Pagi itu, Bandung masih sama, menyisakan riuhnya kota. Lalu lalang yang tak pernah benar-benar berhenti, deru kendaraan yang terus bersahutan, dan udara yang terasa berat di dada. Namun semua itu seolah tertinggal begitu langkah melewati gerbang Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Perubahannya nyaris seketika.
Udara yang semula padat berubah menjadi ringan, menyentuh kulit dengan dingin yang halus. Tarikan napas terasa lebih panjang, seolah paru-paru mendapat ruang yang selama ini sempit di tengah kota. Aroma tanah dan dedaunan basah perlahan menggantikan sisa polusi yang tadi masih terasa di hidung.
Mata pun disambut hamparan hijau yang berlapis pepohonan tinggi, daun-daun yang saling bertaut, membentuk kanopi yang menyaring cahaya sebelum jatuh langsung ke tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suara alam bekerja pelan mengiringi langkah. Angin berhembus membawa bunyi daun yang saling bergesekan. Tonggeret dan jangkrik saling berbicara, menciptakan cerita yang indah. Tidak ada yang mendominasi. Semuanya hadir dalam porsi yang cukup untuk membuat ruang terasa hidup, sekaligus tenang.
Tahura Djuanda Foto: Gheyna Sabila Z |
Dari gerbang masuk, jalur setapak membelah hutan dengan rapi. Permukaannya tertata, cukup nyaman dilalui tanpa harus bersusah payah. Langkah mengikuti alur jalan yang mengarah ke dalam, melewati jembatan kecil dengan aliran sungai di bawahnya. Air mengalir pelan, memantulkan bayangan pepohonan yang bergerak mengikuti angin.
Tak jauh dari sana, tangga menurun membawa perjalanan semakin dalam, hingga sampai di mulut Gua Jepang. Suasana berubah drastis disana. Cahaya meredup, udara menjadi lebih lembap dan dingin. Dinding batu yang kasar menyimpan jejak masa lalu, menghadirkan sunyi yang berbeda dari bagian luar. Lorongnya sederhana, namun cukup untuk memberi jeda dari dunia yang terang.
Perjalanan berlanjut di jalur yang sama-tertata, namun tetap menyatu dengan alam. Di beberapa titik, warung-warung sederhana berdiri di tepi jalur, menawarkan tempat singgah bagi yang ingin beristirahat. Basreng hangat dan potongan buah dengan bumbu rujak menjadi bagian kecil dari pengalaman berjalan di tengah udara dingin. Sederhana, tapi terasa pas.
Langkah kemudian mengarah ke kawasan Gua Belanda. Di sekitar area ini, suasana sedikit berubah. Beberapa monyet tampak berkeliaran, bergerak lincah di antara pepohonan dan sesekali mendekati pengunjung yang membawa makanan. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri, sekaligus pengingat bahwa kawasan ini tetap menjadi ruang hidup bagi satwa liar.
Bagian dalam Gua Belanda menghadirkan nuansa yang berbeda dari Gua Jepang. Ruangnya lebih luas, dengan jalur lori yang masih tersisa di bawah pijakan. Udara di dalam terasa lebih dingin, sementara lorongnya memanjang, menghubungkan satu sisi ke sisi lain.
Tahura Djuanda Foto: Gheyna Sabila Z |
Dari sana, jalur kembali menanjak menuju Penangkaran Rusa Tahura Djuanda. Area yang lebih terbuka, rusa-rusa berkeliaran dalam jumlah banyak, mendekat untuk diberi makan. Interaksi itu berlangsung sederhana, tanpa jarak yang kaku.
Di sekitarnya, tersedia tempat duduk dan warung kecil, memberi ruang untuk berhenti lebih lama. Semangkuk mi kuah hangat menjadi pilihan untuk dinikmati perlahan di tengah udara yang sejuk sambil mengisi daya untuk perjalanan pulang.
Sepanjang jalur, ada satu hal terasa konsisten-keasrian yang tetap terjaga. Pepohonan yang rapat, suara angin, serta bunyi hewan yang bersahutan menjadi latar yang tak berubah. Di tengah kota yang terus bergerak cepat, tempat ini seperti mempertahankan waktunya sendiri, yang lebih pelan, yang lebih tenang.
Bagi sebagian generasi muda, ruang seperti ini menjadi tempat untuk menurunkan beban.
"Menurut aku, Tahura ini cocok banget buat Gen Z yang lagi butuh jeda atau mungkin lagi ngerasa cape gitu. Bisa sekalian olahraga kan tracking, tapi juga enaknya bisa ngelamun, lihat yang hijau-hijau. Rasanya lebih tenang," ujar Bina (21).
Nada yang hampir serupa juga disampaikan pengunjung lain.
"Buat aku yang bisa dibilang sering ke sini sih emang agak bosan, tapi tempatnya memang nyaman buat lepas penat, apalagi buat yang suka alam dan sejarah," kata Acil (23).
(yum/yum)


