Formasi batuan purba membentuk gunungan di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) gagah menghadap selatan. Namanya Gunung Hawu Pabeasan, yang termasuk ke dalam bagian Karst Citatah yang mengelilingi.
Tepat di bagian tengah hingga atasnya, tampak lubang raksasa alami yang menganga. Bentuk unik inilah yang melahirkan namanya Gunung atau Tebing Hawu. Dalam bahasa Sunda, hawu berarti tungku alias tempat memasak tradisional beralaskan kayu bakar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Celah melengkung berdinding tebing di sisi kiri dan kanannya memang menyajikan visual persis seperti hawu raksasa yang dibuat oleh alam. Entah sejak kapan alam membentuk batuan kapur itu menjadi destinasi wisata alam di era modern ini.
"Nama Tebing Hawu ini ya sesuai bentuknya, kalau bahasa Sundanya hawu tapi kalau bahasa Indonesianya tungku. Persis seperti itu, jadi bolong di bagian tengah itu hawunya," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Karst Hawu Hasan Husairi, Minggu (4/10/2026).
Gunung Hawu menjadi bagian dari Karst Citatah yang sampai saat ini masih aman dari sentuhan manusia. Sementara di sekelilingnya, bukit dan gunung sudah habis dikeruk demi kebutuhan industri batu kapur untuk berbagai kebutuhan.
Keindahan formasi batuan bentukan alam ini bahkan kerap disandingkan dengan landmark ternama dunia. Tak sedikit pelancong yang menyebut lanskap Tebing Hawu mirip dengan Natural Bridge di Amerika Serikat.
Dinding batu di Gunung Hawu menjulang setinggi 90 meter, kini menjadi magnet baru wisata petualangan di Bandung Barat, khususnya bagi para penguji adrenalin dari berbagai daerah di tanah air.
"Secara wisata yang bisa dinikmati di sini ada wisata minat khusus, seperti panjat tebing, rappeling, dan hammocking. Lumayan sudah dilirik, dari mana-mana sudah banyak berdatangan," ujar Hasan.
Potensi Gunung Hawu tak boleh berhenti di kalangan pemanjat tebing saja. Sedikit demi sedikit pengelola mulai mengembangkan sektor pariwisatanya. Area sekitar tebing kini bersolek menyajikan camping ground, hingga jalur pendakian menuju puncak Gunung Bakung.
"Ya mulai ditata sedikit demi sedikit, karena sering juga dipakai aktivitas masyarakat. Ada camping ground, kemudian buat acara upacara HUT RI, bahkan kemarin ada acara vespa di sini," kata Hasan.
Di balik pesonanya, Gunung Hawu menyimpan cerita perjuangan melawan gerusan kerakusan. Aktivitas penambangan batu kapur sempat menjadi ancaman nyata yang mengintai kelestariannya. Tepat di belakang Gunung Hawu, ada Tebing Pabeasan yang hingga kini masih berhadapan dengan aktivitas tambang.
"Cuma di belakangnya itu kan Tebing Pabeasan, di situ masih ada aktivitas tambang, kalau di Gunung Hawu saat ini memang sudah enggak ada pengikisan," ungkap Hasan.
Berbagai aksi kepedulian terus digalang warga dan komunitas lokal demi menyelamatkan ekosistem Karst Hawu dan Karst Citatah. Mulai dari pengembangan pariwisata hingga tradisi pengibaran bendera merah putih raksasa di dinding tebing saat peringatan HUT RI.
"Aksi ini menjadi salah satu kampanye menghentikan aktivitas tambang. Dari sini kelihatan mana kondisi tebing yang masih bagus dan mana yang rusak akibat penambangan," ucap Hasan.
(sud/sud)
