Hiruk-pikuk Pasar Tumpah Ruah di Braga Bandung

Hiruk-pikuk Pasar Tumpah Ruah di Braga Bandung

Adi Mukti - detikJabar
Minggu, 01 Mar 2026 21:30 WIB
Suasana di Pasar Tumpah Ruah.
Suasana di Pasar Tumpah Ruah. (Foto: Adi Mukti/detikJabar)
Bandung -

Di pusat kota Bandung, pop-up market tumbuh seperti jeda yang dinanti di tengah ritme urban yang padat. Ia hadir sementara, tetapi gaungnya kerap bertahan lama di linimasa dan obrolan warganet.

Dari halaman kafe, pelataran gedung kreatif, hingga ruang terbuka publik, pasar temporer ini menjadi panggung bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), brand lokal, dan kreator independen untuk memperkenalkan karya mereka secara langsung kepada konsumen. Salah satu pasar temporer yang kaya akan budaya populer anak muda, Pasar Tumpah Ruah di kawasan Braga, Kota Bandung, hadir untuk meningkatkan gairah kreatif dalam berusaha.

Pasar Tumpah Ruah bukan sekadar tempat jual beli biasa. Hadir sebagai pop-up market yang menyatukan semangat komunitas, kreativitas, dan pengalaman belanja unik, pasar ini merangkul pelaku usaha lokal serta penikmat budaya urban dalam satu ruang yang hidup dan dinamis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari deretan tenant yang beragam hingga suasana interaksi yang hangat, Pasar Tumpah Ruah menjadi cerminan gelombang baru perekonomian kreatif yang tak hanya menawarkan produk, tetapi juga cerita di balik setiap lapaknya.

ADVERTISEMENT

Pop-up market yang diisi oleh pelaku usaha lokal ini sering kali berpindah-pindah, dari satu kafe ke kafe lainnya. Namun, kali ini Pasar Tumpah Ruah hadir di Jalan Braga. Pasar temporer ini digelar selama tiga hari, terhitung dari 27 Februari hingga 1 Maret 2025. Pasar Tumpah Ruah pada umumnya hadir setiap bulan dan menyajikan banyak kegiatan seru seperti live music, tenant, dan bincang-bincang.

Pasar Tumpah Ruah yang berlokasi di Cupola, Jalan Braga, diikuti oleh berbagai tenant bertemakan budaya urban seperti busana dan aksesori yang digemari anak muda. Tidak hanya itu, gantungan kunci dan koleksi mainan turut meramaikan pop-up market tersebut.

Pasar Tumpah Ruah bertujuan membantu pelaku usaha lokal yang baru merintis dalam menemukan pembeli dan komunitas mereka. Tujuan tersebut diamini oleh pengelola Pasar Tumpah Ruah, Ikhsan, yang mengatakan pop-up market tersebut dirancang untuk mengaktifkan fungsi bazar agar tidak hanya menjadi pajangan.

"Di Bandung aku melihat banyak bazar atau pop up market yang pop-up aja. Jadi jatuhnya pajangan lah, pajangan coffee shop. Sedangkan kan, mereka bisnis orang, mereka harapannya besar. Tujuan utama marketnya kita menggetarkan yang kecil-kecil. Itu sih sebenarnya," ungkap Ikhsan.

Suasana di Pasar Tumpah Ruah.Suasana di Pasar Tumpah Ruah. (Foto: Adi Mukti/detikJabar)

Pasar Tumpah Ruah hadir untuk menjalin interaksi dan menciptakan simbiosis mutualisme antara pelaku usaha, komunitas, dan pembeli. Walaupun pasar temporer ini masih terbilang kecil, dampaknya cukup signifikan bagi UMKM, terutama anak muda yang mulai berjualan untuk menemukan pasar dan komunitas mereka masing-masing. Ikhsan berharap terjadi persinggungan pasar antara coffee shop, komunitas, dan musik.

"Jadi kayak bisa cross market lah. Antara marketnya coffee shop, market-nya komunitas, market-nya musik. Walaupun skalanya terbilang kecil lah. Biasanya kita ada musik, ada games, ada komunitas. Biasanya yang komunitas sih lebih seringnya dari komunitas lari," kata Ikhsan kepada detikJabar.

Tenant yang berpartisipasi dalam Pasar Tumpah Ruah cenderung berubah setiap bulannya, mengikuti ketersediaan ruang di lokasi pasar temporer. Pada acara yang digelar Minggu ini (1/3/2025), jumlah tenant sebanyak 7 pelaku usaha lokal. Namun, Pasar Tumpah Ruah direncanakan akan merangkul lebih banyak peserta pada bulan depan.

Pasar Tumpah Ruah juga diisi oleh kegiatan menarik seperti live music performance dan mini games. Kegiatan ini lebih ditujukan kepada para pemilik tenant. Ikhsan menilai kegiatan tersebut bertujuan untuk mengusir rasa bosan para pemilik tenant sekaligus menciptakan suasana antusias di dalam pasar.

"Cuma di luar kita ada komunitas, kita ada music performance. Kita juga ada mini games biasanya. Tapi mini game-nya khusus tenant, bukan crowd. karena kan mereka nungguin nih, misalkan dibuka jam 9 (pagi) sampai jam 9 (malam), 12 jam. kalau ada yang beli, kalau enggak? Nah dibanding mereka bete, kita ada game satu untuk tenant. Jadi seenggak-enggak pahitnya lah, misalkan dia emang lagi bukan harinya, seenggaknya mereka bisa happy main games.

Pasar Tumpah Ruah tidak akan berhenti sampai di sini. Pop-up market ini direncanakan melebarkan sayap ke daerah-daerah lain di Indonesia. Pasar temporer ini akan hadir kembali dengan tema dan kegiatan baru. Selain itu, penambahan jumlah tenant juga menjadi salah satu pertimbangan Ikhsan.

"2 sampai 3 kali lah sebulan. (Tenant-nya) ganti-ganti, itu pun ada yang stay sih. Kalau missal kebetulan waktunya si brand tersebut masih kosong juga, biasanya ikut lagi. Mungkin kita kayak kepo banget sama Tuban, karena teman aku ada coffee shop di sana dan katanya responnya menarik, karena mungkin secara pergaulan belum terlalu menyentuh kesana gitu, kalau di kasih refreshment pergaulan di sana kayaknya heboh. Terus Sukabumi kayaknya oke juga." ujar Ikhsan.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads