Banyak orang memilih hotel sebagai tempat untuk beristirahat atau menginap sementara saat bepergian. Karena itu, kamar hotel umumnya dirancang senyaman mungkin, menyerupai kamar tidur dengan sentuhan interior yang minimalis hingga mewah.
Namun, ada konsep hotel yang justru dibuat sebaliknya. Alih-alih memberikan kenyamanan, hotel ini menghadirkan suasana yang menyerupai sel tahanan. Fasilitas umum seperti kasur empuk, sofa, televisi, pendingin ruangan, hingga lemari pakaian tidak tersedia di tempat ini.
Mengutip Daily Mail, hotel unik tersebut bernama The Prison Inside Me dan berlokasi di Korea Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsep "penjara" yang diusung bukan sekadar strategi menarik perhatian. Pemiliknya, Kwon Yong-Seok bersama sang istri, memiliki tujuan khusus di balik ide tersebut.
Mereka ingin para tamu tidak hanya datang untuk bersantai, melainkan juga untuk melakukan refleksi diri. Selama berada di dalam kamar, pengunjung diharapkan bisa lebih mengenali dirinya, merenungkan pengalaman hidup, serta mengevaluasi apa yang telah dilalui dalam beberapa waktu terakhir.
Aturan yang diterapkan pun cukup ketat. Tamu tidak diperkenankan membawa ponsel ke dalam kamar, tidak ada jam, cermin, maupun perlengkapan rias. Interior kamar sangat sederhana, hanya berisi tikar, meja kecil, dan fasilitas toilet.
Setiap kamar hanya ditempati satu orang. Selama menginap, tamu diarahkan untuk menjalani aktivitas seperti meditasi, menulis jurnal, berdiam diri, hingga melakukan gerakan yoga ringan. Dalam keheningan itu, mereka dibiarkan menatap dinding atau jendela, seolah menjalani pengalaman seperti berada dalam ruang tahanan-namun dengan tujuan menemukan ketenangan batin.
Saat masuk waktu makan malam, makanan akan diantar ke kamar layaknya makanan sel, yakni melalui lubang di pintu. Jangan mengira makanannya bak makanan hotel. Makanannya pun mengikuti makanan di sel penjara.
Hotel ini nyaris sunyi setiap harinya meskipun kamar terisi semua karena percakapan dibatasi. Kebanyakan tamu pun mengikuti peraturan yang ada karena memang ingin menjauh dari gadget atau perangkat elektronik lainnya.
Ada tamu yang mengungkapkan The Prison Inside Me menawarkan kesempatan untuk meninggalkan perasaan tertekan yang muncul dari pekerjaan.
Pendiri hotel The Prison Inside Me merupakan mantan pengacara yang kemudian membangun usaha properti pada 2013. Ia menghabiskan sekitar 2 miliar won Korea atau sekitar Rp 23 miliar (kurs Rp 11,64) untuk mendirikan hotel berkonsep pengasingan singkat.
"Saat itu saya tidak tahu bagaimana caranya berhenti bekerja. Aku merasa seperti terseret arus tanpa kehendakku dan sepertinya aku tidak bisa mengendalikan hidupku sendiri," ujarnya seperti dikutip detikcom pada Kamis (16/4/2026).
"Saya hanya berharap tempat ini menawarkan kesempatan bagi pengunjung untuk merenungkan diri mereka sendiri. Terkadang saya berjalan mundur agar bisa melihat jalan yang telah saya lalui. Orang jarang melakukan itu (meditasi dan berdiam diri) dan hanya memikirkan jalan di depan. Saya rasa kita perlu mencoba untuk melihat ke belakang," tambahnya.
Artikel ini telah tayang di detikproperti
(yum/yum)
