Libur sekolah biasanya menjadi musim panen bagi Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo). Ribuan pengunjung, terutama keluarga dan rombongan anak sekolah, memenuhi setiap sudut kawasan wisata legendaris di jantung Kota Bandung itu.
Tawa anak-anak bercampur suara satwa menjadi pemandangan yang tak pernah absen setiap musim liburan. Namun, pemandangan itu tak lagi terlihat.
Minggu (5/7/2026), saat sebagian besar tempat wisata dipadati pengunjung, Bandung Zoo justru tenggelam dalam kesunyian. Tak ada antrean di loket, tak ada anak-anak yang berlarian menuju kandang satwa, tak terdengar riuh keluarga yang menggelar botram (makan bersama) di bawah rindangnya pepohonan.
Yang terdengar hanya gesekan sapu para petugas kebersihan dan suara angin yang menerpa dedaunan.
Hampir setahun Bandung Zoo berhenti beroperasi akibat konflik internal. Meski kini pengelola baru telah ditunjuk dan persiapan pembukaan kembali mulai dilakukan, Bandung Zoo kehilangan denyut kehidupannya.
Kesunyian itu juga dirasakan Vian Sofian (25), petugas kebersihan Bandung Zoo. Sudah bertahun-tahun ia bekerja menjaga kebersihan kawasan tersebut. Baginya, suasana libur sekolah tanpa pengunjung menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan.
"Saya sendiri sih ngerasanya sedih ya. Biasanya kan sebelum kita tutup operasional, kita lagi ngelayanin pengunjung, kita bisa berinteraksi sama pengunjung juga, sama edukasi buat anak sekolah gitu. Sekarang kelihatannya sepi," ujar Vian.
Bagi Vian, pekerjaannya bukan sekadar menyapu jalan setapak atau membersihkan area taman. Ia juga menjadi salah satu orang yang paling sering berinteraksi dengan para pengunjung.
Meski pekerjaan saat itu jauh lebih melelahkan, Vian mengaku justru lebih menikmatinya.
"Ya kalau ramai kita kan ngelayanin pengunjung. Biasanya kan kalau ada pengunjung, kita bersih-bersihnya juga semangat lah gitu, kan mau nyambut pengunjung. Kalau sekarang kan pengunjungnya enggak ada, terasa ada yang kurang aja gitu," katanya.
"Enggak masalah sih, lebih enak capek tapi kan ada pengunjung, jadi capeknya enggak kerasa gitu. Kalau sekarang kan enggak ada pengunjung, beda aja sih," lanjutnya.
Saat Bandung Zoo masih ramai, hampir setiap akhir pekan ia disibukkan dengan berbagai pertanyaan. Ia masih mengingat bagaimana para orang tua sering bertanya lokasi kandang satwa, tempat terbaik untuk botram, hingga meminta bantuan ketika anak mereka terpisah dari keluarga maupun kehilangan barang.
"Sering ya pengunjung ketinggalan barang. Kalau kita temukan langsung kita sampaikan ke pusat informasi, biasanya tempat makanan, handphone, tas dan lain-lain. Terus banyak anak kecil yang nyasar atau misah sama keluarga. Di situ kita tenangin dulu, langsung dibawa juga ke informasi untuk diumumin," tuturnya.
Kini, rutinitas Vian sebenarnya tidak berubah. Ia tetap datang bekerja setiap hari, membersihkan area kebun binatang seperti biasa. Hanya saja, tak ada lagi interaksi yang dulu membuat suasana kerja terasa hidup.
"Aktivitas kita masih sama sih seperti biasa, enggak ada yang beda, pembersihan area juga masih sama, cuma ya bedanya itu aja sih, enggak ada pengunjung, enggak ada interaksi sama pengunjung aja," katanya.
Kesunyian Bandung Zoo bahkan ikut menjadi pembicaraan di lingkungan tempat tinggalnya di wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Banyak tetangga dan teman yang penasaran kapan kebun binatang itu akan kembali dibuka.
"Banyak sih tetangga, teman, kapan sih kebun binatang bisa buka lagi? Jawabnya ya kita nunggu dari pengelola yang baru sekarang, sesuai informasi yang ada di sini aja, sesuai yang saya tahu aja," ujar Vian.
Di tengah proses transisi menuju pengelolaan baru, Vian hanya memiliki satu harapan. Ia ingin kembali melihat Bandung Zoo dipenuhi suara tawa anak-anak dan keluarga yang datang berwisata.
"Harapan saya sebagai pekerja sekarang ya tetap operasional segera buka aja sih. Segera buka, kebun binatang kembali berjaya lagi kayak dulu, normal lagi semuanya," pungkasnya.
(bba/orb)