Helm, sepatu, dan body harness sudah terpasang sempurna di tubuh Viola. Ia menarik napas panjang dan membulatkan keberanian sebelum tubuhnya menggantung menuruni Curug Aseupan Luar, dari ketinggian 28 meter.
Langkah pertama, tubuh mungilnya bergantung di ketinggian. Kakinya menapak di dinding curug, air yang mengalir dari Curug Aseupan Jero meningkatkan intensitas ketegangan. Matanya memandang pada dua orang operator waterfall rappeling yang siaga di hulu curug.
Suara dua operator bersahutan memberi arahan teknis pada Viola. Meminta tubuh wanita 27 tahun asal Jakarta, itu rileks namun kakinya kokoh menopang tubuh. Sesekali ia menyeka mata karena cipratan air yang meluncur deras ke sungai berbatu di bawahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah-tengah, ia diminta berhenti sebentar. Operator di atas meminta Viola bergaya untuk difoto. Setelah beberapa gaya foto, Viola lalu kembali menuruni terjalnya dinding curug. Sepuluh menit kemudian, ia tiba di bawah dengan selamat.
Adrenalinnya terpacu selama menjajal water rappeling yang sedang digandrungi di banyak daerah. Waterfall rapelling di kawasan objek wisata Curug Tilu Leuwi Opat itu jadi satu-satunya di Bandung Barat.
"Seru banget, adrenalin kita benar-benar di-push. Soalnya kan ada takut tergelincir, ditambah kita kecipratan air terus. Kencang banget airnya kena wajah," kata Viola saat ditemui, Jumat (15/5/2026).
Ia sengaja datang dari Jakarta bersama suaminya untuk menjajal wisata ekstrem di tengah rapatnya vegetasi hutan di kawasan Bandung Utara. Perjalan panjangnya tak sia-sia, ia puas dengan atraksi tersebut.
"Worth it buat dicoba pastinya, seru banget. Kita bisa menguji keberanian, padahal ini saya baru pertama kali coba. Mungkin nanti mah dicoba di spot lainnya," ujar Viola.
Ramai karena FOMO
Adam Armandhany, akan sibuk mengawal wisatawan yang hendak menjajal canyoning pada akhir pekan. Tak cuma waterfall rappeling saja, ada juga atraksi tyrolean atau flying fox dari Curug Aseupan Jero ke arah sungai di bawah Curug Aseupan Luar.
Khusus untuk waterfall rappeling di Curug Aseupan Luar, sedang ramai-ramainya sejak dua tahun belakangan. Orang-orang yang menjajal olahraga ekstrem itu mayoritas merupakan para pemula yang Fear of Missing Out (FOMO) alias takut ketinggalan.
"Ramainya karena fomo rappeling bisa backflip, cuma di sini enggak bisa karena kontur tebingnya berbeda, enggal lurus vertikal jadi risiko terbenturnya tinggi," kata Adam.
wisatawan menjajal waterfall rappeling dari ketinggian 28 meter di Curug Tilu Leuwi Opat Bandung Barat Foto: Whisnu Pradana/detikJabar |
Sebelum menuruni dinding curug, wisatawan akan diberikan arahan terlebih dahulu. Mulai dari cara menapakkan kaki hingga memegang kendali tali di tangan sebagai bagian dari keselamatan wisatawan.
"Kita brief soal jalurnya, kemudian yang paling utama teknik sih seperti pijakan, terus tangan harus seperti gimana, terus ketika jatuh itu harus seperti gimana. Kebetulan ini kebanyakan orang-orang awam, jadi meskipun sudah di-brief kita tetap awasi dari atas, lalu di bawah ada yang standby rescue," kata Adam.
Dalam sehari, ia pernah menjadi operator untuk 70 orang yang menjajal canyoning. Untuk menjajal canyoning di Curug Tilu Leuwi Opat, wisatawan hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp250 ribu per orang.
"Sekarang rata-rata di akhir pekan 30 sampai 40 orang, dulu pernah 70 orang. Harga paketnya itu Rp250 ribu per orang. Tiket masuk objek wisatanya Rp20 ribu per orang," kata Adam.
Simak Video "Selesaikan Rintangan Seru dalam Offroad Menuju Garis Finish, Bogor"
[Gambas:Video 20detik]
(dir/dir)

