Jawa Barat semakin diperhitungkan dalam peta pariwisata dunia. Provinsi ini baru saja meraih penghargaan Most Promising Muslim-Friendly Region of The Year dalam ajang Halal In Travel Global Summit 2026 di Singapura.
Penghargaan tersebut tidak datang begitu saja. Jawa Barat dinilai berhasil menghadirkan fasilitas, layanan, dan dukungan kebijakan yang mendukung kebutuhan wisatawan Muslim, mulai dari ketersediaan tempat ibadah, fasilitas pendukung, hingga kesiapan industri pariwisata.
Menariknya, capaian tersebut datang di tengah menguatnya tren wisata religi di Jawa Barat. Saat libur Idul Adha lalu, Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung tercatat menjadi destinasi dengan jumlah kunjungan tertinggi di Jawa Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Iendra Sofyan, menilai fenomena tersebut menunjukkan bahwa konsep wisata ramah Muslim di Jawa Barat mulai berkembang dan mendapat respons positif dari masyarakat maupun wisatawan.
"Terlepas dari kemasan muslim friendly, destinasi pariwisata itu harus memenuhi persyaratan-persyaratan dalam konteks sarana prasarana atau fasilitasnya di antaranya adalah pertama toilet, yang kedua adalah tempat ibadah begitu," kata Iendra, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, dua fasilitas dasar tersebut menjadi fondasi penting yang harus tersedia di setiap destinasi wisata. Karena itu, pemerintah terus mendorong pelaku usaha pariwisata untuk melengkapinya.
"Artinya ini sudah memang kita siapkan, nah yang kedua atau kita dorong terus para pelaku usaha untuk menyiapkan dan memfasilitasi hal tersebut," ujarnya.
Tak Hanya Masjid, Destinasi Umum Juga Harus Ramah Muslim
Iendra menjelaskan konsep wisata ramah Muslim tidak hanya identik dengan wisata religi atau masjid. Destinasi wisata umum juga bisa masuk dalam kategori tersebut selama mampu memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim.
"Terkait dengan muslim friendly tourism itu memang ada yang memang melihat destinasi yang sifatnya umum, yang kedua juga yang memang fokus terkait dengan muslim friendly itu sendiri begitu ya, di antaranya adalah tempat ibadah begitu mungkin juga tempat-tempat lain yang bernuansa Islam begitu ya," katanya.
Menurut Iendra, keberhasilan Jawa Barat mengembangkan konsep tersebut sebelumnya juga tercermin dalam penilaian nasional melalui Indonesia Muslim Tourism Index (IMTI).
"Ini yang alhamdulillah untuk Jawa Barat dinilai oleh pemerintah pusat tahun kemarin ya adanya IMTI, Indonesia Muslim Tourism Index, kita dinilai paling baiklah kira-kira seperti itu atau ranking satu begitu ya," ungkapnya.
Ia menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa ekosistem wisata ramah Muslim di Jawa Barat sudah berkembang cukup baik, baik di destinasi wisata umum maupun destinasi yang memang berbasis religi.
"Ini mencerminkan bahwa muslim friendly tourism ini di Jawa Barat sudah cukup mumpuni baik yang sifatnya hanya berupa fasilitas di tempat destinasi wisata yang tematik umum atau memang beberapa yang fokus khusus mengenai ini di antaranya masalah masjid begitu ya," ujarnya.
Bidik Wisatawan Malaysia dan Timur Tengah
Iendra mengatakan pasar wisatawan Muslim mancanegara menjadi salah satu peluang besar yang kini dibidik Jawa Barat. Wisatawan dari Malaysia dan negara-negara Timur Tengah disebut mulai mencari alternatif destinasi selain kawasan Puncak di Bogor.
"Dan ini sekali lagi hubungannya dengan mancanegara, Malaysia terutama, yang kedua adalah Timur Tengah begitu ya yang informasi yang kami dapat mereka mencari tempat lain selain puncak, sehingga ini kita terus tingkatkan kita siapkan untuk menjadi muslim friendly tourism atau pariwisata bernuansa muslim," katanya.
Al Jabbar Diproyeksikan Jadi Destinasi Wisata Religi Unggulan
Meningkatnya kunjungan ke Masjid Raya Al Jabbar juga mendorong Pemprov Jabar mulai menyiapkan konsep pengelolaan yang lebih serius. Sebab, menurut Iendra, tingginya mobilitas pengunjung membuat Al Jabbar kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi wisata.
"Jadi itu sudah coba kita bahas dengan DKM-nya Al Jabbar ya begitu," katanya.
Menurut dia, dalam konsep pariwisata modern, sebuah lokasi bisa disebut destinasi wisata ketika mampu menarik pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan tertentu.
"Jadi pertama yang namanya pariwisata itu adalah pergerakan atau kunjungan orang dari satu titik ke titik lain dengan tujuan satu rekreasi, kedua pengembangan diri mungkin masuk dalam religi, ketiga adalah tujuan unik lainnya begitu ya. Oleh sebab itu tempat-tempat mana pun yang banyak dikunjungi oleh orang-orang itu disebut dengan pariwisata gitu ya," jelasnya.
Dengan jumlah kunjungan yang terus meningkat, Al Jabbar kini dipandang memiliki potensi besar sebagai ikon wisata religi Jawa Barat.
"Sekarang karena Masjid Al Jabbar sudah masif dan sudah paling besar kunjungannya, kita sudah mendorong DKM untuk betul-betul mempersiapkan diri begitu ya dalam rangka pelayanan kepada wisatawan atau pengunjung yang datang ke masjid tersebut ya," pungkas Iendra.
Simak Video "Menikmati Keindahan dan Spot Foto Menarik di Teras Cihampelas, Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(bba/mso)
