Bagi warga Palabuhanratu maupun wisatawan yang melintas di Jalan Raya Palabuhanratu-Citepus, kawasan sekitar Istana Presiden (Pesanggrahan Tenjo Resmi) tampak seperti jalur teduh dengan pemandangan laut yang memikat.
Di salah satu sisi, berdiri Kantor Sat Polairud Polres Sukabumi yang bagian belakangnya menghadap langsung ke Teluk Palabuhanratu.
Namun, di balik aspal mulus dan tebing yang kini membatasi jalan, tersimpan cerita lawas tentang ekosistem liar kawasan tersebut.
Dede, nelayan lokal yang akrab dengan sejarah kawasan tersebut, mengenang masa ketika ia sering menyandarkan perahunya di kaki tebing.
Di masa lalu, tebing yang curam itu adalah 'supermarket' alam bagi nelayan untuk mencari batang pohon harikukun.
Kayu harikukun dikenal kuat dan lentur, ideal dijadikan batang sirib atau jango, alat tangkap tradisional untuk menjaring ikan impun. Namun, mengambil kayu di sana bukanlah perkara mudah.
"Dulu di tebing itu banyak sekali pohon Harikukun. Tapi saat turun ke tebing, risikonya besar. Jumlah kelabang di sana luar biasa banyak," kenang Dede.
Kelabang itu seolah menjadi penjaga alami tebing. Tak jauh dari lokasi itu, terdapat sebuah gua yang kini dikeramatkan oleh sebagian warga. Menurut Dede, gua tersebut dulunya juga menjadi sarang utama kelabang.
"Kalau masuk ke area gua itu, kelabangnya lebih banyak lagi," tambahnya.
Selain teror kelabang, tebing di sekitar kawasan Istana Presiden dan kantor Polairud ini juga menjadi rumah bagi predator reptil. Dede menuturkan ia pernah melihat biawak berukuran raksasa yang sering turun dari bukit menuju laut untuk berenang.
"Ukurannya besar sekali, panjangnya bisa 1,5 meter hingga 2 meter. Saking besarnya, orang yang melihat sekilas pasti mengira itu buaya, padahal biawak," ungkap Dede.
(sya/orb)