FIFA ASEAN Cup 2026 membawa tantangan tersendiri bagi Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Bukan soal kesiapan stadion, melainkan bagaimana menarik penonton ketika Timnas Indonesia sama sekali tidak bermain di Bandung.
Di ajang tersebut, Timnas Indonesia berada di Grup A bersama Singapura, Malaysia, dan Bangladesh. Seluruh pertandingan Indonesia pada fase grup digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
Sementara itu, Si Jalak Harupat menjadi venue pertandingan Grup B yang dihuni Vietnam, Thailand, Filipina, dan Pakistan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara. Sebab, pertandingan di Si Jalak Harupat tetap dibanderol dengan harga tiket yang tidak murah.
Untuk matchday 1 dan 2, PSSI menjual tiket seharga Rp100 ribu. Harga tersebut kemudian naik menjadi Rp200 ribu pada matchday 3 dan 4.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir tidak ingin animo penonton hanya diukur dari ada atau tidaknya Timnas Indonesia. Ia menyebut FIFA ASEAN Cup 2026 justru bisa menjadi kesempatan masyarakat melihat langsung kualitas sepak bola negara lain.
"Saya lihat animonya tidak hanya buat tim nasional, tapi tadi saya dengar dari Pak Wali Kota, Pak Bupati Bandung, ingin menggiatkan masyarakat yang suka bola mesti melihat pertandingan kelas yang tinggi," kata Erick di Bandung, Kamis (24/9/2026).
Menurut Erick, laga di Si Jalak Harupat dapat menjadi tontonan sekaligus pembelajaran bagi pesepakbola muda. Ia menyebut seluruh peserta di Grup B yakni Filipina, Vietnam, Thailand dan Pakistan menurunkan tim terbaiknya di ajang tersebut.
"Karena ini pembelajaran untuk tentu anak-anak di bawah dan sekolah sepak bola dan semua untuk melihat langsung. Karena tadi tim-tim yang bermain ini kelasnya bagus-bagus," ucapnya.
"Filipina yang bermain di sini hampir 18 pemainnya yang main di berbagai negara di luar Filipina, diundang untuk Timnas-nya. Belum lagi ya tentu musuh bebuyutan kita ya, ada Vietnam dan Thailand," lanjutnya.
Karena itu, Erick berharap dukungan pemerintah daerah dan masyarakat bisa ikut mendorong animo penonton di Bandung.
"Jadi ini hal-hal yang menurut saya rasa bagian dari edukasi sepak bola dan tadi dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat insyaallah kita lakukan bagaimana kegiatan ini lebih baik," jelasnya.
Alasan Bandung jadi Tuan Rumah
Erick mengatakan pemilihan Bandung sebagai salah satu venue bukan keputusan tanpa alasan. Jawa Barat dinilai telah memiliki fasilitas olahraga yang memadai untuk menggelar pertandingan level internasional.
"Investasi yang sudah dilakukan oleh pemerintah daerah dari Jawa Barat kepada sepak bola harus diapresiasi. Investasi pemerintah juga di tentu lapangan-lapangan olahraga juga harus diapresiasi," ungkapnya.
Si Jalak Harupat sebelumnya juga menjadi venue Piala Dunia U-17. Kini stadion tersebut kembali digunakan untuk turnamen FIFA.
"Bandung ini sudah punya fasilitas kelas internasional. Kalau tidak diisi kegiatannya mubazir. Makanya setelah dulu U-17, sekarang event FIFA lagi kita bawa ke sini lagi karena tadi komitmen dari pemerintah daerah," ujar Erick.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga menyebut Bandung memiliki modal sebagai tuan rumah, terutama dari karakter masyarakat sepak bolanya.
"Yang paling utama adalah kalau kemudian kenapa Bandung dipercaya, artinya satu, kota ini aman, para pendukungnya, penggemarnya sangat santun, ramah, dan terbuka terhadap siapa pun termasuk dari luar. Ketiganya menarik karena selalu penontonnya banyak," kata Dedi.
(bba/yum)
