Igor Tolic menghadapi tantangan besar pada awal musim 2026/2027 bersama Persib Bandung. Di tengah keterbatasan jumlah pemain dan padatnya agenda kompetisi, pelatih asal Kroasia itu tetap mampu menjaga muruah Maung Bandung sebagai salah satu klub terbaik di Indonesia, terutama lewat penampilan impresif di pentas Asia.
Performa Persib di kompetisi domestik memang belum sepenuhnya meyakinkan. Hingga pekan kelima Super League 2026/2027, Maung Bandung masih tertahan di peringkat keenam klasemen dengan koleksi 10 poin dari tiga kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, cerita berbeda ditunjukkan Persib di kompetisi internasional. Pada ajang AFC Champions League Two (ACL 2), Persib sukses menyapu bersih dua pertandingan awal fase grup. Kemenangan saat bertandang ke markas FC Seoul dan ketika menjamu The Cong-Viettel mengantarkan Pangeran Biru memuncaki klasemen Grup E.
Persib juga membuka kiprahnya di ASEAN Club Championship dengan hasil positif. Maung Bandung berhasil menaklukkan tuan rumah Port FC pada pertandingan pertama Grup B.
Rentetan hasil tersebut menjadi bukti bahwa Persib masih mampu bersaing di level regional, meski harus menghadapi situasi skuad yang belum ideal.
Saat ini, Persib hanya memiliki 27 pemain untuk menjalani rangkaian pertandingan di empat kompetisi. Tantangan semakin besar karena League Cup juga segera bergulir, sehingga kebutuhan rotasi dan pengelolaan kebugaran pemain menjadi faktor penting bagi tim pelatih.
Pengamat Persib Bandung, Indra Jaya, menilai tidak mudah bagi Igor Tolic menjalani musim ini. Menurutnya, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata berkaitan dengan strategi permainan, melainkan juga tuntutan untuk menjaga konsistensi tim di tengah jadwal padat dan komposisi skuad yang terbatas.
"Tidak mudah menjadi Igor di musim ini. Bahkan bukan cuma Igor, tetapi siapa pun pelatih Persib musim ini tidaklah mudah. Itu karena Persib tidak hanya bermain di dua kompetisi seperti musim-musim sebelumnya, belum lagi jumlah skuad pemain yang tidak terlalu gemuk dengan menjalani empat kompetisi," kata Indra, Rabu (21/10/2026).
Situasi tersebut membuat Igor harus berhati-hati dalam menentukan komposisi pemain untuk setiap pertandingan. Rotasi menjadi kebutuhan agar kebugaran tetap terjaga, terutama ketika Persib harus menjalani laga tandang dengan jarak tempuh yang tidak sedikit serta menghadapi lawan dengan level persaingan berbeda.
Indra menilai hasil yang diraih Persib sejauh ini masih layak diapresiasi. Kendati belum seluruh proses permainan sesuai dengan harapan suporter, posisi Persib di kompetisi domestik maupun Asia menunjukkan bahwa tim masih berada dalam persaingan.
"Sejauh ini hasil dari yang sudah dijalani tim Persib tidaklah buruk, walaupun prosesnya tidak semua orang menyukainya," ujarnya.
Menurut Indra, Igor memang mengambil sejumlah keputusan yang berpotensi memunculkan perdebatan. Mulai dari pendekatan permainan yang cenderung pragmatis, perubahan skema, hingga keberanian menyimpan atau mengganti pemain dengan nama besar.
Namun, keputusan tersebut perlu dilihat dalam konteks kebutuhan tim untuk melewati musim yang panjang. Bagi Indra, hasil yang sudah diraih Persib tidak semestinya diabaikan hanya karena gaya bermain yang ditampilkan belum sepenuhnya memuaskan publik.
"Posisi Persib di klasemen liga dan grup tidak jelek. Itu adalah sebuah hasil yang telah ditoreh. Walaupun untuk mendapatkan itu Igor memilih bermain pragmatis, mengubah-ubah skema dan berani menyimpan atau mengganti pemain dengan nama besar. Suatu pencapaian yang harus diapresiasi sebetulnya dengan kondisi seperti ini," tutur Indra.
Strategi Aman di Tengah Tekanan Tinggi
Salah satu hal yang kerap menjadi sorotan dari permainan Persib adalah pendekatan taktik yang dinilai belum cukup atraktif. Persib tidak selalu mendominasi penguasaan bola dan cenderung mengandalkan organisasi pertahanan sebelum melancarkan serangan balik.
