Fair Play yang Menempuh Banyak Jalan di Piala Presiden 2026

Fair Play yang Menempuh Banyak Jalan di Piala Presiden 2026

Oris Riswan Budiana - detikJabar
Jumat, 07 Agu 2026 20:35 WIB
Persebaya Surabaya menjadi juara Piala Presiden 2026 setelah mengalahkan Persib Bandung di final.
Persebaya Surabaya menjadi juara Piala Presiden 2026 setelah mengalahkan Persib Bandung di final. (Foto: Dokumentasi Piala Presiden 2026)
Bandung -

Laga hanya berakhir dengan skor 1-1 saat di waktu normal ditambah 2x15 menit. Para pemain kelelahan, stamina sudah terkuras, asa juara dipertaruhkan di depan mata.

Situasi itu tersaji di pada laga final Piala Presiden 2026 antara Persib Bandung vs Persebaya Surabaya di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (7/8/2026) malam.

Persebaya unggul lebih dulu lewat gol yang dicetak Ramadan Sananta pada menit 20. Persib menyamakan skor lewat Patricio Matricardi pada menit 24. Namun, pertaruhan terakhir terjadi lewat adu penalti. Tos-tosan harus diambil karena skor 1-1 tak kunjung berubah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sini drama tersaji. Adu penalti yang menguras emosi, bikin jantung dagdigdug, dan melahirkan air mata. Singkatnya, Persebaya kemudian jadi pemenangnya. Adu penalti berakhir 6-5 untuk keunggulan 'Bajul Ijo'.

Dahaga gelar Persebaya berakhir. Trofi Piala Presiden 2026 yang edisi tahun 2025 jatuh ke tangan Port FC (Thailand), kini kembali ke pangkuan klub Indonesia. Itu jadi gelar Piala Presiden pertama bagi Persebaya yang kini ditangani Bernardo Tavares.

ADVERTISEMENT

Trofi kemudian digenggam, diangkat tinggi-tinggi oleh para pemain Persebaya, dan itu jadi puncak di balik penyelenggaraan Piala Presiden 2026. Hadiah berupa uang Rp8 miliar pun berhak jadi milik Persebaya.

Di sisi lain, Persib jadi runner-up dan berhak atas hadiah Rp3,5 miliar. Persija Jakarta sebagai peringkat ketiga meraih Rp2,5 miliar dan Arema FC di peringkat keempat Rp1,5 miliar.

Pelatih Bernardo Tavares pun semringah karena bisa menghadirkan gelar perdana bagi Persebaya. Terlebih, gelar itu digenggam setelah cukup panjang Persebaya puasa.

"Kami membawa pulang trofi, trofi Piala Presiden pertama untuk Persebaya. Setelah 22 tahun tanpa trofi besar, penantian itu akhirnya berakhir," ujar Bernardo Tavares.

Di sisi lain, Persib tak menggerutu menjadi runner-up. 'Maung Bandung' dengan lapang dada menerima kekalahan dan memandang Persebaya lebih berhak menang.

"Selamat untuk Persebaya yang berhasil menjadi juara. Saya pikir mereka adalah tim yang sangat bagus sepanjang turnamen dan memang pantas menjadi juara," kata pelatih Persib, Igor Tolic.

Pesepak bola Persib Bandung Patricio Martin Matricardi berselebrasi setelah mencetak gol ke gawang Persebaya Surabaya pada final Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (6/8/2026). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra WibowoDuel pemain Persib Bandung dan Persebaya Surabaya. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)

Fair Play Tak hanya di Pertandingan

Dalam pertandingan sepak bola, fair play umumnya dikaitkan dengan perilaku pemain. Menghormati keputusan wasit, membantu lawan yang cedera, menghindari tindakan kasar, dan menerima hasil pertandingan merupakan sejumlah bentuk sportivitas yang mudah terlihat.

Namun, dalam konteks penyelenggaraan sebuah turnamen, fair play memiliki cakupan yang lebih luas. Transparansi, tata kelola, penghormatan terhadap peserta, hingga tanggung jawab kepada masyarakat juga menjadi bagian dari bagaimana sebuah kompetisi membangun kepercayaan.

