Legenda sepakbola Brasil dan mantan bintang Real Madrid, Roberto Carlos, disebut telah memeluk agama Islam. Hal itu diungkap anggota parlemen Turki, Ali Sahin pada 18 Agustsu 2026 lalu.
Dalam keterangannya di akun X, Sahin menyebut informasi itu diperoleh setelah dirinya bertemu dengan Syekh Jihad Hammadeh, tokoh komunitas Muslim di Brasil.
Menurut Sahin, Roberto Carlos telah menjalin komunikasi dengan Syekh Jihad Hammadeh selama beberapa waktu. Sekitar empat pekan lalu, mantan bek kiri Brasil tersebut disebut datang dan mengucapkan syahadat sebelum memeluk Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simak profil lengkap sang legenda, Roberto Carlos
Lahir di Garça, São Paulo, pada 10 April 1973, Roberto Carlos da Silva Rocha tumbuh menjadi salah satu bek kiri paling revolusioner dan ditakuti dalam sejarah sepak bola modern. Dikenal luas dengan inisial ikonik RC3, fisiknya terbilang unik bagi seorang pemain bertahan kelas dunia.
Dengan postur 1,68 meter, ia mengompensasi tinggi badannya melalui lingkar paha luar biasa berukuran 61 cm (24 inci) yang memungkinkannya berlari 100 meter hanya dalam waktu 10,9 detik. Atribut fisik super ini memberinya akselerasi eksplosif serta kekuatan tembakan dahsyat berkecepatan 140 hingga 169 km/jam, modal utama yang membuatnya dijuluki El Hombre Bala (Si Manusia Peluru).
Langkah awal karier profesionalnya dirintis bersama União São João pada 1991, sebelum sempat dipinjamkan ke Atlético Mineiro dan kemudian meledak bersama Palmeiras lewat raihan gelar ganda Liga Brasil (1993 dan 1994). Bakat luar biasanya memikat Inter Milan pada 1995, namun petualangan di Serie A hanya bertahan satu musim akibat ketidakcocokan taktik pelatih Roy Hodgson yang memaksa Roberto Carlos bermain sebagai pemain sayap murni.
Keputusan hengkang ke Spanyol pada musim panas 1996 menjadi titik balik terpenting, membuka jalan bagi terciptanya era keemasan bersama Real Madrid.
Selama 11 musim membela panji Los Blancos (1996-2007), Roberto Carlos menjelma sebagai pilar tak tergantikan di era legendaris Galácticos. Menorehkan lebih dari 500 penampilan kompetitif dan menyumbang puluhan gol spektakuler, ia lama memegang rekor sebagai pemain asing dengan jumlah penampilan terbanyak dalam sejarah klub ibu kota Spanyol tersebut.
Bersama Real Madrid, lemari trofinya terisi penuh oleh empat gelar La Liga, tiga trofi bergengsi UEFA Champions League (1997-98, 1999-2000, 2001-02), dua Piala Interkontinental, dan satu Piala Super Eropa, menjadikannya standar baku bagi peran bek sayap modern yang agresif menyerang tanpa melupakan pertahanan.
Di panggung internasional bersama tim nasional Brasil, catatan kiprahnya tidak kalah gemilang dengan mengoleksi lebih dari 125 caps sejak debutnya pada 1992-menjadikannya pemain dengan jumlah penampilan terbanyak keempat dalam sejarah Seleção. Roberto Carlos adalah bagian inti dari generasi emas yang memenangkan dua trofi Copa América (1997, 1999), Piala Konfederasi 1997, hingga puncaknya merengkuh trofi Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang serta menjadi runner-up pada edisi 1998 di Prancis.
Sepanjang karier internasionalnya, momen paling magis terukir pada 3 Juni 1997 di turnamen Tournoi de France. Roberto Carlos melepaskan eksekusi tendangan bebas berjarak 40 yard melawan timnas Prancis dengan lintasan bola melengkung ekstrem (banana shot) yang seolah menentang hukum fisika. Bola melesat tajam memutari pagar betis dan meluncur mulus ke sudut gawang tanpa mampu dijangkau kiper Fabien Barthez yang hanya terpaku. Gol legendaris tersebut hingga kini diakui para ilmuwan dan penggemar sepak bola sebagai salah satu tendangan bebas terbaik dan paling spektakuler sepanjang masa.
Memasuki fase akhir kariernya, ia melanjutkan petualangan ke klub raksasa Turki Fenerbahçe (2007-2009) dan langsung memenangkan Piala Super Turki di laga debut. Roberto Carlos kemudian sempat pulang ke Brasil untuk membela Corinthians bersama sahabat dekatnya, Ronaldo Nazário, sebelum mengadu nasib di Liga Premier Rusia bersama Anzhi Makhachkala sebagai kapten sekaligus pelatih sementara.
Perjalanan panjang lebih dari dua dekade di atas lapangan hijau akhirnya ia tutup di Liga Super India bersama Delhi Dynamos pada rentang 2015-2016 dengan mengemban peran ganda sebagai pemain dan manajer.
Konsistensi luar biasa dan dominasinya di sisi kiri lapangan mengantarkan Roberto Carlos meraih segudang penghargaan bergengsi, termasuk dua kali terpilih sebagai Bek Terbaik Eropa (2002, 2003), peringkat kedua FIFA World Player of the Year 1997, serta runner-up Ballon d'Or 2002.
Namanya masuk ke dalam daftar prestisius FIFA 100 pilihan Pelé, FIFA World Cup Dream Team, Ballon d'Or Dream Team, hingga diabadikan di Brazilian Football Museum Hall of Fame sebagai simbol keabadian salah satu bek kiri terhebat yang pernah ada di dunia sepak bola.
Roberto Carlos Belum Buka Suara
Walaupun berita terkait status Roberto Carlos sebagai Mualaf sudah meluas di media pemberitaan dan sosial, mantan pemain Fenerbahce itu belum membuat keterangan. Publik tentu berharap pria berusia 53 tahun itu segera membuat pernyataan demi mendapatkan kebenaran yang sejati.
Roberto Carlos diketahui sudah menikah lagi dengan Souheila Tahiri, yang berdarah Marokok-Lebanon. Souheila Tahiri merupakan pengusaha sekaligus agen pemain berlisensi FIFA.
Pernikahan mereka menjadi sorotan publik pada Agustus 2026. Pasangan tersebut mengelar pernikahan secara Islami yang dihadiri oleh seorang syekh.
(yum/yum)