Bagi sebagian suporter, pendekatan tersebut mungkin belum sesuai dengan ekspektasi terhadap tim sebesar Persib. Apalagi, dengan kualitas pemain yang dimiliki, Maung Bandung diharapkan mampu tampil lebih dominan, menciptakan banyak peluang, dan mencetak gol dalam jumlah besar.
Akan tetapi, Indra memahami bahwa keputusan seorang pelatih tidak bisa hanya didasarkan pada keinginan penonton. Ada risiko besar yang harus diperhitungkan, terlebih ketika Persib dituntut tampil konsisten di berbagai kompetisi.
"Igor, saya yakin bukan tidak mau bermain menyerang seperti yang diinginkan setiap penonton. Memang permainan menyerang itu menarik, seru, akan banyak peluang bahkan gol yang membuat penonton terhibur," kata Indra.
"Namun, Igor melakoni empat kompetisi, ada di klub yang tekanannya tinggi jika salah mengambil keputusan, bahkan menelan kekalahan. Maka ia memilih taktik yang aman, yang sebetulnya sama dengan Bojan, defend to counter, tidak banyak menguasai bola, bahkan jarang menang dengan gol banyak," lanjutnya.
Indra melihat cara itu sebagai bagian dari upaya Igor menjaga keseimbangan tim. Dengan jadwal pertandingan yang padat dan jumlah pemain yang terbatas, pelatih perlu menentukan prioritas agar Persib tidak kehilangan terlalu banyak poin di tengah perjalanan musim.
Dalam situasi seperti ini, efektivitas permainan menjadi salah satu tolok ukur penting. Penguasaan bola yang dominan atau kemenangan dengan skor besar memang bisa memberikan hiburan tambahan, tetapi tidak selalu menjadi jaminan keberhasilan dalam sebuah kompetisi.
Terlebih, Persib membawa ekspektasi tinggi dari suporter yang menginginkan klub kebanggaannya terus meraih gelar. Tekanan tersebut membuat setiap keputusan taktik maupun pemilihan pemain memiliki konsekuensi besar.
Indra pun mengingatkan bahwa sepak bola profesional pada akhirnya berorientasi pada prestasi. Trofi menjadi tujuan utama, meskipun untuk mencapainya dibutuhkan berbagai penunjang, mulai dari kondisi keuangan klub yang sehat, kualitas pemain, fasilitas, hingga kemampuan pelatih.
"Tujuan dari sepak bola prestasi adalah trofi, banyak penunjangnya seperti keuangan yang sehat, pemain berkualitas, fasilitas, hingga pelatih yang berkualitas juga. Maksimal ataupun tidak, pejuang-pejuang itu harus bisa membawa klub menjadi yang terbaik. Sejauh ini, Persib mengutamakan penunjang pada pemain dan pelatih, fasilitas belum," ucapnya.
Hasil Tetap Menjadi Ukuran
Bagi Igor Tolic, tantangan musim ini bukan hanya membawa Persib meraih kemenangan, tetapi juga menjaga konsistensi di tengah tuntutan kompetisi yang berjalan bersamaan. Ia harus meracik strategi, mengatur rotasi, serta memastikan para pemain tetap berada dalam kondisi yang memungkinkan mereka tampil kompetitif.
Keberhasilan Persib meraih kemenangan di dua laga awal ACL 2 dan menundukkan Port FC di ASEAN Club Championship setidaknya menjadi modal penting. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan yang diterapkan Igor masih mampu memberikan hasil di tengah berbagai keterbatasan.
Meski demikian, pekerjaan rumah di kompetisi domestik tetap menanti. Persib perlu memperbaiki konsistensi di Super League agar tidak terlalu jauh tertinggal dalam persaingan papan atas.
Menurut Indra, permainan atraktif memang menjadi nilai tambah yang diharapkan suporter. Namun, dalam situasi yang menuntut hasil di berbagai kompetisi, kemampuan pelatih mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan tim juga perlu mendapatkan ruang untuk dinilai secara objektif.
"Saya rasa Igor jika duduk sebagai penonton, tentu ingin melihat permainan atraktif dan menarik. Tetapi duduk sebagai head coach, ia punya banyak risiko. Yang terpenting, tujuan dari sebuah pertandingan tercapai, yaitu kemenangan, apa pun prosesnya asal diraih secara fair," pungkas Indra.
(bba/sud)
