Masa depan Richarlison di Tottenham Hotspur kian buram. Penyerang asal Brasil ini tidak lagi masuk dalam skema Roberto De Zerbi dan kini terjebak dalam ketidakpastian setelah jendela transfer liga-liga utama Eropa resmi ditutup.
Meski sempat merumput di pekan pembuka Premier League musim ini, Richarlison menghilang dari daftar susunan pemain pada dua laga berikutnya. Namanya resmi dicoret dari skuad The Lilywhites setelah sang pemain dilaporkan mengajukan permintaan untuk hengkang.
Upaya mencari pelabuhan baru pun menemui jalan buntu. Melansir detikSport, Richarlison hampir kembali ke Everton pada pengujung bursa transfer musim panas dengan nilai transfer 35 juta pound. Namun, kesepakatan tersebut runtuh setelah ia gagal mencapai kesepakatan personal dengan The Toffees.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Richarlison Terkatung-katung di Spurs |
Kini, dengan tertutupnya bursa transfer Eropa, pilihan Richarlison semakin menyempit. Vasco da Gama sempat mencoba memboyongnya pulang ke Brasil, namun kendala yang sama kembali muncul: kesepakatan personal yang tak kunjung tercapai.
Jika negosiasi dengan Vasco benar-benar kandas, Richarlison menghadapi risiko besar kehilangan menit bermain kompetitif hingga bursa transfer Januari mendatang. Laporan BBC menyebutkan bahwa pemain berusia 29 tahun itu tengah mempertimbangkan opsi ekstrem, yakni mengakhiri kontraknya di Tottenham yang sebenarnya masih tersisa hingga 2027.
Langkah ini pun tidak mudah. Manajemen Tottenham dikabarkan enggan membayarkan sisa gaji jika pemutusan kontrak dilakukan atas keinginan sang pemain. Kondisi ini terbilang ironis mengingat status Richarlison sebagai pencetak gol terbanyak klub musim lalu dengan koleksi 12 gol.
Manajer Tottenham, Roberto De Zerbi, mengungkapkan bahwa dirinya sempat berusaha meyakinkan Richarlison untuk bertahan. Namun, dinamika yang terjadi selama musim panas mengubah segalanya.
"Richarlison adalah orang yang baik, sangat baik. Saya sering berbicara dengannya dan meluangkan waktu untuk meyakinkannya agar bertahan, namun jika Anda bertanya kepada saya, saya tahu kenyataannya," ujar De Zerbi.
"Saya tahu apa yang terjadi dalam satu bulan terakhir, atau 45 hari terakhir, dan situasinya jelas, tetapi saya tidak merasa frustrasi."
"Jika saya sendiri yang memutuskan untuk mencoretnya dari skuad, saya pasti akan menyesal, namun keputusan itu bahkan bukan diambil oleh klub. Hal ini merupakan konsekuensi dari apa yang sudah saya sampaikan kepada Anda, yaitu keputusannya sendiri..."
De Zerbi menyayangkan akhir cerita yang pahit ini, sebab ia meyakini Richarlison masih memiliki peran krusial bagi tim.
"Saya menyayangkan hal ini karena situasinya bisa berbeda. Bahkan akhir ceritanya pun bisa lebih baik, atau jauh lebih baik, dengan Richarlison tetap masuk daftar pemain, merasa senang untuk bertahan, dan mungkin memperpanjang kontraknya, karena dia tetaplah pemain penting," katanya.
Meski kini meminggirkan sang penyerang, De Zerbi tetap menghargai kontribusi besar Richarlison pada musim sebelumnya.
"Dia adalah pemain penting musim lalu-kita tidak boleh melupakan hal itu-tetapi kita juga tidak bisa melupakan apa yang terjadi dalam 45 hari terakhir," tegas De Zerbi.
Saat ini, Richarlison berada di posisi yang sangat sulit. Terikat kontrak namun terasing dari skuad, mantan pemain Everton ini harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: menepi dari lapangan hijau hingga Januari demi mencari jalan keluar baru bagi kariernya.
Artikel ini sudah tayang di detikSport
