Bus Rombongan EPA Persib Diserang di Batang, Viking: Usut Tuntas!

Bus Rombongan EPA Persib Diserang di Batang, Viking: Usut Tuntas!

Rifat Alhamidi - detikJabar
Senin, 12 Okt 2026 09:15 WIB
Ilustrasi logo Persib Bandung.
Ilustrasi logo Persib Bandung. (Foto: ChatGPT)
Bandung -

Suasana mencekam sempat dialami rombongan pemain Persib Bandung U-18 pada Minggu (11/10) malam sekitar pukul 21.30 WIB. Mereka diserang sekelompok orang saat beristirahat di Rest Area KM 360, Batang, Jawa Tengah.

Manajemen Persib hingga kini belum memberikan keterangan resminya soal penyerangan tersebut. Namun dari informasi awal, penyerangan itu berdampak fatal mulai dari kerusakan bus rombongan pemain Persib U-18, penganiayaan terhadap beberapa orang, hingga dugaan penjarahan.

Skuad Persib U-18 saat itu baru saja melakoni laga tandang melawan Garuda United pada kompetisi Elite Pro Academy (EPA) U-18 di Stadion UNS, Surakarta, Minggu (11/10/2026). Namun dalam perjalanan pulang dan beristirahat di Rest Area KM 360 Batang, mereka diserang sekelompok orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kelompok penyerang itu diduga merupakan rombongan suporter tamu sebuah klub yang baru saja melakukan away untuk mendukung timnya. Akibat kejadian ini, Media Officer Persib U-18, Pandu Persada dan anggota tim akademi Persib, Ridwan, dilaporkan terpisah dengan rombongan Persib U-18.

ADVERTISEMENT

Ridwan berhasil selamat setelah menumpang di mobil salah satu orang tua pemain Persib U-18. Sedangkan Pandu, tertinggal di Rest Area KM 360 Batang dan pada malam itu diduga jadi korban penganiayaan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, Pandu dilaporkan selamat setelah berlindung di sebuah tempat tambal ban rest area. Kasus itu kemudian dilaporkan ke polisi supaya bisa diusut secara tuntas.

"Hingga laporan ini disusun, Persib masih melakukan koordinasi secara intensif dengan pihak kepolisian di wilayah Batang, Jawa Tengah, untuk memastikan keselamatan dan mengupayakan pengamanan serta evakuasi Pandu dari lokasi kejadian," demikian keterangan tertulis Persib yang diperoleh detikJabar, Senin (12/10/2026).

"Prioritas utama saat ini adalah memastikan Pandu berada dalam kondisi aman, memperoleh konfirmasi mengenai kondisi fisiknya, dan dapat segera meninggalkan lokasi dengan pendampingan yang diperlukan," lanjutnya.

Merespons kejadian ini, Viking Persib Club (VPC) mendesak polisi untuk segera mengusut kasus ini. Sebab menurut Viking, insiden tersebut bukan lagi ranah rivalitas, melainkan sebuah tindakan kriminalitas.

"Penyerangan itu bukan lagi pada batas rivalitas ya, mereka sudah melebihi batas rivalitas. Artinya mereka sudah tidak melihat kemanusiaan sebagai basic yang dimiliki oleh suporter. Jadi menurut saya hal itu memang perlu ada penegasan ya dari pihak federasi atau kemudian dari pihak aparat keamanan," kata Sekum Viking, Arlan Siddha.

Menurutnya, penyerangan tersebut sudah tidak bisa dinormalisasi sebagai tindakan wajar kelompok suporter. Apalagi, Indonesia sedang gencar mengkampanyekan para suporter bisa duduk satu tribun bareng di sebuah pertandingan.

Saat ini, Viking juga berencana untuk mendampingi secara moral para pemain Persib U-18. Hal itu dilakukan supaya para pemain muda Maung Bandung bisa keluar dari trauma kejadian tersebut.

"Viking tentunya akan memberikan support moral dan dukungan, terutama kepada pemain muda agar mereka bisa keluar dari traumanya. Kita juga bakal koordinasi dengan kawan-kawan suporter lain supaya pelakunya segera ditangkap dan tidak lagi menormalisasi hal ini," ungkapnya.

Arlan pun memberi imbauan kepada bobotoh, terutama di wilayah perbatasan. Ia meminta bobotoh untuk bersikap dewasa dan menahan diri supaya tidak muncul aksi serangan balasan.

"Untuk bobotoh di wilayah-wilayah perbatasan dengan suporter tetangga, tentunya kita harus menjaga kondusifitas dan tidak melakukan penyerangan atau balas dendam. Kita percayakan terhadap mekanisme hukum yang di Indonesia, kemudian kita akan terus mengawal sampai di mana pengusutan ini. Mudah-mudahan dalam waktu dekat polisi bisa melakukan penangkapan, sehingga spekulasi atau hal-hal yang membuat menjadi semakin tegang tidak makin panjang," tegasnya.

"Pokoknya saya berharap federasi dan juga aparat juga bisa menyelesaikan kasus ini. Karena persoalannya adalah yang diserang mereka yang sedang berkembang untuk menciptakan sepak bola Indonesia lebih baik," pungkasnya.



(ral/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads