Persib Bandung mulai mematangkan persiapan menghadapi kompetisi musim 2026/2027 dengan menggelar pemusatan latihan (TC) di Bali. Selama menjalani agenda tersebut, Maung Bandung memanfaatkan fasilitas Bali United Training Center di Gianyar sebagai tempat berlatih dan mempersiapkan tim.
Penggunaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari persiapan Persib sebelum menghadapi padatnya kompetisi musim depan. Di Pulau Dewata, Persib juga akan melakoni dua laga uji coba melawan Bali United dan tim asal Malaysia, Sabah FC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di balik agenda TC tersebut, persoalan fasilitas latihan mandiri masih menjadi pekerjaan yang terus dipersiapkan manajemen.
Sebagai klub yang dalam tiga musim terakhir berhasil meraih gelar juara liga secara beruntun, Persib sebelumnya sempat menjadi sorotan karena belum memiliki training center dan sejumlah fasilitas pendukung secara mandiri.
Manajemen pun memastikan pembangunan dan pembenahan fasilitas klub terus diarahkan secara bertahap, meski prosesnya tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat Adhitia Putra Herawan mengatakan, manajemen secara bertahap terus membenahi fasilitas klub. Menurutnya, perkembangan fasilitas Persib dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan adanya perubahan, meski belum seluruh kebutuhan klub terpenuhi.
"Fasilitas bukan sesuatu yang semalam jadi, harus dipikirkan dengan matang. Kalau bobotoh ingat 2024 kita masih latihannya nomaden, 2025 sudah punya (lapangan) latihan yang dedicated, locker room yang bagus," kata Adhitia saat diwawancarai belum lama ini.
Adhitia menegaskan pembangunan fasilitas tidak bisa dilakukan hanya dengan satu gebrakan. Menurutnya, setiap fasilitas memiliki keterkaitan dengan kebutuhan lain sehingga harus dipersiapkan secara matang.
"Jadi ini bukan sesuatu yang sekali gebrak selesai, karena pasti akan menyentuh ke aspek yang lain," ujarnya.
Manajemen Persib pun memastikan sejumlah proyek terkait fasilitas klub tengah berjalan. Namun, Adhitia memilih tidak membeberkan seluruh rencana tersebut kepada publik sebelum progresnya benar-benar terlihat.
"Kita sedang melakukan beberapa hal, lihat aja nanti ada beberapa progres ada yang baru dan segala macam tapi kita nggak mau ramai. Terus banyak yang nanya kampung Persib juga masih progres ada administrasi yang kita beresin dan lainnya," katanya.
Adhitia menyebut pembangunan fasilitas menjadi bagian dari arah jangka panjang klub. Karena itu, manajemen tidak ingin mengambil keputusan secara terburu-buru hanya demi memenuhi ekspektasi bobotoh dalam waktu singkat.
"Tapi pelan-pelan manajemen mengarah ke sana. Ini bukan one night show yang isuk kudu aya, kudu beres, nggak," tegasnya.
Persib sendiri memiliki Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang selama ini menjadi markas pertandingan. Namun, kebutuhan klub profesional tidak berhenti pada stadion pertandingan.
Klub membutuhkan ekosistem fasilitas yang dapat menunjang aktivitas tim secara menyeluruh, mulai dari lapangan latihan, ruang ganti, pusat kebugaran, fasilitas pemulihan hingga fasilitas pendukung lainnya.
Karena itu, manajemen ingin pembangunan fasilitas Persib diposisikan sebagai proyek jangka panjang, bukan sekadar pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi tuntutan sesaat.
"GBLA itu kan 30 tahun, kita punya banyak waktu untuk pelan-pelan membenahi supaya ini jadi long time project. Bukan yang bikin biar bobotoh happy terus besoknya gak keurus, gak terawat," pungkas Adhitia.
(bba/sud)