Hal tersebut menjadi salah satu poin yang disampaikan Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, dalam pidato penutupan turnamen. Ia menempatkan kepercayaan sebagai salah satu nilai utama yang ingin dibangun melalui penyelenggaraan Piala Presiden.

Kepercayaan itu yang membuat Piala Presiden bisa digelar hingga delapan kali sejak 2015. Turnamen ini bahkan dalam dua edisi terakhir menghadirkan tim dari luar negeri sebagai pesertanya.

"Pada akhirnya, nilai yang kita representasikan adalah kepercayaan. Kepercayaan tidak mungkin dibangun dalam semalam, apalagi dalam olahraga. Ada proses yang harus diikuti, tata kelola yang baik, transparansi, serta konsistensi delapan kali menyelenggarakan sebuah turnamen tanpa menggunakan dana APBN, APBD, maupun BUMN," ujar Maruarar.

Pernyataan tersebut berkaitan erat dengan aspek transparansi dalam penyelenggaraan turnamen. Salah satu bentuknya terlihat dari keterlibatan auditor independen.

Panitia Piala Presiden 2026 kembali menunjuk PricewaterhouseCoopers (PwC) sebagai auditor independen untuk kedelapan kalinya secara berturut-turut. Kehadiran auditor menjadi bagian dari mekanisme untuk memastikan proses keuangan turnamen dapat diperiksa secara independen.

"Kalau kita mau transparan, tentu harus ada ukurannya, dan ukurannya PwC dengan standar internasional," ucap Maruarar.

Dengan cara itu, sportivitas tidak hanya dilihat dalam permainan di lapangan. Dalam penyelenggaraan turnamen, sportivitas juga berkaitan dengan bagaimana proses dikelola dan dipertanggungjawabkan.

Pesepak bola Persib Bandung Patricio Martin Matricardi berselebrasi setelah mencetak gol ke gawang Persebaya Surabaya pada final Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (6/8/2026). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra WibowoDuel pemain Persib Bandung dan Persebaya Surabaya. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)

Dampak Turnamen

Aspek lain terlihat dari cara penyelenggara memberikan penghargaan kepada para peserta. Piala Presiden 2026 tidak hanya memberikan hadiah kepada empat tim yang mencapai semifinal, tetapi juga memberikan apresiasi kepada klub-klub yang ambil bagian dalam turnamen.

Setiap klub memang mendapatkan nilai penghargaan yang berbeda sesuai pencapaiannya. Namun, seluruh peserta tetap menjadi bagian dari rangkaian kompetisi yang membentuk Piala Presiden 2026.

Dampak turnamen juga tidak berhenti di klub peserta. Sebanyak 165 pelaku UMKM dilibatkan di tiga kota penyelenggara, yang di antaranya mencakup sektor hotel, rumah makan, transportasi lokal, hingga pedagang atribut klub.

Kehadiran penonton dan tim peserta membuat aktivitas ekonomi ikut bergerak di sekitar lokasi pertandingan, bahkan di luar lokasi pertandingan. Sehingga, penyelenggaraan turnamen memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar hasil pertandingan.

Sebagai gambaran, perputaran hanya untuk total transaksi UMKM di sekitar stadion saja mencapai Rp1,5 miliar hingga di fase grup dan semifinal. Ini angka yang tak bisa dibilang kecil untuk turnamen yang digelar beberapa hari saja.

"(Angka Rp1,5 miliar) ini meningkat jauh, meningkat 27% dari turnamen Piala Presiden 2025 lalu," ujar Ketua OC Piala Presiden 2026, Tsamara Amany, sehari sebelum laga final digelar.

Aspek tersebut menjadi bagian lain dari gagasan fair play dalam Piala Presiden 2026. Sebuah kompetisi tidak hanya berhubungan dengan peserta yang bertanding, tetapi juga dengan masyarakat yang berada di sekitar penyelenggaraan.

Dody jadi salah seorang yang merasakan dampak ekonomi dari hadirnya Piala Presiden di Bandung. Biasanya, Dody berjualan pempek secara online. Namun saat fase grup Piala Presiden digelar di Stadion Si Jalak Harupat, ia menjadi salah satu yang ikut membuka lapak untuk menjajakan dagangannya.

Lapaknya gratis, calon pembeli hadir. Yang tak kalah penting, ia bisa memperkenalkan produknya, Pempek Kirana, kepada para pengunjung agar ketagihan dan jadi pelanggan setelah Piala Presiden usai.

"Selaku UMKM terbantu banget dengan kita diajak berkontribusi di sini. Jadi di sini kita difasilitasi, gratis, kesempatan kita juga untuk mengenalkan produk," ujar Dody.

Hal serupa terlihat dalam program lingkungan bertajuk 'Datang Bersih, Pulang Bersih'. Panitia bersama komunitas lokal melakukan pemilahan sampah untuk kemudian didaur ulang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Komunitas yang terlibat adalah Metamorfosa, Rumah Bintang Bandung, Nol Sampah Surabaya, dan Trash Ranger Bali. Kehadiran mereka menjadi jaminan jika sampah tak akan berserakan di mana saja. Sampah justru pada akhirnya dikumpulkan hingga diolah sedemikian rupa agar tak jadi petaka.

Infografis fair play di Piala Presiden 2026.Infografis fair play di Piala Presiden 2026. (Foto: Olah visual menggunakan ChatGPT)

Bukan hanya Milik Persebaya

Piala Presiden 2026 memiliki satu pemenang utama. Persebaya mengakhiri turnamen dengan trofi setelah melewati pertandingan final yang ditentukan melalui adu penalti.

Namun, ukuran keberhasilan sebuah turnamen tidak hanya berada pada siapa yang menjadi juara. Cara kompetisi dikelola, bagaimana peserta diperlakukan, serta sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat menjadi bagian lain yang ikut menentukan nilai sebuah penyelenggaraan.

Di lapangan, fair play terlihat dari bagaimana pemain menghormati permainan dan lawannya. Di luar lapangan, prinsip yang sama dapat diterapkan melalui transparansi, tata kelola, penghargaan terhadap peserta, pemberdayaan masyarakat, hingga kepedulian terhadap lingkungan.

Piala Presiden 2026 menunjukkan proses tersebut membutuhkan waktu dan konsistensi. Kepercayaan, seperti disampaikan Maruarar, tidak lahir dalam semalam.

Persebaya akhirnya membawa pulang trofi dan hadiah Rp8 miliar, hadiah terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Presiden. Sementara itu, turnamen meninggalkan pekerjaan yang lebih panjang bagi penyelenggara dan sepak bola Indonesia, yaitu menjaga agar kepercayaan yang dibangun tidak berhenti setelah pertandingan berakhir.

Trofi menjadi milik Persebaya. Namun, jika nilai-nilai fair play, transparansi, hingga manfaat sosial terus dijaga, dampak akhirnya dapat dirasakan jauh lebih banyak orang daripada mereka yang berdiri di podium juara.

Persebaya menjadi juara, tapi pemenang dari Piala Presiden 2026 sebenarnya tak terhingga. Ada banyak yang mendapatkan kebahagiaan, manfaat, roda ekonomi berputar, hingga dampak lain yang tak tersorot kamera.

Itu jadi esensi kemenangan yang menutup Piala Presiden 2026 meski tanpa panggung dan trofi. Kemenangan tanpa piala, tapi dirasakan manfaatnya. Kemenangan itu milik bersama berbagai pihak, termasuk bagi yang hanya bisa menyaksikan Piala Presiden di layar kaca.

Sementara itu, Maruarar mengakui jika Piala Presiden belum 100 persen sempurna. Kekurangan masih ada dan itu jadi tanggung jawabnya.

"Saya menyampaikan permohonan maaf tentunya masih banyak kekurangan. Kalaupun ada kekurangan, itu adalah tanggung jawab kami," ucapnya.

Maruarar lalu menyampaikan sebuah harapan besar. Harapan itu adalah sisa 'warisan' dari Piala Presiden 2026 yang sudah tuntas digelar.

"Semoga Piala Presiden tidak hanya melahirkan seorang juara, tapi juga melahirkan harapan. Karena kita doakan, seperti harapan Bapak Presiden Prabowo dan harapan seluruh rakyat Indonesia, Timnas Merah Putih sampai di Piala Dunia," tuturnya.

Infografis Piala Presiden 2026.Infografis Piala Presiden 2026. Foto: Olah visual menggunakan ChatGPT
(orb/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads