Wisata Curug Cikondang menjadi sorotan usai viralnya unggahan harga tiket masuk yang mencapai Rp 100 ribu per orang. Namun, pihak pengelola menegaskan bahwa harga tiket tersebut diperuntukkan bagi wisatawan mancanegara, terutama dari Timur Tengah.
Harga tiket itu menjadi viral usai beredar unggahan di media sosial. Dalam beberapa unggahan, wisatawan mengeluhkan harga tiket tersebut yang dinilai tidak sebanding dengan sarana dan prasarana yang tersedia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kemunduran pariwisata di Jawa Barat khususnya di Cianjur. Dengan harga dan fasilitas yang jauh berbanding terbalik. Tolong dong Kemenpar RI bina," tulis akun Bon dalam unggahannya di media sosial Threads.
Pokdarwis Curug Cikondang Sundara menjelaskan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak utuh, bahkan cenderung menyesatkan. Pasalnya, harga tiket masuk sebesar Rp 100 ribu per orang hanya diberlakukan untuk wisatawan asing.
"Bahkan itu biasanya diterapkan ke wisatawan asal Timur Tengah. Kalau dari Eropa dan benua lainnya, jarang kami terapkan," kata Sundara, Sabtu (1/8/2026).
Tiket masuk Cikondang Rp 100 ribu per orang viral. (Foto: Istimewa) |
Menurutnya, untuk wisatawan lokal, harga tiket masih normal yakni Rp 10 ribu untuk pengunjung usia di atas 12 tahun. Sedangkan untuk anak-anak usia 4-12 tahun dikenakan tiket sebesar Rp 5 ribu.
"Untuk anak di bawah 4 tahun tidak dikenakan tiket masuk," kata dia.
Dia menjelaskan nominal harga tiket tersebut sudah diatur dalam Peraturan Desa (Perdes), mengingat kawasan Wisata Curug Cikondang berada di lahan PTPN serta dikelola oleh Kompepar.
"Nominalnya sudah ditentukan dan ditetapkan dalam Perdes. Kami juga tidak berani menetapkan harga tanpa dasar aturan. Dan berdasarkan aturan, dibedakan antara wisatawan lokal dan mancanegara," kata dia.
Terkait fasilitas, lanjut dia, pihaknya masih melakukan penataan secara bertahap lantaran dana yang tersedia masih minim.
"Kami hanya mengandalkan pemasukan dari tiket. Jadi kalau ada lebih, kami sisihkan untuk menara kawasan Curug Cikondang. Dari pemerintah saat ini belum ada perhatian, baik berupa pembagunan atau penambahan sarana, ataupun bantuan lainnya," jelas Sundara.
Menurutnya, kondisi tersebut diperparah dengan minimnya kunjungan wisatawan usai masa libur sekolah berakhir.
"Kalau sekarang di hari kerja hanya ada 50-200 wisatawan. Jika akhir pekan paling banyak 400 orang. Tapi kalau libur panjang, haro biasa pengunjung mencapai 400 orang dan akhir pekan mencapai 1.000 orang per hari. Dari jual tiket ini nantinya disisihkan untuk penataan. Jadi cepat lambatnya penataan tergantung dari jumlah wisatawan yang datang," paparnya.
Dia mengaku sangat menyayangkan penyebaran informasi yang dinilai keliru tersebut. "Silakan konfirmasi dulu ke kami sebelum menyebarkan informasi. Apalagi informasinya keliru, jadi banyak masyarakat yang salah tanggap, padahal tiket tidak pernah naik," tandasnya.
(orb/orb)

