"Pertemuan lintas sektor ini adalah ruang strategis untuk membangun kesepahaman dan merumuskan langkah nyata bagi pengembangan pertanian organik di Indonesia," kata Anton, Jumat (16/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, Anton menyoroti sejumlah hambatan struktural yang masih mengganjal petani gurem, terutama tingginya biaya sertifikasi organik dan kerumitan birokrasi yang menghambat produktivitas mereka.

ADVERTISEMENT

Sebagai solusi penguatan rantai pasok lokal, Pemerintah Kabupaten Pangandaran mulai mengintegrasikan sektor pertanian dengan pariwisata. Kepala Dinas Tanaman Pangan Pangandaran, Yadi Gunawan, menilai gagasan petani untuk mengoptimalkan lahan sawah sebagai destinasi wisata potensial merupakan langkah yang sangat positif.

"Arah kebijakan 'Dari Sawah ke Meja Wisata', kami berkomitmen menghubungkan rantai pasok pertanian organik langsung dengan ekosistem pariwisata. Hasil tani bersertifikat diproyeksikan menyuplai hotel, restoran, dan industri kuliner daerah," kata Yadi.

Yadi menekankan agar petani lokal tidak sekadar menjadi penonton atau penyalur produk dari luar daerah ke sektor wisata. Menurutnya, petani harus memiliki kedaulatan penuh atas produk mereka.

Menurutnya, petani lokal jangan hanya jadi penonton atau penyalur pasokan luar ke sektor wisata. "Tapi jadi ownership yang memasok langsung," katanya.

Ia berharap hasil tani dari Pangandaran dapat menjadi bagian integral dari ekosistem pariwisata, bukan sekadar komoditas pasif.

Yadi berharap, rantai pasok hasil pertanian Pangandaran dapat menjadi ekosistem baru di dunia pariwisata, tidak hanya menjadi bahan baku pasif. "Tapi petani langsung terintegrasi dengan pelaku usaha resto dan hotel," ucapnya.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jamtani sekaligus anggota DPA AOI, Kustiwa Adinata, menyatakan kesiapannya untuk mengawal inisiatif ini. Ia menilai Pangandaran telah memulai langkah nyata dalam membangun sistem pangan yang berkeadilan, lestari, dan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.

"Saya juga ingin, petani tidak hanya jadi pelaku aktif pertanian, tapi berkelanjutan sustanble, memberikan dampak ekonomi," katanya.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads