Blak-blakan Mourinho soal Penyebab 'Musuhan' dengan Casillas

Soccer Update

Blak-blakan Mourinho soal Penyebab 'Musuhan' dengan Casillas

Adhi Prasetya - detikJabar
Selasa, 11 Agu 2026 06:30 WIB
Kendati tak akur saat bersama di Real Madrid, Jose Mourinho bersimpati atas sakitnya Iker Casillas. Dia menghubungi manajemen Porto saat tahu kondisi si pemain.
Iker Casillas dan Jose Mourinho saat masih bersama-sama di Real Madrid. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Drama lama antara José Mourinho dan Iker Casillas di Real Madrid kembali menyeruak. Sang pelatih legendaris itu akhirnya blak-blakan mengungkap pemicu keretakan hubungannya dengan kiper ikonik berjuluk San Iker tersebut.

Mourinho sebenarnya punya catatan manis di awal masa baktinya (2010-2012) dengan mempersembahkan trofi LaLiga, Copa del Rey, hingga Piala Super Spanyol. Namun, memasuki musim 2012-2013, situasi berubah drastis. El Real mendadak nirgelar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah mereka terhenti di final Copa del Rey usai ditekuk Atlético Madrid, dan harus puas menjadi runner-up LaLiga dengan selisih 15 poin dari Barcelona. Di tengah keterpurukan itu, Casillas pun harus rela kehilangan statusnya sebagai kiper utama di pertengahan musim.

Konflik internal ini tak pelak membelah ruang ganti Santiago Bernabéu. Nama-nama besar seperti Sergio Ramos hingga Cristiano Ronaldo dikabarkan berdiri di belakang Casillas.

ADVERTISEMENT

"Hubungan saya dan Jose sangat dingin. Pada saat itu, saya benar-benar berpikir hubungan kami mencapai titik di mana pada akhirnya, tali itu putus," ujar Casillas dalam dokumenter terkait Mourinho yang tayang di Netflix, dikutip BBC.

Sami Khedira, yang menjadi saksi mata di periode 2010-2015, membenarkan betapa kacaunya kondisi internal tim saat itu. Menurutnya, perlakuan Mourinho kepada sang legenda menjadi sumbu ledak perselisihan.

"Iker adalah legenda Real Madrid yang dicintai oleh setiap pendukung Real Madrid. Dia (Mourinho) mencadangkannya, tidak berbicara dengannya, dan menjelek-jelekkannya di media; jadi, jujur saja, situasi di ruang ganti saat itu benar-benar kacau," ujarnya.

Khedira menambahkan friksi tersebut merembet ke pemain-pemain pilar lainnya, yang berdampak buruk pada keharmonisan tim.

"Setelah itu, hubungan antara Jose dan banyak pemain menjadi rusak, seperti dengan Cristiano (Ronaldo) serta para pemain Spanyol, Casillas dan Sergio Ramos. Padahal, pemain-pemain itu sangatlah penting bagi suasana di ruang ganti," tegas eks gelandang asal Jerman tersebut.

Di sisi lain, Mourinho punya pembelaan sendiri. Pelatih asal Portugal ini menilai Casillas dan beberapa pemain pilar lainnya terlalu banyak menuntut hal-hal di luar teknis pertandingan.

"Dalam tiga kesempatan pertama saya berbicara dengan Casillas, sang kapten, hal pertama yang ia sampaikan adalah, 'Saya ingin meminta tambahan waktu libur bagi parah pemain tim nasional'," ujar Mourinho.

Mourinho juga membeberkan permintaan-permintaan lain dari Casillas yang dianggapnya tidak profesional bagi klub sebesar Madrid.

"Kali kedua ia berbicara kepada saya, ia berkata, 'Saya ingin meminta agar sesi latihan dimundurkan satu jam karena pada jam yang Anda tentukan, lalu lintas di Madrid sangat padat'."

"Saat ketiga kalinya ia datang menemui saya, ia berkata, 'Kami tidak ingin menginap di hotel. Kami lebih memilih untuk berkumpul pada hari pertandingan saja dan langsung menuju stadion untuk bertanding'. Tak butuh waktu lama, saya pun menyadari bahwa mereka itu manja," tegasnya.

Selain masalah kedisiplinan, tensi tinggi El Clásico juga menjadi bumbu perselisihan. Casillas yang ingin menjaga hubungan baik dengan rekan-rekannya di Timnas Spanyol (yang saat itu didominasi pemain Barcelona) dianggap Mourinho sebagai sikap yang lembek.

Bagi Mourinho, rivalitas dengan Barcelona adalah harga mati yang tidak bisa dikompromikan dengan alasan pertemanan di tim nasional.

"Ada hal-hal yang tak bisa saya terima dan tak akan pernah saya terima, dan ketika seseorang tak menghormati saya, itu adalah masalah," ia menambahkan.

"Saya bilang, ini Barcelona, Real Madrid. Ketika Anda sedang membela tim nasional, silakan cium mereka, tapi tidak sekarang (saat memperkuat klub). Ini perang," tegas Mourinho.

Kisah lama ini kembali menjadi sorotan seiring kembalinya Mourinho ke kursi pelatih Real Madrid. Setelah hengkang pada 2013 dan digantikan Carlo Ancelotti, kini pria berusia 63 tahun itu memikul beban berat untuk mengakhiri dahaga gelar Los Blancos setelah dua musim tanpa trofi mayor.

Artikel ini telah tayang di detikSport

(adp/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads