Intip Proses Pucuk Daun Menjadi Minuman dengan Wisata Kebun Teh

Anindyadevi Aurellia - detikJabar
Senin, 11 Jul 2022 08:30 WIB
Kebun Teh Ciwidey
Kebun teh (Foto: Muhammad Iqbal/detikTravel)
Bandung -

Pernahkah kamu membayangkan, bagaimana proses daun di perkebunan dataran tinggi bisa menjadi segelas teh nikmat yang kita seduh? Pasti memerlukan proses yang cukup panjang, hingga setiap pucuk daun teh dipetik satu persatu sampai bisa menghasilkan teh yang berkualitas.

Mengintip bagaimana kondisi area perkebunan sebelum diolah menjadi teh berkualitas, Adityo Budi Prabowo selaku Asisten Kepala Marketing dan Suara Pelanggan Teh Walini menceritakan proses bagaimana kondisi dan proses di perkebunan teh yang tentunya memerlukan proses yang tidak sederhana.

"Pengalaman saya sembilan tahun bekerja untuk perkebunan, selalu berpatokan pada prinsip quality made from field. Sehingga banyak proses di lapangan sebelum akhirnya teh bisa dipasarkan. Kami selalu memegang teguh Standar Operational Procedure (SOP), setiap daun akan diseleksi kembali karena kami konsentrasi pada pucuk yang terbaik," jelas Adit.


Ia menjelaskan, dalam SOP tersebut setiap bagian dalam kebun teh ada gilir petiknya. Di lapangan, daun baru bisa dipetik jika memang sudah masuk usia petiknya. Ketepatan waktu dan perlakuan khusus pada tanaman teh akan berpengaruh pada kualitas bahan baku yang akan disetor ke pabrik.

"Gilir petik masing-masing berbeda tergantung perlakuannya. Contohnya di dataran sedang ada di Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat usia petiknya 25-30 hari, berbeda dengan dataran tinggi daerah Pangalengan dan Ciwidey. Cuaca juga bisa mempengaruhi lamanya usia petik. Paling bagus untuk area perkebunan itu kan kemarau basah ya, tapi pernah juga terjadi kemarau panjang sehingga muncul pucuk daun setelah hari ke 40," terangnya dengan jelas.

Proses tersebut hanya baru bagian awalnya saja, masih perlu banyak pengawasan ketat agar setiap daun teh memang betul-betul dipilih yang terbaik.

"Masih ada juga petugas analisa dan seduh, atau istilah kerennya Tea Cupper atau Tea Tester. Itu nanti akan tes ulang bagaimana finish rasa dari teh yang akan dipasarkan, memastikan bahwa memang yang dipasarkan sudah lolos uji kualitas," kata Adit.

Bahkan ada pula jenis teh yang memang membutuhkan perlakuan khusus. Nantinya ini akan mempengaruhi pada rasa dan aroma teh yang lebih kuat, sehingga berpengaruh juga pada harga jualnya. Berpengaruh untuk kedai teh seperti Walini By Me, yang menyediakan White Tea dengan harga yang lebih mahal dibandingkan jenis lain.

Ratusan varian teh siap disajikan di Walini By Me untuk mereka yang ingin dimanjakan dengan sensasi ngeteh yang lebih fancy namun harga tetap terjangkau. Kisaran harga untuk teh nya berada di harga Rp 17.000-45.000. Sementara untuk racikan teh yang masih mentah pun bisa dibeli dengan harga bervariasi antara Rp 25.000-35.000 per gram.

"Paling mahal itu white tea, karena perawatannya khusus. White tea silver needle itu harus dipetik sebelum matahari terbit. Sekitar pukul 03.00 WIB, selain itu juga persediaannya sangat terbatas. Cara mengkonsumsi white tea akan lebih terasa harumnya dengan menunggu seduhan di air panas selama tiga menit sebelum diminum," papar Dinar Rahmat Iskandar, selaku Penanggungjawab Walini By Me.

Seduhan Stevia dan seduhan White TeaSeduhan Stevia dan seduhan White Tea Foto: Anindyadevi Aurellia

Dinar menyebutkan bahwa teh masa kini tak lagi bisa disamakan dengan jenis teh zaman dahulu yang variannya terbatas. Adit pun membenarkan hal ini, bahkan saat ini ia melihat tren kopi di tengah milenial mulai menurun. Hal ini disambut baik oleh artisan tea, yang diharapkan mampu mendongkrak teh Indonesia.

"Maka hadirlah Walini By Me yang menggandeng orang untuk lebih penasaran dengan teh. Saat ini sudah ada cabang di Bahureksa ini, Dusun Bambu, dan Ciwidey. Nah, 17 Agustus besok kami akan meresmikan Walini By Me di Dago," ujar Adit.

"Di Dago ini menarik, karena teh itu minuman yang otentik ditambah dengan bangunan di Dago yang konsepnya heritage. Ini akan menambah rasa penasaran orang, bukan hanya ke produk yang sudah jadi tapi juga tertarik untuk berwisata menengok perkebunan teh kami," katanya menambahkan.

Walini By Me di bilangan Dago 92, menambah satu lagi destinasi tempat bersantai sekaligus wisata kuliner. Tak hanya itu, Walini By Me di Dago diharapkan mampu menjajakan keontetikannya untuk kemudian mengenalkan tentang Teh Indonesia termasuk bagaimana mengolah teh sejak masih di kebun.

Melihat potensi pariwisata di sektor usaha perkebunan dan pertanian mempunyai nilai jual tinggi, Walini By Me bisa menjadi objek dan daya tarik wisata. Sumber Daya Alam di unit kebun PTPN VIII kemudian dikembangkan sebagai objek Agrowisata. Terlebih wilayah Jawa Barat cukup sejuk dan menyajikan pemandangan yang luar biasa indahnya.

Agrowisata Teh Unit Rancabali - CiwideyAgrowisata Teh Unit Rancabali - Ciwidey Foto: Website Agrowisata PTPN VIII

Namun, tak semua kebun teh bisa dijadikan tempat wisata. Beberapa titik untuk Agrowisata kebun teh yang bisa dikunjungi yakni hanya Puncak, Sukabumi, Pangalengan, dan Ciwidey. Dalam Agrowisata ini, keluarga tak hanya diajak berlibur dengan suguhan indahnya pemandangan alam, tapi juga bisa beraktivitas seperti berkuda.

Saat sudah lelah, disediakan tempat menginap yang nyaman dan bersih. Sehingga dijamin penat akan hilang, ditambah dengan hawa sejuk dari dataran tinggi yang akan membuat liburan keluarga menjadi asyik! Untuk reservasi pun tak rumit, kamu dapat kunjungi langsung ke laman wisata PTPN 8.



Simak Video "Inilah Kebun Teh Satu-satunya yang Ada di Banten"
[Gambas:Video 20detik]
(aau/tya)